Antropologi Islam di Era Digital: Antara Layar dan Kitab

Antropologi Islam di Era Digital: Antara Layar dan Kitab

10 Agustus 2025
434 dilihat
4 menits, 28 detik

Simbol-simbol keagamaan kini berseliweran di ruang digital, hadir di Instagram, TikTok, YouTube, dan bahkan menjelma dalam bentuk chatbot yang menjawab pertanyaan keagamaan. Islam tidak lagi semata ditemukan di balik mimbar masjid atau kitab kuning di pesantren, tetapi juga tampil dalam potongan video satu menit, meme berisi hadis, kultum dengan musik latar yang emosional, dan selebgram yang menyelipkan pesan ‘hijrah’ sambil mempromosikan produk kecantikan.

Generasi hari ini mengalami Islam bukan hanya sebagai ajaran yang diajarkan, tetapi sebagai konten yang ditonton, dibagikan, dan disukai. Di tengah dunia seperti ini, pengalaman beragama tidak menghilang, melainkan bertransformasi. Ia berpindah medium, berganti gaya, dan membuka kemungkinan-kemungkinan tafsir yang tak terbayangkan sebelumnya.

Apa yang sebenarnya terjadi ketika Islam masuk dan larut dalam ekosistem digital? Apakah agama masih hidup dengan cara yang sama seperti sebelumnya, atau telah berubah menjadi produk visual, identitas gaya hidup, bahkan komoditas simbolik?

Pertanyaan ini bukan sekadar kritik, melainkan cermin dari kegelisahan zaman. Antropologi Islam, sebagai pendekatan yang menaruh perhatian pada pengalaman umat, memberi kita alat untuk tidak sekadar menyalahkan, tetapi memahami bagaimana keberagamaan dipraktikkan dan dinegosiasikan di tengah derasnya arus digitalisasi.

Dalam kuliah daring yang disampaikan pada forum Online Summer Course bertema Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya yang diselenggarakan oleh PCINU Amerika Serikat dan Kanada, Prof. Ismail Fajrie Alatas menekankan bahwa antropologi Islam tidak dimulai dari pertanyaan “apa itu Islam?”, melainkan dari pertanyaan yang lebih membumi: “bagaimana Islam dijalani oleh umatnya dalam kehidupan sehari-hari.”

Sebuah pendekatan yang membuka ruang lebih luas untuk memahami keberagamaan sebagai praktik sosial yang kompleks, dinamis, dan kontekstual. Dan hari ini, kehidupan sehari-hari generasi muda tidak lagi bisa dilepaskan dari layar gawai, dari algoritma yang menentukan apa yang muncul di beranda mereka, serta dari ritme digital yang membentuk cara berpikir dan bertindak. Dalam dunia semacam itu, keberagamaan tidak lenyap, tetapi berubah wajah. Ia tidak lagi sepenuhnya hadir dalam bentuk pengajian langgar atau ḥalaqah fisik, melainkan muncul dalam story Instagram, unggahan reels, atau konten singkat bernuansa religius yang memadukan ayat, kutipan, dan musik latar. Ritus lama berganti gaya, tetapi maknanya tidak selalu hilang. Bahkan, bisa jadi justru bertambah lapisan emosional dan estetikanya, tergantung bagaimana ia ditangkap dan dijalani oleh para pelakunya.

Talal Asad mengatakan bahwa agama tidak dibentuk hanya oleh doktrin atau makna simbolik semata, melainkan oleh latihan tubuh yang berulang, mulai dari salat, wudu, puasa, hingga ziarah. Latihan inilah yang membentuk sensorium keagamaan, yaitu cara tubuh dan perasaan merespons simbol-simbol sakral. Dalam dunia digital, sensorium itu juga mengalami pergeseran.

Kedekatan dengan agama kini dapat terbentuk melalui aktivitas yang akrab dengan keseharian digital, seperti menelusuri konten dakwah, mendengarkan murotal melalui aplikasi, atau mengikuti tren keislaman yang tengah viral di media sosial. Bila dahulu kesadaran waktu dan spiritualitas dibangkitkan oleh suara azan dari menara masjid, kini notifikasi dari aplikasi islami mengambil peran yang serupa. Mushaf yang dahulu dibuka dengan wudu dan penuh khidmat, kini kerap diakses melalui layar ponsel, dibaca di sela perjalanan atau menjelang tidur.

Baca juga: Intelektual Islam Modern

Apakah ini degradasi? Tidak selalu. Antropologi Islam tidak terburu-buru memberi vonis. Ia bertanya: bagaimana transformasi ini memengaruhi cara generasi muda memahami Islam? Apakah mereka menjadi semakin jauh dari tradisi, atau justru menciptakan bentuk-bentuk keberagamaan baru yang sesuai dengan zamannya? Sebab, perlu kita ingat, dari dulu pun Islam tidak pernah hadir sebagai entitas yang tunggal. Ia hadir sebagai spektrum, sebagai mozaik pengalaman yang lahir dari interaksi antara teks, tubuh, tradisi, dan konteks.

