Bagaimana Al-Qur’an Menanggapi Kasus Bullying dan Kesehatan Mental?

Bagaimana Al-Qur’an Menanggapi Kasus Bullying dan Kesehatan Mental?

24 Juli 2023
504 dilihat
4 menits, 24 detik

Tsaqafah.idBullying merupakan sebuah tindakan penindasan bahkan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap korban yang dilakukan secara terus-menerus.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”. Surat al-Ra’d [13]: 28.

Dewasa ini isu kesehatan mental marak dibahas di mana-mana. Isu kesehatan mental telah menggerogoti korbannya tanpa memandang usia.

Saat ini kita hidup dalam era globalisasi yang semakin maju, di mana segala hal dapat terselesaikan dalam waktu yang cepat. Metode yang digunakan pun juga terlampau canggih dibandingkan sebelumnya.

Canggihnya teknologi, membuat manusia mau tidak mau harus mengikuti ke arah mana arus tersebut mengalir. Naasnya tidak semua khalayak mampu menerima perubahan zaman dengan baik.

Tak sedikit dari mereka mengalami culture shock, gejala narsistik, adanya kesenjangan sosial dengan sebutan “si kaya” dan “ si miskin”, dan banyak gejala buruk lain yang tentunya membawa pengaruh bagi perubahan hidup mereka.

Baca Juga

Salah satu kasus kesehatan mental yang tengah marak saat ini yaitu kasus bullying. Bullying merupakan sebuah tindakan penindasan bahkan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap korban yang dilakukan secara terus-menerus.

Dalam hal ini, pelaku bullying merasa berkuasa dan lebih kuat dibandingkan orang lain yang mereka anggap lemah. Bullying sudah menjadi rahasia umum yang hingga saat ini menjadi konsumsi hangat publik. Kasus bullying saat ini tidak hanya dapat dilakukan secara langsung antara korban dan pelaku dalam satu tempat.

Jejak digital yang semakin canggih pun dapat dengan mudah memberi akses pelaku bullying untuk melancarkan perbuatannya tersebut, salah satunya penggunaan media sosial.

Namun, dalam hal ini kita tidak dapat menyalahkan peran media sosial dengan segala fiturnya yang canggih. Sebaliknya yang perlu dipertanyakan, bagaimana kesadaran masyarakat dalam menanggapi hal ini?

Baca Juga Puasa Meningkatkan Self Awareness

Kasus bullying tentu akan membawa trauma mendalam bagi korbannya. Hal inilah yang mulai dikaitkan dengan berbagai isu kesehatan mental. Anehnya kesadaran masyarakat terhadap bullying dinilai masih sangat rendah. Tak sedikit dari mereka yang acuh tak acuh dan menganggap isu ini adalah hal yang lumrah.

Mirisnya lagi saat sang pelaku dapat hidup bebas dengan terus melancarkan perbuatannya, sedangkan korban merasa semakin terpojok sehingga tidak dapat hidup dengan tenang.

Pada akhirnya beberapa korban memilih jalan yang salah dengan mengakhiri hidupnya. Melihat hal ini, bagaimana tanggapannya menurut Al-Qur’an? Allah swt berfirman pada surat al-H{ujura>t [49]: 11.[i]

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim”.

Baca Juga Relasi Manusia dan Alam: Melihat Fenomena Melalui Perdebatan Aliran Qadariyah dan Jabariyah

Dalam ayat tersebut secara terang-terangan menjelaskan larangan menghina serta merendahkan seseorang dalam alasan apapun itu. Bullying hukumnya haram, barangsiapa yang merasa menjadi pelaku diharapkan untuk segera memninta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya tersebut.

Lantas bagaimana upaya kita sesama Muslim dalam rangka menjaga kesehatan mental? Bukankah dengan menjaga kesehatan mental dapat berdampak baik bagi generasi selanjutnya?

