Assassin didirikan oleh Hasan Assabah, seorang pemimpin sekte Nizari Ismailiyah, pada akhir abad ke-11 di pegunungan Alamut, Persia. Hasan memiliki nama lengkap Hasan Bin Ali Bin Muhammad Bin Ja’far Bin Sabbah Al-Himyari, lahir pada tahun 432 H/1039 M, di sebuah wilayah bernama Ray. Adapun pendapat lainnya, disebutkan bahwa Hasan merupakan putra dari seorang imam Syi’ah, bernama Ali bin Sabbah Al-Himyari.
Tsaqafah – Mereka dijuluki sebagai pembunuh yang berdarah dingin dan begitu haus akan darah. Hal ini telah menjadi sebuah ciri khas dan kebiasaan dari Assassin, individu yang menjual dirinya demi uang dan tidak memperdulikan keselamatan pribadi maupun orang lain. Para Assassin serupa hantu yang mampu menyamar menjadi siapa saja, meniru sikap, pakaian, bahasa, kebiasaan, dan perilaku berbagai bangsa.
Di balik penyamaran mereka, tersembunyi belati yang tajam, siap menebar kematian kapan saja dan di mana saja mereka hendaki. Mereka berupa bayangan yang sulit diprediksi, sekelompok pembunuh bayaran yang terkutuk.
Asal Usul Assassin
Kelompok Assassin adalah pembunuh radikal yang dikenal kejam dan mampu beraksi secara diam-diam seperti dalam penyamarannya yang serupa hantu. Mereka berasal dari sekte Ismailiyah, cabang sempalan Syi’ah, yang memiliki persekutuan besar dengan kelompok Sunni dan menjadikannya sebagai salah satu konflik perselisihan terbesar dalam Islam. Brocardus, mendefinisikan Assassin sebagai pembunuh rahasia yang sangat terampil dan berbahaya. Mereka digambarkan sebagai ancaman dari Timur. Meskipun demikian, Brocardus tidak pernah mengaitkan mereka dengan agama, tujuan politik, atau bangsa tertentu. Dalam pandangan Brocardus mereka hanyalah sekelompok pembunuh brutal yang membuat perlindungan ekstra menjadi kebutuhan.
Baca Juga: Jejak Imam Bukhari: Dari Kehidupan Pribadi hingga Shahih Bukhari
Assassin, kata ini telah menjadi bahan diskusi panjang. Dalam bukunya, Bernard Lewis menyebut istilah ini berasal dari kata arab hasysy yang berarti narkotika. Dalam versi lain, dia menyebutkan bahwa kata ini berkembang dari assassini, assissini, heyssisini. Dalam konteks perang salib, istilah ini merujuk pada hasyisyiyyin atau hasysyasy, yang merupakan bentuk jamak dari hasyisyiyyyin.
Assassin didirikan oleh Hasan Assabah, seorang pemimpin sekte Nizari Ismailiyah, pada akhir abad ke-11 di pegunungan Alamut, Persia. Hasan memiliki nama lengkap Hasan Bin Ali Bin Muhammad Bin Ja’far Bin Sabbah Al-Himyari, lahir pada tahun 432 H/1039 M, di sebuah wilayah bernama Ray. Adapun pendapat lainnya, disebutkan bahwa Hasan merupakan putra dari seorang imam Syi’ah, bernama Ali bin Sabbah Al-Himyari.
Hasan dikenal sebagai orang yang cerdas dan ambisius, dengan pemikirannya yang juga radikal, ia berhasil menarik banyak pengikut. Sosoknya sering digambarkan sebagai pemimpin yang keras dan mendapatkan julukan “Orang Tua Dari Gunung”.
Kekejaman Kelompok Assassin
Sekelompok Assassin ini memiliki sebuah praktik ritual yang sangat menjijikan bagi penganut agama Kristen maupun Islam. Diceritakan dari seorang utusan kaisar Frederick Barbarosa yang dikirim ke Mesir dan Suriah pada tahun 1175, menggambarkan Assassin sebagai orang-orang yang tanpa hukum, pemakan daging babi dan pelanggar norma agama. Mereka tinggal di pegunungan dengan benteng-benteng kokoh, tanah yang subur, dan menggantungkan hidup pada peternakan.
Baca Juga: Al-Kindi : The First Moslem Philosopher
Assassin sering kali membunuh target penting, seperti pemimpin politik atau penguasa yang mereka anggap musuh. Tindakan mereka sering menimbulkan rasa takut di kalangan masyarakat biasa atau sekelas penguasa dikarenakan kekejamannya. Kesetian mereka yang fanatik terhadap pemimpin menjadi kekuatan utama. Sebelum menjalankan misi, mereka dikabarkan mengonsumsi narkotika untuk menghilangkan rasa takutnya. Beberapa sumber mengatakan bahwa pembunuhan yang mereka lakukan seringkali memiliki tujuan politik dan agama.
Assassin dikenal sebagai kelompok yang epik dalam melancarkan seni penyamarannya untuk mendekati target yang diincar. Mereka mampu menyamar sebagai pedagang, pengemis, atau bahkan sebagai pelayan istana, dari sinilah mereka disebut hantu dalam segi penyamarannya. Dengan sebilah belati emas sebagai senjata utama, mereka seringkali menyerang di tempat umum untuk menciptakan efek psikologis yang mendalam pada musuh mereka. Salah satu peristiwa yang terkenal, yakni ketika kaum Assassin membunuh Conrad dari Montferrat, Raja Kerajaan Latin Yerusalem, di depan umum. Pembunuhan ini mempertegas reputasi mereka sebagai algojo yang mampu menjangkau siapa saja tanpa pandang bulu dan kapan saja yang mereka kehendaki.
Hadirnya kelompok Assassin ini menciptakan kekuatan yang meluas di kalangan para pemimpin politik dan agama, baik agama Islam maupun Kristen. Sering kali para pemimpin dan raja memilih membayar kepada pemimpin mereka sebagai perlindungan daripada harus menjadi korban belati emas mereka. Reputasi kelompok Assassin yang mengerikan tidak hidup dalam sejarah, tetapi juga berkembang menjadi legenda yang mencengkeram imajinasi orang di Barat. Dalam catatan Marco Polo, kelompok ini disebut sebagai kelompok yang memadukan kekejaman dan siasat licik dalam strategi mereka.
Baca Juga: Dinamika Penetapan Hukum Islam Dalam Menjawab Masail Furu’iyah (2): Hubungan Illat Hikmah dan Sabab
Di balik kekejaman kelompok Assassin, terdapat strategi manipulasi psikologis dan religius yang kompleks. Namun, kisah Assassin tidak hanya soal darah dan belati. Tetapi, kata Assassin kini digunakan secara umum untuk menyebut pembunuh, terutama yang melakukan aksinya dengan notif politik dan fanatisme. Mereka bukan sekedar kelompok pembunuh, tetapi juga bagian dari dinamika sosial, politik, dan religius yang membentuk sejarah Islam pada masa itu.
Meskipun kelompok Assassin telah lama hilang, tapi warisan mereka tetap hidup dalam mitos dan bahasa. Kisah mereka selalu menjadi pengingat tentang bagaimana kekuasaan dan fanatisme dapat menciptakan ancaman yang tak terlupakan. Lembah Alamut, dengan segala misterinya, menjadi simbol perjuangan melawan dominasi dan ketidak adilan. Dari lembah Alamut hingga halaman-halaman buku sejarah, kelompok Assassin sebagai simbol dari kegelapan yang mengintai di balik bayangan kekuasaan.

