Gadamer memahami teks bukanlah dengan merekonstruksi makna teks masa silam, akan tetapi dengan upaya peleburan antara teks masa lalu dengan horizon masa kini dari pembaca.
Tsaqafah id — Di era globalisasi ini, manusia menjadi semakin mudah terhubung antara satu sama yang lain. Namun, keberagaman sering kali menimbulkan pergesekan. Kemudian bagaimana Al-Qur’an memandang perbedaan itu?
Apakah ayat-ayatnya bisa kita baca dengan pendekatan baru yang lebih relevan dengan zaman sekarang? Di sinilah hermeneutika Hans-Georg Gadamer menjadi penting.
Hans-Georg Gadamer lahir pada 11 Februari 1900 di kota Marburg, sebuah kota di bagian selatan Jerman. Ia dianugerahi usia panjang, yaitu 102 tahun. Rentang usianya yang lebih dari satu abad ini sungguh merupakan berkat tersendiri bagi dunia ilmu pengetahuan, khususnya dalam ilmu filsafat.
Gadamer meninggal dunia Pada 13 Maret 2002 karena serangan jantung, di rumah sakit Universitas Heidelberg, Jerman. Jenazahnya dimakamkan di kota Heidelberg.
Ia telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting pada abad ke-20, diantaranya keruntuhan tembok Berlin tahun 1989, revolusi Bolshevik di Rusia, terbelahnya Jerman menjadi dua blok, dan yang terakhir peristiwa 11 September 2000.
Gadamer merupakan seorang filsuf Jerman abad ke-20, terkenal sebagai seorang penulis kontemporer dalam bidang hermeneutika yang sangat terkemuka. Lewat karya monumentalnya “Truth and Method“, ia memahami teks bukanlah dengan merekonstruksi makna teks masa silam, akan tetapi dengan upaya peleburan antara teks masa lalu dengan horizon masa kini dari pembaca. Sehingga memunculkan makna baru dari teks silam agar relevan untuk konteks kekinian.
Baca juga Menafsir Ulang Islam Kontemporer di Era Digital: Dari Wacana hingga Keterlibatan Generasi Muda
Inilah yang ia sebut sebagai “fusion of horizons” atau peleburan cakrawala. Menurut Gadamer, pembaca selalu membawa latar belakang sejarah, budaya, dan prapemahaman tertentu.
Maka, proses menafsir menjadi upaya dialogis antara pemahaman pembaca dan makna yang dikandung teks. Bukan sekadar menggali arti literal, tetapi mencari relevansi makna dalam konteks hari ini.
QS. Al-Hujurat:13
:يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
Ayat ini sering dijadikan rujukan dalam diskursus kesetaraan, baik etnis, bangsa, maupun gender. Dalam pandangan tafsir klasik, seperti yang disampaikan Mujahid, “bangsa” merujuk pada garis keturunan jauh, dan “suku” pada nasab yang lebih dekat. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman adalah fitrah, dan bukan sumber permusuhan.
Namun bagaimana jika ayat ini kita baca dengan pendekatan Gadamer?
Dengan pendekatan hermeneutika Gadamer, QS. Al-Hujurat:13 tidak hanya menjadi pernyataan normatif, tetapi menjadi undangan dialog antara pembaca modern dan nilai-nilai luhur dalam teks. Kesadaran keterpengaruhan sejarah (historically effected consciousness) membuat kita memahami ayat ini tidak hanya dalam konteks masyarakat Arab abad ke-7, tapi juga realitas plural kita saat ini.
Fusion of horizons mengajak kita membaca ayat ini sebagai seruan untuk membangun masyarakat inklusif. Frasa “lita’arafu” (saling mengenal) bukan sekadar informasi, tetapi ajakan aktif: mengenal dalam arti memahami, menghargai, dan menerima perbedaan.
Hermeneutika Gadamer membuka ruang tafsir yang dinamis. Kita tidak diminta meninggalkan tafsir klasik, tetapi memperkaya pemahaman dengan menghadirkan konteks dan pengalaman kekinian. QS. Al-Hujurat:13 dalam perspektif ini adalah refleksi keimanan dan kemanusiaan yang progresif: bahwa kemuliaan bukan pada identitas.
Baca juga Perbandingan Tafsir tentang Imamah dalam Kitab Al-Qummi dan Majma’ Al-Bayan

