Lebaran dan Panggung Teater

Lebaran dan Panggung Teater

04 Maret 2025
215 dilihat
2 menits, 34 detik

Lebaran hampir selalu menjadi panggung teater setiap orang untuk menampilkan citra terbaik. Ramadan bah persiapan dan latihan untuk menunjukkan teater kehidupan terbaik.

Sebelum ke situ, aku ingin bercerita tentang hampir satu dekade silam, aku menikmati Ramadan pertamaku di perantauan dengan beragam tradisinya, terutama ketika waktu ngabuburit. Saat itu, aku tinggal di sebuah daerah dekat Alun-Alun Kidul Yogyakarta, tempat tradisi Ramadan terasa begitu hidup. Setiap sore, suasana jalanan penuh dengan pedagang takjil yang menjajakan aneka makanan, dari gorengan hingga es buah yang menyegarkan. Ini pengalaman pertama merasakan kemeriahan Ramadan di kota orang, jauh berbeda dari suasana buka puasa di rumah.

“Ramai sekali puasa di sini,” gumamku dalam hati. Ini pengalaman pertamaku menikmati suasana Ramadan yang begitu ramai. Tentu suasana ini lebih ramai dari masjid depan rumah yang menyediakan takjil gratis berupa kue basah, gorengan, dan sesekali es buah. 

Kesenangan ketika bulan Ramadan bagi seorang anak kecil yang tengah belajar puasa adalah mendengar bedug adzan magrib. Apalagi ketika di meja makan tersaji aneka makanan. Hidup di daerah dataran rendah, tentu menu es adalah keharusan yang harus ada. Sebenarnya, ayah dan ibu sudah memperingatkan untuk tidak meminum es terlebih dahulu. “Agar perutmu tak kaget menerima makanan dingin, setelah seharian puasa,” begitu katanya. Tapi es adalah bentuk kesenangan yang sudah dinantikan anak kecil yang sedang belajar puasa.

Selain makanan yang tersaji di meja makan rumah, tentu menghabiskan waktu menjelang magrib bersama teman-teman menjadi momen tak terlupakan. Belakangan ini istilah ini dikenal dengan ngabuburit. Bagi anak-anak, ngabuburit terbaik adalah bermain di masjid sambil menanti takmir membagikan takjil gratis. 

Baca juga: Salah Parkir

Tak lupa buku ‘kegiatan bulan Ramadan’ harus dibawa. Agar tak ketinggalan tanda tangan imam saat sholat tarawih. Sebenarnya ada kolom yang harus diisi. Yakni kolom ceramah. Tapi aku tak terlalu menyukainya. Speaker masjid itu kurang bagus menurutku. Ketika imam tarawih ceramah, suaranya tak terlalu terdengar jelas. Biasanya aku menulis seadanya saja. Toh sepertinya tidak dibaca betul oleh guruku.

Itu tadi kesenangan bocah SD. Menjelang usia dewasa, kesenangan saat bulan Ramadan adalah saat-saat berburu takjil. Baik takjil yang dijual di kanan-kiri jalan itu atau takjil yang dibagikan gratis di masjid-masjid. Saat hari pertama puasa, teman-temanku saling PAP (post a picture) di grup whatsapp kelas, tentang menu apa saja yang mereka berhasil dapatkan dari masjid. Bagi anak perantauan, tentu ini adalah perbaikan gizi. Makanan yang disediakan oleh masjid ini jauh lebih enak dari takjil yang aku dapat di masjid depan rumah.

Baca juga: Ketika Bocah Masjid Bertemu Jama’ah Senior

Standar kesenangan akan semakin terlihat ‘ruwet’ memasuki usia dewasa. Kesenangan Ramadan bukan soal ibadah atau makanan, tapi tentu mental dan finansial. Ramadan bah persiapan memasuki panggung teater sesungguhnya, yakni lebaran.

Kesenangan sudah tidak lagi sebatas kebutuhan pribadi, tetapi juga kebutuhan sosial. Tentu hal ini mengingatkan pada teori Dramaturginya Erving Goffman. Dramaturgi mengajarkan bahwa setiap orang memiliki panggung teaternya. Kita seperti punya front stage (panggung depan) di mana kita menampilkan diri sesuai ekspektasi orang lain, dan back stage (panggung belakang) di mana kita menjadi diri sendiri dengan keadaan apa adanya.

Menjelang Lebaran, banyak orang sibuk memperbaiki front stage mereka. Beli baju baru, update pencapaian hidup, menyiapkan jawaban buat pertanyaan keluarga dan tetangga. Semua ini dilakukan supaya citra diri terlihat baik di mata orang lain. Padahal kondisi di balik layar (back stage) hidup bisa saja lagi berantakan—misalnya dompet tipis karena THR habis, atau kerjaan belum stabil. Lebaran adalah panggung teater.

Namun, ramadan dan lebaran sepertinya akan sangat disayangkan jika hanya mengurusi persoalan front stage dan back stage. Apa tidak lebih baik sekarang, buka media sosial, cari konten yang berisi kiat-kiat menghadapi keruwetan lebaran. Eh sama aja deng. Terserah lu dah.

Profil Penulis
Hafidhoh
Hafidhoh
Penulis Tsaqafah.id

23 Artikel

SELENGKAPNYA