Dengan teori, seorang peneliti memiliki peta jalan yang dapat memastikan penelitiannya tetap berjalan dalam kerangka ilmiah, dari awal sampai akhir.
Tsaqafah.id – Sebagai mahasiswa, tentu tidak asing lagi dengan pertanyaan berikut; “Apa teori yang kamu gunakan dalam penelitian ini?” Jika asal menjawab, atau bahkan sama sekali tidak punya, tentunya harus siap mendapat kritik pedas dari dosen.
Tapi, sebenarnya sejauh mana urgensi teori bagi sebuah penelitian ilmiah? Teori atau kerangka teori adalah bagian tidak terpisahkan dalam tradisi penelitian ilmiah. Menurut Creswell (2014), teori itu ibarat lensa teoritis. Dengan teori, seorang peneliti memiliki peta jalan yang dapat memastikan penelitiannya tetap berjalan dalam kerangka ilmiah, dari awal sampai akhir.
Tanpa adanya pembahasan soal teori, maka penelitian seseorang akan dianggap tidak sah secara ilmiah. Sayangnya, menurut Prof. Aji, banyak akademisi, khususnya di Indonesia yang masih salah memahami posisi “teori” dalam penelitiannya. Hal ini disampaikan Ismail Fajrie Alatas, Associate Professor di bidang Studi Timur Tengah, Studi Islam dan Sejarah di New York University, dalam seri Online Summer Course: Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya pekan lalu (1/8/2025).
Dalam seri summer course yang diselenggarakan oleh PCINU Amerika Serikat dan Kanada tersebut, Prof. Aji, sapaan akrab beliau, memberikan diskusi pengantar bagaimana khazanah Antropologi Islam dapat memberikan pemahaman yang “lebih holistik” bagi para peneliti atas apa dan bagaimana forma keberislaman itu terbentuk dan berjalan di suatu masyarakat. Pada sesi dialog dengan peserta lainnya, Prof. Aji menyoroti secara kritis bagaimana budaya akademik di tanah air masih kerap keliru memahami tahapan “pengaplikasian teori” dalam penelitian.
Penelitian Antropologi Islam
Penting untuk dicatat, Antropologi bukanlah ilmu yang bisa direplikasi. Jadi sangat mungkin sekali sejumlah peneliti akan mendapati temuan-temuan yang berbeda, sekalipun apa yang mereka teliti itu sama. Lantas bagaimana jika teori-teori barat hendak digunakan untuk membaca realita keberislaman yang ada di Indonesia.
Sebagai ilmu yang basisnya adalah data empiris, penelitian antropologi mensyaratkan adanya relasi sosial yang dibangun dengan apa yang tengah teliti. Namun, tujuan penelitiannya bukan untuk mengkaji mereka sebagai objek penelitian – yang kebenarannya dapat dimonopoli oleh sang peneliti – tapi sebagai “teman” dimana peneliti justru dapat belajar darinya, bukan sebaliknya. Temuan-temuan empiris yang diperoleh kemudian disederhanakan (disimplifikasi) menjadi sebuah kerangka teoritis yang dapat menjelaskan apa dan bagaimana suatu realitas kehidupan berjalan.
Baca juga Antropologi Islam di Era Digital: Antara Layar dan Kitab
Prof Aji memberikan kritiknya, khususnya bagi para antropolog; “Antropolog yang baik adalah yang bukan menggunakan teori-teori Barat yang sudah ada untuk memahami konteks yang berbeda, tapi justru berangkat dari teori-teori barat tersebut untuk kemudian bertanya apakah (teori) ini adalah satu-satunya cara untuk mengkonseptualisasikan,” jelas Prof. Aji.
Meskipun hingga kini Studi Antropologi Islam masih banyak dipengaruhi dan banyak meminjam teori-teori para Antropolog Barat, seperti Clifford Geertz dan Ernest Gellner, bukan berarti teori-teori barat tersebut bisa secara otomatis digunakan untuk memahami realita keberislaman yang ada di dunia secara universal. Jadi jika ada pertanyaan soal bagaimana jika ternyata teori yang kita gunakan tidak cocok dengan realita yang kita teliti, maka tentu saja jawabannya pasti tidak akan cocok.
