Terkadang, banyak bertanya adalah hal yang menyebalkan bagi yang ditanya. Saya sering melontarkan pertanyaan basa-basi kepada beberapa teman. Tetapi saya juga sering berlagak goblok ketika ada yang bertanya kepada saja. Sampai-sampai salah seorang teman berkata,”banyak nanya lu!”.
Bertanya kadang tidak selalu identik dengan ingin mengetahui sesuatu, ada kalanya ia hanya formalitas agar obrolan tetap hidup. Tetapi jika level bertanya cukup tinggi, tentu yang ditanya akan merasa sebal.
Omon-omon tentang bertanya, jadi ingat dialog antar Ali bin Abi Thalib dengan orang Khawarij. Dialog ini bisa dibaca di Kitab Ushfuriyah.
Orang-orang Khawarij ketika mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku adalah kota ilmu. Sedangkan Ali adalah pintu kota ilmu itu,” mereka iri hati. Sekitar 10 orang berkumpul dan berdiskusi. Orang-orang ini hendak menemui Ali dan menanyakan satu pertanyaan yang sama, yakni “Hai Ali! Manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?”
Bayangkan, 10 orang berbeda menanyakan satu pertanyaan yang sama kepada sahabat Ali. Tetapi tentu tidak kaleng-kaleng kepintaran sahabat yang disebut Nabi sebagai pintu kota keilmuan Nabi ini. 10 penanya itu dijawab dengan tenang. Semua jawaban yang dikeluarkan berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan harapan tokoh-tokoh Khawarij, apabila Ali bisa menjawab 10 penanya dengan satu pertanyaan yang sama ini dengan jawaban yang berbeda-beda, maka Ali terbukti pintar.
Guru saya yang membacakan hadis ini saja ikut sebal. Sepuluh orang membombardir satu orang dengan pertanyaan yang sama, tapi minta jawaban yang berbeda.
Baca juga: Agama dan Sepak Bola: Keyakinan dan Identitas
Angeliki Athanasiadou membahas berbagai fungsi pertanyaan dalam tulisannya The Discourse Function of Questions. Terdapat empat macam pertanyaan, pertama, pertanyaan untuk mencari informasi yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dari pendengar yang diasumsikan mengetahui jawabannya.
Kedua, pertanyaan retoris alias tidak benar-benar mengharapkan jawaban. Tetapi jenis pertanyaan ini digunakan untuk menegaskan atau memberikan penekanan pada suatu pernyataan.
Ketiga, pertanyaan ujian atau pemeriksaan. Jenis ini digunakan dalam konteks pendidikan atau interogasi untuk menguji pengetahuan atau tanggung jawab seseorang.
Keempat, permintaan tidak langsung. Yang satu ini digunakan sebagai bentuk permintaan yang lebih sopan, seperti meminta bantuan atau mengajukan saran.
Kalau melihat jenis-jenis pertanyaan ini, sepertinya pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Khawarij kepada Ali bin Abi Thalib adalah jenis pertanyaan ketiga, pertanyaan ujian atau pemeriksaan. Hal ini karena orang-orang ini ingin menguji seberapa pintar Ali sehingga layak menyandang gelar pintu kota ilmunya Nabi.
Baca juga: Lebaran dan Panggung Teater
Nah, menjelang lebaran, tentu akan banyak pertanyaan yang dialamatkan kepada sanak saudara, teman, tetangga, atau kolega. Biasanya jenis pertanyaan ini dimulai dengan kata tanya ‘kapan’.
“Kalau yang ini masuk jenis pertanyaan yang mana ya?”
“Lah ya gak tahu kok tanya saya?”

