Mengungkap Tasawuf Akhlaqi-Amali: Jalan Penyucian Diri dan Kedalaman Tafsir Sufi

Mengungkap Tasawuf Akhlaqi-Amali: Jalan Penyucian Diri dan Kedalaman Tafsir Sufi

23 September 2025
269 dilihat
2 menits, 24 detik

Pada hakikatnya tasawuf akhlaqi dan amali sama-sama berorientasi pada pendekatan diri kepada Allah, hanya berbeda titik tekan; akhlaqi pada penyucian jiwa, sedangkan amali pada praktik ibadah nyata.

Tsaqafah.idTasawuf atau sufisme merupakan salah satu khazanah spiritual Islam yang berfokus pada pembentukan akhlak mulia, penyucian jiwa, serta usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Inti dari tasawuf bukan sekadar teori atau ritual, melainkan jalan hidup yang membimbing manusia untuk menyingkirkan sifat buruk, menumbuhkan karakter baik, hingga merasakan kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta.

Dalam perkembangannya, tasawuf memiliki berbagai aliran, di antaranya yang menonjol yaitu tasawuf akhlaqi dan tasawuf amali. Keduanya memiliki peran besar, bukan hanya dalam membentuk pribadi Muslim yang berakhlak dan taat ibadah, tetapi juga dalam tradisi tafsir sufistik Al-Qur’an.

Tasawuf akhlaqi: Jalan Menuju Ma‘rifatullah

Tasawuf akhlaqi sering disebut sebagai tasawuf Sunni karena berpegang erat pada Al-Qur’an dan hadis. Tujuan utamanya adalah memperbaiki akhlak agar seorang muslim dapat mencapai ma‘rifatullah, yaitu pengenalan yang mendalam kepada Allah.

Baca juga Tafsir Surah An-Nahl ayat 79: Tela’ah Dasar-Dasar Teknologi Penerbangan

Perjalanan spiritual dalam tasawuf akhlaqi biasanya melewati tiga tahap penting:

yang pertama, Takhalli: membersihkan hati dari sifat tercela, seperti iri, sombong, atau dengki. Yang kedua, Tahalli: menghiasi jiwa dengan sifat-sifat mulia seperti sabar, jujur, dan tawadhu. Dan yang terakhir Tajalli: hadirnya cahaya ilahi dalam hati, sebagai tanda dekatnya seorang hamba dengan Tuhannya.

Tasawuf akhlaqi menekankan bahwa ibadah yang benar harus didasari akhlak yang baik. Dengan demikian, keimanan tidak berhenti pada ritual, melainkan diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Jika tasawuf akhlaqi menekankan pembentukan karakter, maka tasawuf amali berfokus pada pengamalan nyata ibadah dan syariat.

Tiga pilar utama: Islam iman, dan ihsan yang dijadikan fondasi untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tasawuf amali menekankan bahwa ibadah seperti shalat, zikir, puasa, dan doa bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana menjaga kesadaran spiritual. Kesederhanaan menjadi ciri khasnya, semua orang dapat menempuh jalan ini dengan ketulusan dan konsistensi.

Tasawuf dan Tradisi Tafsir Sufistik

Kedua corak tasawuf ini tidak hanya berpengaruh pada kehidupan moral dan ritual, tetapi juga pada cara memahami Al-Qur’an. Kaum sufi meyakini bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki makna batin (isyarat) yang lebih dalam dari sekadar makna literal.

Baca juga Fusion of Horizons: Menafsir QS. Al-Hujurat Ayat 13 dari Lensa Hermeneutika Gadamer

Metode tafsir ini memadukan sunnah Nabi, akal sehat, dan pengalaman spiritual. Tujuannya bukan hanya untuk menjelaskan teks, tetapi juga untuk membimbing manusia dalam perjalanan ruhani menuju Allah.

Salah satu karya monumental dalam tafsir sufistik adalah Tafsir Latha’if al-Isyarat karya Imam al-Qusyairi. Beliau memadukan pengetahuan syariat dengan pengalaman ruhani sehingga tafsirnya menjadi jembatan antara hukum Islam dan nilai-nilai batin.

Contohnya, ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah: 45:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ ۝٤٥

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya itu sulit kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”

Al-Qusyairi menafsirkan sabar sebagai usaha meninggalkan segala sesuatu selain Allah, sementara shalat dipandang sebagai jalan menjaga hubungan spiritual yang stabil dengan-Nya.

Dalam perspektif isyari, keduanya menjadi pintu menuju tajalli (pencerahan ruhani).

Pada hakikatnya tasawuf akhlaqi dan amali sama-sama berorientasi pada pendekatan diri kepada Allah, hanya berbeda titik tekan; akhlaqi pada penyucian jiwa, sedangkan amali pada praktik ibadah nyata.

Keduanya saling melengkapi dalam membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia sekaligus tekun beribadah.Melalui tradisi tafsir sufistik, kita belajar bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks hukum, melainkan cahaya yang menuntun jiwa, memperhalus akhlak, serta mengantarkan manusia menuju pengalaman spiritual yang mendalam.

Baca juga Belajar dari Kisah Sufi: Ketika Kebenaran Tak Mudah Diterima

Profil Penulis
Jina Hidayati Allusdam
Jina Hidayati Allusdam
Penulis Tsaqafah.id
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

5 Artikel

SELENGKAPNYA