Dalam dunia digital, kita menyaksikan munculnya aktor-aktor keagamaan baru. Tidak semua berasal dari jalur pendidikan tradisional. Ada yang datang dari dunia hiburan, fashion, bahkan aktivisme. Tapi otoritas mereka diakui karena mereka “nyambung” dengan publik digital. Mereka bisa menyampaikan pesan keagamaan dalam bentuk yang estetis, ringkas, dan yang paling penting disukai algoritma. Maka logika otoritas tidak lagi ditentukan oleh sanad keilmuan, tetapi oleh performa dan popularitas.

Di sinilah kita melihat transformasi besar dalam relasi kuasa keagamaan. Otoritas ulama tradisional, yang dulu begitu kokoh, kini harus berkompetisi dengan selebgram saleh, dengan penceramah instan, bahkan dengan AI islami yang menjawab pertanyaan seputar fikih dan akidah.

Namun yang menarik, sekalipun dunia digital tampak membongkar hierarki, ia juga membuka ruang baru bagi kesinambungan. Banyak ulama tradisional kini aktif membuat video ngaji, membagikan ijazah wirid lewat WhatsApp, dan bahkan memanfaatkan siaran langsung untuk menjangkau santri di luar negeri. Tradisi, dalam pengertian Talal Asad, bukanlah barang mati. Ia adalah jaringan wacana yang hidup, terus diperbarui, dan dinegosiasikan melintasi waktu dan ruang. Di tangan generasi digital, tradisi itu tidak lenyap, tapi dipraktikkan dengan cara baru, kadang mengundang kekaguman, kadang juga memancing kegelisahan.

Pertanyaannya kini, bagaimana kita memahami semua ini tanpa jatuh pada nostalgia yang menolak zaman, atau euforia yang kehilangan pijakan? Antropologi Islam mengajak kita tidak terjebak pada dikotomi lama antara “Islam yang benar” dan “Islam yang menyimpang.” Ia justru membuka ruang untuk melihat bagaimana keberagamaan hadir dalam berbagai bentuk, dari yang simbolik hingga yang sangat personal. Ia melihat bahwa tafsir agama tidak pernah tunggal, dan praktik keagamaan selalu melibatkan negosiasi antara yang sakral dan yang profan, antara teks dan konteks, antara masa lalu dan masa kini.

Kita tidak bisa memahami Islam hari ini hanya dari kitab klasik atau ceramah di masjid. Kita juga perlu membaca komentar di YouTube, membaca caption dakwah di Instagram, mendengar suara generasi muda yang mengungkap pengalaman spiritualnya lewat video pendek, atau bahkan meme. Semua itu adalah data keberagamaan. Semua itu adalah bahan bagi kita untuk memahami bagaimana Islam terus hidup, bertransformasi, dan memberi makna di tengah dunia yang semakin cepat, padat, dan digital.

Maka mungkin yang dibutuhkan hari ini bukan penghakiman, melainkan pendalaman; bukan kegelisahan, melainkan keterbukaan. Generasi digital bukan generasi yang kehilangan Islam, tetapi generasi yang sedang menafsirkan ulang Islam dalam lanskap yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka belajar agama bukan untuk membuang tradisi, tetapi untuk menjangkaunya dengan cara baru. Dan di sanalah, di titik pertemuan antara layar dan kitab, antara like dan lafaz, antara konten dan kontemplasi, agama terus hidup dengan cara-cara yang tak selalu kita duga. Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya “apakah ini Islam yang benar?”, dan mulai bertanya “apa yang membuat Islam tetap bermakna di mata mereka yang hidup di era digital ini?”

Tulisan ini merupakan refleksi pribadi penulis dari kuliah Online Summer Course bertema Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya yang diselenggarakan oleh PCINU Amerika Serikat dan Kanada pada 31 Juli 2025, dengan narasumber utama Prof. Ismail Fajrie Alatas.

Profil Penulis
Mansur Hidayat
Mansur Hidayat
Penulis Tsaqafah.id
Mansur Hidayat merupakan pengurus LPTNU Kabupaten Demak dan dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Kudus. Ia adalah alumnus sejumlah pesantren, tempat ia membangun fondasi intelektual dan spiritualnya. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Minat intelektualnya berfokus pada kajian komunikasi, media, serta dinamika sosial-keagamaan dalam konteks kontemporer. Ia aktif menulis artikel populer dan akademik yang berupaya menjembatani ruang reflektif antara tradisi dan modernitas.

3 Artikel

SELENGKAPNYA