Tsaqafah.id- Sepak bola itu bagaikan agama atau kepercayaan, dan tim atau klub bola itu bagaikan ormas-ormasnya. Orang yang sudah mendeklarasikan diri menjadi fans bola klub tertentu bah jamaah ormas yang siap sedia membela mati-matian meskipun sedang bapuk. Bukan begitu?
Meskipun perempuan, aku menyukai olahraga sepak bola. Tidak ada masalah bukan? Seperti laki-laki yang menggeluti dunia ‘macak’, seharusnya tidak ada masalah jika ada perempuan yang menjadi pesepak bola.
Berbicara tentang sepak bola, apa tim favoritmu? Kalau aku, Chelsea, satu-satunya tim bola di London yang punya trophy UCL. Aku tidak ingat persis, bagaimana aku jatuh cinta pada tim ini. Sedikit aku mengingat ceritanya, dahulu tepat saat bulan Ramadan, ayahku pernah membangunkanku sahur dengan jurus, “Fid, tangi! Onok Chelsea main neng TV (Fid, bangun! Ada Chelsea main di TV)”.
Kalimat ini seperti jurus yang ampuh. Anak kecil usia kurang lebih 7 atau 8 tahun itu segera bergegas bangun menuju ruang TV. Piring yang berisi nasi lengkap dengan lauknya itu sudah dalam genggamannya. Mata fokus ke TV. Sahur bocah 8 tahun tanpa drama.
Aku hidup di sebuah kota tak jauh dari kota Pahlawan, Surabaya. Tentu posisi geografis ini membuat sebagian besar orang di sekitarku adalah fans Persebaya alias Bonek. Aku masih ingat, almarhum kakekku memutar radio yang menyiarkan pertandingan Persebaya dengan mengeraskan suaranya dengan bantuan speaker corong. Dahulu, anak kecil hingga dewasa di sekitar rumahku banyak yang mengenakan jersey (tidak ori) tim Bajul Ijo. Bahkan ada warung kopi kecil yang diberi nama Warkop Bonek.
Baca juga: Lebaran dan Panggung Teater
Berbicara sepak bola, tentu tidak ada habisnya. Ia lebih dari 90 menit plus additional time di atas lapangan. Di Brazil misalnya, ada ungkapan football above religion or football as religion. Tak heran jika negara ini gila bola dan banyak menghasilkan pemain bola top dunia.
Di Indonesia, tentu dengan berbagai keunikannya. Pada 2010 misalnya, 350 anak yatim menggelar doa bersama agar Piala AFF menjadi milik Indonesia. Tapi sayangnya, Indonesia harus mengakui keunggulan Malaysia di final.
Sepak bola disebut seperti agama karena fanatisme tinggi para suporternya dan rutinitas menonton pertandingan yang menyerupai pelaksanaan suatu ibadah.
Seorang yang mengklaim diri menjadi fans suatu tim bola, hampir mustahil ia akan pindah ormas bola. Seperti jika kamu adalah NU, tentu kamu sulit jika harus pindah menjadi anggota ormas Muhammadiyah begitu juga sebaliknya.
Baca juga: Kontroversi Laga Indonesia Vs Bahrain Perspektif Al-Qur’an
Sebagai fans Chelsea yang sedang bapuk bertahun-tahun ini, tentu aku tidak menyalahkan tim yang bermarkas di Stamford Bridge ini. Aku akan menyalakan perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan owner terbaik tim ini, Roman Abramovich harus menjual klub karena ia berasal dari Rusia. Sejak pergantian pemilik, tim ini sepertinya sulit untuk menjadi juara. Begitu juga dengan adik ku yang dulunya fans MU. Karena tim favoritnya ini tak kunjung menang dan juara, akhirnya ia berganti menjadi fans Real Madrid. Sayangnya, aku masih mendapatinya menonton MU.
Oleh sebab itu, kawan-kawan, jangan mudah percaya jika ada politikus yang tiba-tiba berganti tim sepak bola. Kesetiaan terhadap klub biasanya mengakar kuat dalam diri seorang suporter, sehingga perubahan mendadak semacam itu terasa janggal. Kecuali ada kepentingan tertentu yang tersembunyi—ada batu di balik udang.

