Panggilan Taubat Ekologis dari Sumatera

Panggilan Taubat Ekologis dari Sumatera

11 Desember 2025
186 dilihat
2 menits, 42 detik

Tsaqafah.id – Per hari Jumat (28/11/2025), korban nyawa akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara mencapai 43 orang. Dan lebih dari 2000 orang di empat kabupaten dan kota di Sumatera Utara harus diungsikan.

Data ini hanya bersifat sementara dan pastinya akan membengkak seiring pencarian korban yang terus diupayakan. Sebagaimana disampaikan pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menurut BNPB, banjir dan longsor ini dipicu Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka. Dua siklon itu mereka sebut menyebabkan hujan lebat dan angin kencang di kawasan Sumut.

Namun menurut aktivis lingkungan Walhi, bencana banjir dan tanah longsor ini tidak bisa dipisahkan dari “kerusakan hutan” yang disebabkan penggundulan hutan yang masif dan proyek pertambangan yang dikelola oleh PT Agincourt Resources.

Dilansir dari BBC, fenomena banjir bandang dan tanah longsor ini, menurut warga yang terdampak, belum pernah terjadi dalam puluhan tahun terakhir. Persaksian warga ini mengafirmasi klaim kelompok Walhi yang menyebut penggundulan hutan dan proyek tambang sebagai faktor utama dari bencana ini.

Baca juga Problematika dan Solusi Krisis Lingkungan Perspektif AL-Qur’an

Jika kita menengok kebijaksanaan-kebijaksanaan nenek moyang kita, hutan yang saat ini terus menerus mengalami penggundulan, gunung-gunung yang tiap hari dikeruk dengan mesin-mesin yang tak memiliki nurani, adalah tindakan bejat, tidak sopan, dan tidak berbelas kasih pada kehidupan lain di bumi ini.

Nenek moyang kita melihat apapun yang ada di hutan dan gunung sebagaimana kita melihat manusia: subjek yang memiliki hak untuk hidup dan tumbuh, bukan sebagai objek atau pelayan manusia. Yang demikian ini paralel dengan interpretasi Imam Nawawi Al-Jawi terkait ayat dalam Al-An’am ayat 38. Menurut beliau, ayat itu menegaskan aspek kesamaan antara manusia dengan makhluk lain di bumi di mata Allah.

Dari prespektif Imam Nawawi ini, manusia tidak lebih unggul dari flora dan fauna mana pun, mereka adalah satu ummah yang egaliter. Meskipun memang manusia diberkati akal dan kehendak yang tidak dimiliki oleh makhluk apapun di bumi ini, kendati demikian, kehendak ini tidak lantas menjadi legasi untuk mendominasi apalagi mengeksploitasi makhluk lain.

Namun, seiring berkembangnya zaman, pergeseran paradigma manusia menghantarkan mereka pada pandangan antroposentrisme ekstrim, yang melihat manusia sebagai titik episentrum dari seluruh yang eksis di bumi dan selain manusia, harus menjadi pelayan keserakahannya.

Dari paradigma ini melahirkan satu sikap eksploitatif terhadap flora dan fauna. Manusia melihat alam sebagai harta karun tak terbatas yang secara alamiah memang diasumsikan sebagai pemuas dari segala bentuk keserakahan manusia.

Paradigma yang demikian ini jelas menjadi motor penggerak utama dari tindakan-tindakan yang merusak ekosistem alam. Apalagi jika kita mengingat sistematika alam yang saling terkait satu dengan yang lain. Jika keteraturan alam ini dirusak oleh manusia, maka bukan hanya mereka yang hidup di dalam hutan yang terkena dampak negatif, tapi juga manusia itu sendiri.

Baca juga Cinta Alam: Manifestasi Spiritual dan Ibadah Sosial

Hal ini terbukti dari banyaknya kasus banjir dan longsor yang terjadi di banyak tempat di Indonesia, bahkan, beberapa negara di Asia Tenggara juga sedang menghadapi masalah yang sama, yang telah merenggut banyak nyawa dan membuat mereka yang selamat masuk dalam situasi ketidakpastian yang permanen.

Ini menjadi PR bersama. Hanya mengandalkan kebijakan inisiatif pemerintah adalah tidak tepat. Bencana ini adalah puncak gunung es dari paradigma antroposentrisme yang telah meracuni pikiran kita selama berabad-abad.

Sudah saatnya kita menanggalkan pandangan bahwa manusia adalah tuan dan alam adalah pelayan.

Mengingat kearifan nenek moyang dan perspektif egaliter Imam Nawawi Al-Jawi, kita harus kembali melihat hutan, gunung, dan seluruh isinya sebagai sesama subjek, sebagai mitra hidup, bukan objek keserakahan.

Panggilan Taubat Ekologis Dari Sumatera ini menuntut kita untuk segera bertindak: mendorong kebijakan yang adil, menolak proyek yang merusak, dan mengubah gaya hidup kita.

Hanya dengan kesadaran kolektif untuk menempatkan keberlangsungan ekosistem di atas keuntungan material, kita bisa menjamin masa depan yang lebih pasti dan berbelas kasih bagi generasi selanjutnya.

Baca juga Perubahan Iklim: Mengapa Negara Muslim Cenderung Diam?

Profil Penulis
Adzin Aris Aniq Adani
Adzin Aris Aniq Adani
Penulis Tsaqafah.id
Mahasiswa di UIN Raden Mas Said, Surakarta Minat: Agama dan Filsafat

3 Artikel

SELENGKAPNYA