Empat Konsep Pesantren Merawat Peradaban Islam

Empat Konsep Pesantren Merawat Peradaban Islam

25 Januari 2023
458 dilihat
3 menits, 6 detik

Tsaqafah.id Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia. Keberadaanya sangat berpengaruh bagi kehidupan sosial masyarakat.

Sebagai lembaga pendidikan yang sudah lama berkembang di Indonesia, selain telah berhasil membina dan mengembangkan kehidupan beragama di Indonesia pesantren juga ikut berperan dalam menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat Indonesia serta ikut berperan aktif dalam upaya mencerdaskan bangsa.

Sebagai konsekuensi keikutsertaan pesantren dalam laju kehidupan kemasyarakatan yang bergerak dinamis, di pesantren selain berkembang aspek pokoknya, yaitu pendidikan dan dakwah juga berkembang hampir semua aspek kemasyarakatan, seperti ekonomi dan kebudayaan

Hal ini senada dengan konsep agama Islam bahwa dalam mendakwahkan Islam, harus mencakup 4 konsep, yakni Din al-Wahyi, Din al-Ilmi, Din al-Insani, Din al-Islahi. Semua konsep tersebut sudah diterapkan oleh pesantren dalam metode pembelajarannya.

Baca Juga: Gen Z dan Paradoks Ustaz Didikan Google

Din al-Wahyi

Secara bahasa din al-wahyi memiliki arti agama wahyu. Melihat sejarahnya, agama Islam dari zaman ke zaman memang disebarkan oleh para nabi yang mendapatkan risalah langit.

Ajaran Islam selalu menyambung, risalah pertama turun kepada Adam, diteruskan risalah Idris, disambungkan dengan risalah Nuh, lalu datang millah Ibrahim dan bersambung dengan risalah Taurat, diteruskan risalah Injil dan ditutup serta disempurnakan dengan risalah Al-Quran.

Setiap mata rantai risalah akan membentuk lingkaran sejarah sebagai “zona relevansi”. Para nabi akan menyerukan datangnya nabi dan rasul pembaharu untuk melanjutkan estafet risalahnya.

Al-Quran sebagai penyempurna dari risalah anbiya yang sebelumnya menjadi pedoman hidup bagi muslim era sekarang ini. Semua ajaran agama dari syariat, akidah, akhlak, dan semua ketetapan Allah berasal dari Al-Quran.

Sebagai pelengkapnya ada juga ajaran agama Islam yang berasal dari sunnah Nabi. Rasulullah sendiri pada banyak kesampatan menyampaikan ajaran Islam melalui perilaku beliau. Hal ini bukan berarti Rasulullah mengajarkan Islam atas kehendaknya sendiri, akan tetapi sudah digariskan dalam Al-Quran Surah An-Najm ayat 4 yang artinya “ Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.

Baca Juga: Potret Ekonomi Islam: Refleksi Pemikiran Karl Marx

Din at-Ta’limi

Selanjutnya dalam rangka mengembangkan dan memperdalam risalah anbiya untuk selanjutnya dipraktekkan dalam kehidupan, Islam mewajibkan bagi seluruh Muslim untuk belajar.

Kewajiban untuk belajar pada hakikatnya merupakan bagian dari risalah itu sendiri. Ini bisa dilihat dari hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang artinya “mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan”. Dari sabda Rasul disamping bisa kita ambil kesimpulan bahwa belajar adalah sebuah kewajiban dan menjadi kebutuhan pokok bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.

Mengapa demikian? Jelas jawabannya adalah sebagai langkah utama dalam memahami dan wahyu kenabian kita perlu belajar, ringkasnya seperti ini ketika kita tahu bahwa ada isi Al-Quran dan Hadis Nabi yang mewajibkan kita untuk sholat, maka kita perlu belajar bagaimana cara melaksanakan solat tersebut.

Lebih luasnya lagi ketika kita akan belajar solat maka yang menjadi acuan belajar kita adalah kitab-kitab turats yang sebagian besar berbahasa arab dan ditulis dengan huruf arab gundul, dengan kata lain ketika akan belajar solat dari turats kita juga perlu kaidah gramatika Bahasa Arab mulai dari Nahwu, Sharaf, Balaghoh dan lain-lain.

Permisalan diatas cukup menjadi bukti bahwa Islam bukanlah agama yang membiarkan para penganutnya dalam kejumudan. Islam mengarahkan para penganutnya untuk terus belajar agar semua ketetapan dari Allah Subhanahu Wata’ala yang diwahyukan kepada para nabi bisa mereka amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Berkenalan dengan Islam dan Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer

Din al-Insani

Setelah meyakini ketetapan dari Allah Subhanahu Wata’ala yang diwahyukan kepada para nabi lalu dipelajari dengan segala macam ilmu maka akan Hasil dari dua Langkah tersebut adalah ajaran yang menunjukan sisi sisi kemanusiaan dalam Islam.Ketika mempelajari Islam jauh lebih dalam, dapat dipastikan kita akan menemukan bahwa Islam adalah agama kemanusiaan.

Dalam segala ajarannya, Islam akan muncul sebagai agama yang memanusiakan manusia, jadi apabila ada seorang Muslim yang tidak bisa memanusiakan manusia dapat dipastikan ada ajaran Islam yang terlewat oleh dirinya.

Din al-Islahi

Din al-Islahi bisa diartikan sebagai agama yang membenarkan, artinya adalah agama yang memperbaiki. Keyakinan terhadap wahyu yang diturunkan (Din al-Wahyi) dan mempelajarinya dengan semangat ilmu pengetahuan (Din al-Ilmi) akan menghasilkan ajaran kemanusiaan (Din al-Insani). Ajaran kemanusiaan inilah yang akan membenarkan.

Maksud dari membenarkan disini adalah menjadi pioneer dalam kedamaian, bisa juga dimaknai bahwa ajaran agama Islam akan membawa perdamaian atau menjadi pedoman dalam memperbaiki masa depan, tidak meratapi masa lalu. Terlebih menjadi penyemangat hidup dalam menatap masa depan yang akan dilewati, khususnya masa depan yang bermuara di keabadian yakni kehidupan di akhirat kelak.

Profil Penulis
Amarros Afiq Muhammad
Amarros Afiq Muhammad
Penulis Tsaqafah.id
Santri PTYQ Menawan Kudus yang masih betah di pondok meski sudah sewindu lamanya. Untuk sekarang tercatat sebagai mahasiswa FKIP UNS angkatan 2021 (maba) dan sangat tertarik tentang kajian pendidikan. Bisa dihubungi secara daring via akun Instagram @amarrosafiq

3 Artikel

SELENGKAPNYA