Konsep Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Ilmu kedokteran serta kesehatan mental dalam Al-Qur’an telah menjelaskan beberapa penyakit mental yang terjadi karena seseorang kurang mendekatkan diri terhadap Al-Qur’an.

Seseorang yang iri terhadap rezeki orang lain, berperilaku riya’ agar dipuji dan mendapatkan perhatian dari orang lain, terlalu berlebih-lebihan terhadap sesuatu (obsesi).

Selain itu timbulnya rasa was-was dan cemas berlebihan dalam diri seseorang, hal ini biasa terjadi oleh beberapa remaja yang mencemaskan tentang arah masa depan mereka.

Hal ini muncul karena mereka ragu akan takdir serta alur yang telah diatur oleh Allah swt. Rasa ragu tersebut muncul karena mereka kurang memahami apa isi yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Baca Juga

Bagaimana mereka bisa ragu, sementara Allah swt telah berfirman dalam Al-Qur’an “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu dengan al-Qadar (takdir)”, surat al-Qamar [54]: 49. Lantas perihal apalagi yang perlu dicemaskan tentang kehidupan kita di masa depan. Tugas kita sebagai manusia hanya berusaha sebaik mungkin serta beribadah demi mendapat ridho Allah swt.[ii]

Quraish Shihab dalam tafsirnya, menanggapi beberapa ayat yang memiliki keterkaitan dengan kesehatan mental. Salah satunya penafsiran surat al-Baqarah [2]: 155, tentang bentuk kesabaran seorang hamba dalam menghadapi segala cobaan.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar”.

Makna lafaz walanabluwannakum menyatakan sebuah kesungguhan bahwa Allah swt pasti akan memberi ujian pada manusia. Ujian tersebut dapat berupa kesusahan, kecemasan, keberatan, sebagaimana telah tersirat dalam ayat tersebut yakni sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Semua ujian tersebut dapat membuat manusia merasa dalam keadaan yang sulit bahkan putus asa.[iii]

Menjaga Kesehatan Mental ala Al-Qur’an

Setelah melihat beberapa kasus serta isu kesehatan mental yang beredar, maka kita sebagai manusia hendaknya selalu ingat kepada dan untuk siapa kita hidup. Selalu meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang diperoleh, hal ini tentu termaktub dalam Al-Qur’an surat al-D{uh}a> [93]: 11. “Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur)”.

Tidak mudah berputus asa dan memahami seberapa terhormatnya suatu jiwa dalam Islam. Allah berfirman dalam surat al-An’a>m [6]: 151, “Dan janganlah membunuh dirimu, sesungguhnya Allah swt adalah maha Penyayang kepadamu”.[iv]

Maka semakin dekat seseorang dengan penciptanya akan semakin terjaga ketentraman jiwanya selain itu ia akan lebih mudah menerima dan mengendalikan kekecawaan serta kegagalan dalam hidup.

Ia akan berpikir bahwa semua kesulitan dan kemudahan datangnya dari Allah swt, maka mereka akan percaya dengan beribadah dan mendekatkan diri pada Allah swt semua hal yang didapat terlihat indah.


EndNote

[i] Winda Fitri dan Nadila Putri, “Kajian Hukum Islam Atas Perbuatan Perundungan (Bullying) Secara Online di Media Sosial”, Jurnal Pendidikann Kewarganegaraan Undiksha, Vol 9 No 1, Tahun 2021, 147.

[ii] Samain dan Budihardjo, “Konsep Kesehatan Mnetal dalam al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Adversity Quotient Perspektif Tafsir al-Misbah”, Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol 1 No 1 Tahun 2020, 23.

[iii] Ibid.,,,25.

[iv] Imam Zarkasyi Mubhar, “Bunuh Diri dalam al-Qur’an”, Jurnal al-Mubarak, Vol 4 No 1 Tahun 2019, 47.

Profil Penulis
Nabila Putri Nuari
Nabila Putri Nuari
Penulis Tsaqafah.id

1 Artikel

SELENGKAPNYA