Tsaqafah.id – Pemahaman baru tentang dinamika dan asal-usul alam semesta telah menjadi mungkin berkat kemajuan kosmologi kontemporer. Salah satu konsep fundamental dalam kajian tersebut adalah teori ekspansi alam semesta (expanding universe) yang terus mengembang, yang pertama kali ditemukan oleh Edwin Hubble pada tahun 1929.
Melalui pengamatan pergeseran merah (redshift) pada galaksi-galaksi jauh, Hubble menemukan gagasan kunci dalam penelitiannya.
Banyak temuan ilmiah, seperti radiasi gelombang mikro kosmik (Cosmic Microwave Background Radiation) dan Teori Big Bang (Big Bang Theory), yang membuktikan bahwa alam semesta terus-menerus mengembang daripada statis, telah mendukung penemuan ini.
Meneliti fenomena pertumbuhan alam semesta dari sudut pandang Al-Qur’an sangat menarik, terutama mengingat ayat 47 Surah Adz-Dzariyat yang menyatakan bahwa Allah “memperluas” langit.
Meskipun ayat ini tidak dikaitkan oleh para mufassir klasik dengan fenomena kosmologis kontemporer, perkembangan ilmu pengetahuan membuka kemungkinan pemaknaan baru yang koheren dengan kemajuan ilmiah.
Baca juga Penciptaan Alam Semesta Perspektif Ilmu Astronomi dan Al-Qur’an
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menggabungkan sains modern dengan tafsir teks suci untuk memperdalam pemahaman kita terhadap ayat-ayat kauniyah Al-Qur’an.
Kosmologi Fisika Modern
Kosmologi modern menyatakan bahwa alam semesta bermula dari Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Peristiwa ini melahirkan ruang, materi, energi, dan hukum fisika yang berlaku hingga saat ini. Salah satu konsekuensi paling penting dari teori ini adalah bahwa alam semesta sedang mengalami ekspansi terus-menerus.
Bukti awal tentang ekspansi ruang angkasa berasal dari pengamatan Hubble bahwa galaksi-galaksi bergerak menjauh satu sama lain. Penemuan radiasi latar belakang kosmik energi sisa dari alam semesta awal kemudian mengonfirmasi fenomena ini. Selain itu, pengukuran konstanta Hubble menunjukkan bahwa ekspansi ruang angkasa bersifat dinamis dan bahkan dipercepat akibat energi gelap (dark energy).
Akibatnya, ekspansi alam semesta merupakan peristiwa fisik yang dapat diukur dan diamati.Kajian Tafsir QS. Adz-Dzariyat Ayat 47 QS. Adz-Dzariyat ayat 47 berbunyi:
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
“Langit Kami bangun dengan tangan (kekuatan Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan(-nya)”.
Baca juga Panggilan Taubat Ekologis dari Sumatera
Ayat ini diinterpretasikan oleh para mufassir klasik seperti Al-Tabari, Al-Qurthubi, dan Ibn Kathir sebagai penjelasan tentang kebesaran dan kekuatan Allah dalam menciptakan langit yang luas dan stabil. Di sisi lain, para mufassir kontemporer seperti Tantawi Jauhari dan Quraish Shihab memandang ayat ini sebagai tanda bahwa langit sedang mengalami perluasan, yang relevan dengan fenomena ekspansi alam semesta dalam kosmologi modern.
Perspektif kontemporer ini membuka ruang dialog antara wahyu dan sains dalam memahami fenomena universal. Ketika dikaitkan dengan penemuan kosmologis kontemporer, makna linguistik kata mūsi‘ūn, yang berarti “memperluas,” memungkinkan interpretasi ilmiah.
Deskripsi ayat tentang langit yang “memperluas” sesuai dengan perluasan alam semesta yang ditunjukkan melalui redshift, radiasi latar belakang kosmik, dan percepatan ruang.
Secara integratif ayat ini menunjukkan bahwa:
1. Secara linguistik, ayat ini memungkinkan interpretasi dinamis.
2. Secara ilmiah, Perluasan alam semesta.
3. Secara tafsir, ulama kontemporer mendekatkan ayat ini dengan fenomena ekspansi kosmik.
Oleh karena itu, selama kaidah bahasa dan konteks Al-Qur’an diperhatikan, memahami ayat-ayat Al-Qur’an dalam konteks ilmu pengetahuan modern tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar tafsir.
Surah Adz-Dzariyat ayat 47 dapat diinterpretasikan secara lebih luas berdasarkan kemajuan kosmologi kontemporer. Kemajuan ilmiah memungkinkan interpretasi yang konsisten dengan gagasan perluasan alam semesta, meskipun para mufassir tradisional menekankan konotasi teologisnya.
Ayat ini memberikan petunjuk mengenai dinamika kosmis, berdasarkan interpretasi modern yang didukung oleh penemuan ilmiah seperti pergeseran merah, radiasi latar kosmis, dan percepatan perluasan. Menggabungkan interpretasi dengan ilmu pengetahuan kontemporer membantu memperdalam pemahaman kita tentang ayat-ayat kauniyah dan memperkuat keyakinan kita akan keagungan Allah sebagai pencipta alam semesta.
Baca juga Tafsir Surah An-Nahl ayat 79: Tela’ah Dasar-Dasar Teknologi Penerbangan

