Tsaqafah.id – Di era media massa dan media digital yang begitu masif, wacana tentang keberadaan pesantren mudah menjadi konsumsi publik. Media televisi, program talk show, maupun berita-berita viral kerap menyajikan narasi tentang pesantren namun sayangnya, seringkali dari sudut yang dangkal atau penuh bias. Satu dua kasus diangkat seolah menjadi cerminan seluruh dunia pesantren, tanpa menyertakan keragaman bentuk dan tradisinya.
Banyak pemberitaan menempatkan pesantren dalam bingkai stereotip: konservatif, tertutup, atau bahkan ekstrem. Narasi-narasi yang setiap kali muncul seakan “memancing” reaksi emosional publik tanpa analisis mendalam. Padahal pesantren tidaklah tunggal; ada ribuan pesantren dengan pendekatan yang sangat beragam, dari yang tradisional hingga yang modern, dari yang berbasis salaf hingga yang terbuka terhadap kurikulum umum.
Ketika pesantren disudutkan demikian, yang menjadi korban bukan hanya lembaganya, tetapi juga wajah santri, kiai, dan adab yang melekat. Persepsi publik pun mudah tergiring pada kesalahan pemahaman. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, tuduhan dan stigma yang dibentuk oleh media bisa berujung pada generalisasi negatif yang merugikan ribuan pesantren yang tidak bersalah.
Baca Juga Menemukan Rasa Cukup: Belajar Qanaah dan Zuhud di Era FOMO
Pertanyaannya muncul: apakah framing miring terhadap pesantren ini semata-mata karena ketidaktahuan media terhadap dunia pesantren, atau ada kepentingan ideologis, politik, atau ekonomi yang mendasarinya? Tidak semua jurnalis memiliki akses atau kemauan untuk benar-benar memahami dunia dalam pesantren. Sebagian hanya mengutip, menafsirkan, dan mempublikasikan tanpa kehati-hatian pada konteks kultural dan spiritual yang menyertainya.
Di samping itu, pesantren bukan hanya soal pendidikan agama ia juga wadah pembentukan karakter, khususnya adab (etika) kepada guru, teman, dan ilmu. Ketika media gagal merepresentasikan aspek ini, narasi pesantren jadi pincang. Masyarakat pun hanya melihat permukaan, bukan kedalaman nilai yang sesungguhnya dibentuk di dalam tembok pesantren.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengurai bagaimana media membingkai pesantren, melihat ketidaksepahaman atas adab, memahami relasi kiai-santri, dan memaknai Hari Santri sebagai momentum kebangkitan narasi sesungguhnya dari dalam pesantren. Ini bukan sekadar pembelaan, melainkan upaya menegakkan marwah lembaga yang telah berkontribusi besar dalam sejarah keislaman dan kebangsaan Indonesia.
Adab sebagai Pilar Utama Pendidikan Santri
Di dunia pesantren, adab bukanlah sekadar pelengkap, melainkan inti dari seluruh proses pendidikan. Sejak hari pertama santri menginjakkan kaki di pesantren, yang diajarkan bukan hanya ilmu agama atau hafalan kitab, tetapi terlebih dahulu cara bersikap dan berperilaku: bagaimana berbicara kepada guru, bagaimana menghormati teman, bagaimana menjaga diri dalam belajar dan bertindak. Pendidikan adab ini bahkan didahulukan daripada pengajaran ilmu itu sendiri, sebagaimana warisan dari para ulama salaf yang menekankan bahwa adab lebih utama daripada ilmu.
Kitab klasik yang menjadi rujukan utama dalam pendidikan akhlak santri adalah Taʻlim al-Mutaʻallim karya Imam az-Zarnuji. Kitab ini secara khusus membahas bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu memposisikan diri dalam proses belajar. Di dalamnya terdapat pesan terkenal: “Man lam yuqir al-‘ulama ḥurrimat barakat al-‘ilm”, yang berarti “Barang siapa yang tidak menghormati para ulama, maka ia akan diharamkan dari keberkahan ilmu.” Ini menunjukkan bahwa keberhasilan menuntut ilmu tidak hanya bergantung pada kepandaian, tetapi juga pada sejauh mana murid menjaga adab terhadap gurunya.
Dalam keseharian pesantren, adab ini diwujudkan dalam berbagai bentuk: santri tidak sembarangan menyebut nama kiai tanpa gelar penghormatan, tidak mendahului bicara di depan guru, tidak masuk ke ruangan kiai tanpa izin, serta menjaga tutur kata dan gerak-gerik saat berinteraksi dengan para pengajar. Bahkan duduk di hadapan kiai pun diajarkan caranya. Semua itu bukan karena paksaan atau doktrinasi, melainkan karena kesadaran bahwa ilmu hanya bisa masuk ke hati yang bersih dan perilaku yang rendah hati.