Bagaimanapun teori adalah simplifikasi dari realitas. Teori hanyalah modelling yang coba peneliti susun berdasarkan temuan risetnya dengan segala batasan dan konteksnya. Teori yang dihasilkan juga tidak bisa serta merta direplikasi untuk membaca realita yang sama sekali berbeda. Alhasil, alih-alih hanya sekedar mengaplikasikan teori yang sudah ada, para peneliti seharusnya belajar dari teori-teori tersebut untuk kemudian – selama studi lapangan – mempertanyakan teori-teori tersebut.
Karena ketidakcocokan antara teori dengan realitas, Prof Aji menekankan langkah praktis yang harus para peneliti ambil, yaitu men-challenge teori“. Justru karena adanya ketidakcocokan, maka explore ketidakcocokan itu. Jelaskan ketidakcocokan itu! Jelaskan kenapa teori ini tidak sesuai sehingga kita bisa menggunakan teori ini, juga apa yang lebih sesuai-selaras dengan yang anda lihat dalam realitas.
Baca juga Islam dan Jalan Panjang Dekolonisasi Pengetahuan
Jadi jangan malah mencocok-cocokkan realita dengan teori!” tegas Prof. Aji. Memaksakan sebuah teori untuk membaca sebuah realita yang nyatanya berbeda justru akan kian menjauhkan peneliti dari kebenaran. Sebaliknya, yang perlu dilakukan oleh para Antropolog dan pengkaji Studi Islam secara umum adalah menggali ketidakcocokan teoritis tersebut, untuk kemudian mendekontruksinya. Bagi Prof. Aji, usaha tersebut justru adalah the hallmark of creative thesis or dissertation.
Tentu saja usaha menguji teori tersebut bukan tanpa modal. Jika seorang peneliti ingin men-challenge teori dengan baik maka dia harus terlebih dahulu memahami teori tersebut. Sebagaimana pendekatan antropologi yang mendorong diri kita memahami berbagai forma-forma kehidupan yang beragam – termasuk forma keislaman – pendekatan ini juga mengajak kita untuk terus mau belajar dari khazanah pemikiran para Antropolog dengan tetap menjaga daya kritis. Alhasil teori dan penguasaan yang cukup atasnya akan tetap dan selalu penting dalam sebuah penelitian.
Berbagai kerangka teori yang selama ini telah berkembang, baik dari tradisi barat maupun tradisi Islam, adalah bagian dari khazanah ilmu pengetahuan yang mencerminkan upaya manusia berabad-abad untuk lebih memahami forma-forma kehidupan manusia. Tentu saja teori tidak lagi ditempatkan sebagai sebuah sistem kerangka berpikir saklek, yang justru membuat sang peneliti berjarak dengan realita, melainkan sebagai analytical framework yang terbuka dan inklusif. Kesediaan dan keseriusan untuk terus belajar dari berbagai teori-teori yang sudah lebih dulu ada adalah modal berharga bagi setiap peneliti untuk memahami keberagaman realita.
Jika modal tersebut sudah dimiliki, maka para peneliti juga tidak boleh ragu untuk mengemukakan kritiknya. Di Indonesia, problem Inferiority Complex nyatanya memang masih menjangkiti dunia akademik nasional kita. Para peneliti di Indonesia masih banyak yang cenderung mengagung-agungkan secara berlebihan para figur peneliti luar berikut pemikirannya. Bagi Prof. Aji problem Inferiority Complex inilah yang membuat para peneliti kita kerap merasa minder dan tidak berani berpendapat. Oleh karena itu selain modal akademik sebagaimana dijelaskan di atas, keberanian adalah modal yang tidak kalah penting.“Jika anda lebih paham, percaya dirilah, Anda lebih paham kok—pada apa yang anda teliti tersebut,” pungkas Prof. Aji.
Keberanian untuk menguji teori, menyoroti ketidakcocokan dan menawarkan gagasan yang baru inilah manifestasi dari proses belajar juga tanggung jawab akademik yang sudah seyogyanya setiap Sarjana Islam sadari dan jalankan sehari-hari.
Baca juga Menafsir Ulang Islam Kontemporer di Era Digital: Dari Wacana hingga Keterlibatan Generasi Muda

