Perintah Salat: Melampaui dari Sekadar Kewajiban

Perintah Salat: Melampaui dari Sekadar Kewajiban

25 April 2026
10 dilihat
3 menits, 46 detik

Sejauh ini saya meyakini bahwa setiap ibadah memiliki makna personal bagi setiap individu. Sering kali itu berbeda antara satu individu dan yang lain, namun juga terkadang selaras. Salat misalnya, ibadah istimewa dalam Islam yang dibebani kepada setiap individu Muslim. Meski perintah itu berlaku secara umum, namun bukan berarti makna yang diperoleh selalu seragam.

Kondisi itu disebabkan karena insan menghadapi berbagai realitas kehidupan yang beragam. Status, pekerjaan, serta harapan pribadi senantiasa menjadi spirit dalam setiap aktivitasnya, tak terkecuali salat.

Itulah juga yang membuat motivasi untuk mendirikan salat tentu tidak selalu seragam, meskipun perintahnya berbunyi wajib, yang berarti pelaksanaannya tanpa membutuhkan alasan apapun, kecuali dalam kondisi tertentu.

Baca juga : Salat Gitu-Gitu Aja? Coba Ditulis!

Dalam pengalaman keagamaan, salah satu motivasi pelaksanaan salat yang sering dijumpai adalah harapan untuk mendapatkan kehidupan yang baik di alam setelah dunia ini, seperti berkehidupan di surga, lebih-lebih lagi di derajat yang paling tinggi. Motivasi lain yaitu sekadar karena kewajiban, yang berarti beban atau tanggungan yang harus ditunaikan. Mungkin seperti tagihan listrik rumah.

Meraba-raba Motivasi yang Paling Benar

Maksud motivasi di sini tentu bukanlah pengingkaran bahwa salat memerlukan alasan, sehingga yang tidak memilikinya berarti tidak perlu melaksanakannya. Tentu saya mengetahui bahwa salat itu wajib bagi setiap individu Muslim.

Namun yang saya perhatikan di sini adalah dibalik perintah wajib itu, dalam realitanya, seseorang seringkali membutuhkan segenap alasan dalam melaksanakan salat, terlebih lagi salat merupakan ibadah yang pelaksanaannya setiap hari dan sepanjang hayat. Berbeda dengan zakat, puasa, ataupun haji.

Dalam pengalaman pribadi, beberapa waktu saya menjadi pendengar bagi teman yang bercerita bahwa ia tidak lagi melaksanakan salat. Setelah sekian kali bercerita, ternyata alasannya adalah karena doa-doanya tidak terkabulkan. Artinya, motivasi salatnya adalah sebagai pelicin doa.

Seorang teman yang lain juga bercerita bahwa dirinya pernah berhenti melaksanakan salat. Alasannya karena pelaksanaan salatnya tidak membekas pada relung jiwanya. Ia hanya diajarkan bahwa salat itu wajib, dan semakin disuruh, semakin tiada bekas pada jiwanya pelaksanaan salat itu. Kekeringan spritual istilahnya.

Namun, setelah merenungkan dan mencoba memahami ulang, barulah ia menemukan alasan tertentu yang meyakinkannya untuk melaksanakan salat kembali.

Baca juga : Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Islam

Fakta tentang itu, mengingatkan saya ketika mencoba memahami tujuan salat atau ibadah secara umum yang diharapkan oleh mayoritas yaitu untuk mendapatkan kehidupan baik di surga dan dijauhkan dari neraka. Di samping itu, terdapat juga pernyataan “salat kok cuma gugurin kewajiban,”  bagi orang yang mengerjakan salat seadanya saja.

Bagi saya, orang yang mengharapkan hasil atas ibadahnya adalah seumpama anak kecil yang mau mengerjakan sesuatu bila diberi upah terlebih dahulu. Namun, melaksanakan salat hanya sebatas demi menggugurkan kewajiban juga tidak pantas dilakukan.

Beruntungnya saya ingat satu hadis tentang hak Allah kepada hamba-Nya dan hak hamba dari Allah. Hadisnya begini:

Wahai Mu’âdz! Tahukah engkau apa hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah?’ Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allâh ialah sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Janganlah kausampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mereka akan bersikap menyandarkan diri (kepada hal ini dan tidak beramal shalih)’.” (Muttafaq ‘alaih)

Baca juga : Empat Konsep Pesantren Merawat Peradaban Islam

Hadis di atas, secara eksplisit menyatakan bahwa hak Allah adalah mengibadahi-Nya semata dan tidak menduakan-Nya. Makna implisit juga dapat diartikan bahwa ibadah merupakan hak Allah yang mesti ditunaikan.

Karena itu, bagi saya setidaknya melaksanakan salat karena merupakan kewajiban adalah alasan yang paling logis dan sederhana. Jika ditanya kenapa mesti salat, maka jawabannya sesederhana karena itu adalah hak Allah yang mesti ditunaikan. Tentu lebih besar tanggungannya daripada tagihan listrik.

Meski demikian, motivasi salat setiap orang tidak dapat dihukumi dengan sipit mata. Karena salat setidaknya merupakan ibadah yang hikmahnya berlaku individual dan dengan kasus yang berbeda. Tentu saya bukan hendak bermaksud pragmatis pada soal ini.

Salat Sebagai Jeda Waktu

Dalam kehidupan sehari-hari, salat sepertinya memang memiliki sisi pragmatis. Cerita yang familiar: orang yang lupa tempat suatu barang, kemudian ia salat dan mengingat tempat terakhir ia melihatnya.

Kisah lain seorang teman yang bercerita. Ia merupakan mahasiswa yang juga aktif secara akademik maupun non akademik.

Suatu waktu ia mendapati banyak pikiran sebab tugas-tugas akademik maupun non-akademik, bahkan itu mengalihkan fokusnya di kelas. Kebetulan itu waktu zuhur, ia izin keluar dan ke masjid untuk melaksanakan salat. Ia bercerita bahwa saat salat, pikirannya disibukkan dengan tugas-tugas, terutama ketika ia sedang sujud. Namun, pasca salat ia tersadarkan dan dengan sendirinya dapat mengidentifikasi pikiran-pikirannya satu per satu.

Momem saat salat terutama pasca salam tampaknya memberikan waktu untuk menepi sejenak dari kesibukan-kesibukan dunia yang amat tergesa-gesa. Momen itu seumpama jeda untuk memulihkan kesadaran diri pasca kondisi alienasi sebab pekerjaan ataupun sekelumit kegiatan. Inilah mungkin yang membuat seorang teman itu mampu menguraikan serabut pikiran-pikiran di kepalanya dengan mudah.

Inilah juga mungkin yang dapat disebut dengan self-healing. Yaitu istilah dalam psikologi yang merujuk pada proses pemulihan terutama pada penyakit mental yang dilakukan oleh diri sendiri. Biasanya dengan dua teknik: self analysis dan self monitoring.

Baca juga : Pandangan Gus Baha terkait Seruan Jihad dalam Azan

Profil Penulis
Iskandar Dzulkarnain
Iskandar Dzulkarnain
Penulis Tsaqafah.id

1 Artikel

SELENGKAPNYA