Baca Juga Media Kreatif: Jalan Jihad Kemanusiaan Alana Hadid
Sayangnya, aspek-aspek inilah yang sering kali gagal dipahami — apalagi direpresentasikan — oleh media. Media yang terbiasa mengukur interaksi sosial dengan standar kesetaraan modern sering melihat penghormatan santri kepada kiai sebagai bentuk ketundukan yang tidak rasional. Tak jarang muncul anggapan bahwa hubungan santri dan kiai terlalu feodal atau bahkan manipulatif. Padahal, pandangan semacam ini lahir dari ketidaktahuan terhadap tradisi keilmuan Islam yang memuliakan guru sebagai penerus sanad ilmu para Nabi.
Adab di pesantren tidak hanya berlaku vertikal antara murid dan guru, tetapi juga horizontal antar sesama santri. Mereka diajarkan untuk hidup rukun, saling membantu, tidak iri hati, tidak mencela, dan menjaga kehormatan teman-teman satu pondok. Mereka dilatih untuk mandiri, tetapi juga berempati. Semua ini membentuk pribadi yang tangguh secara moral dan sosial. Ketika media hanya memotret kegaduhan atau insiden, maka sisi luhur pendidikan karakter ini tertutup dan terlupakan.
Menjadi santri bukanlah sekadar menuntut ilmu agama, tetapi juga menempuh jalan keberkahan melalui khidmah (pengabdian) dan adab. Santri dididik untuk mencintai pondoknya, merawat bangunannya, menjaga nama baiknya, dan mengambil berkah dari para masyayikh melalui sikap tawadhu dan takzim.
Baca Juga Qana‘ah dan Bahaya Syuhrah: Pelajaran dari Ihya’ Ulumuddin
Dari sinilah tumbuh rasa memiliki yang dalam terhadap pesantren bukan karena dibebani secara ideologis, tetapi karena ditanamkan dengan keteladanan. Mereka belajar membersihkan masjid bukan karena diperintah, melainkan karena cinta; mereka belajar sabar dalam antre bukan karena takut, tapi karena paham makna tertib. Maka, ketika muncul tayangan yang merendahkan relasi ini seolah bentuk eksploitasi atau irasionalitas, sangat jelas bahwa media tersebut gagal melihat realitas ruhani dan budaya luhur yang dibentuk pesantren selama ratusan tahun.
Kasus ini menjadi contoh konkret ketika pesantren “disudutkan” oleh media yang tampaknya tidak memahami budaya adab yang menjadi fondasi pesantren. Tayangan semacam itu tidak sekadar keliru secara fakta, tetapi juga melewati batas etika karena mengeksploitasi citra santri dan kiai untuk sensasi. Padahal hubungan santri–kiai tidaklah sesederhana yang digambarkan di layar kaca; ada dimensi ruhani dan penghormatan mendalam yang sulit tertangkap dalam frame media yang dangkal. Media yang tidak memahami adab bisa mereduksi tindakan hormat menjadi sesuatu yang patut diejek atau dinarasikan secara merendahkan.
Sementara itu, gambaran kehidupan santri di pesantren sehari-hari sangatlah berbeda dari narasi miring itu. Seorang santri bangun dini hari, shalat berjamaah, belajar kitab klasik sampai larut, menjaga kebersihan pesantren, membantu pekerjaan pondok, dan menghormati guru-guru dengan sopan santun.
Baca Juga Mengungkap Tasawuf Akhlaqi-Amali: Jalan Penyucian Diri dan Kedalaman Tafsir Sufi
Itulah realitas harian mereka. Mereka tidak hidup dalam kemewahan atau bersikap tidak kritis tanpa pikiran; mereka dibentuk melalui disiplin, doa, pengorbanan, dan pembinaan karakter. Jika media hanya menampilkan potongan ‘dramatis’ tanpa pemahaman konteks, yang muncul justru gambaran palsu yang menyudutkan mereka.
Peristiwa boikot terhadap Trans7 ini harus dijadikan momentum introspeksi bagi media: sejauh mana mereka telah memahami kultur pesantren, menghormati adab dalam peliputan, dan memberikan ruang bagi suara santri dan kiai sebagai subjek, bukan objek. Kewajiban media bukan semata mengejar rating, tetapi juga menjaga kehormatan lembaga keagamaan dan menghormati nilai-nilai budaya yang mendalam. Jika media terus mengabaikan konteks adab, niscaya mereka akan terus membiakkan stigma-bias yang merugikan masyarakat pesantren.
Akhirnya, kita harus menegaskan bahwa pesantren tidak akan diam di pojok. Santri dan kiai berhak menjawab narasi miring dengan memberikan gambaran dari dalam: terbuka terhadap dialog, menyampaikan kisah nyata, membangun konten positif, serta mengedukasi publik tentang makna adab dan relasi santri–kiai. Jangan biarkan media marjinilkan suara mereka; inilah saatnya pesantren berbicara dari hatinya supaya narasi yang selama ini disudutkan berubah menjadi narasi penghormatan

