Apa Bisa Menjadi Pemalas Tapi Produktif ?

Orang malas akan selalu mencari jalan tercepat dan efisien karena tidak mau ribet. Lalu bagaimana efisiensi memiliki pengaruh?

Tsaqafah.id – Sebenarnya saya malas mau menulis lagi. Sejak bergelut dengan skripsi membuat malas berkepanjangan tanpa akhir dan mau mulai membaca buku lagi rasa malas selalu hadir di pikiran saya. Karena paling enak rebahan di kasur, scrolling sosial media sambil mendengarkan musik, asik bukan?

Kita memang malas, secara genetik manusia memang dirancang sebagai pemalas. Seperti studi yang dilakukan Reysuna K. Putri 2021 yang menunjukkan bahwa otak manusia selalu memilih opsi yang mengeluarkan energi paling sedikit dan menjadikan otak berevaluasi untuk bergerak secara efisien. 

Kalau kata Bill Gates “Saya akan selalu mencari orang malas untuk pekerjaan yang sulit.” Perkataan tersebut bukan hanya untuk membuat perusahaannya menjadi kacau balau dan merujuk pada kerugian.

Seperti halnya dengan diciptanya sepeda, tentunya untuk memudahkan bepergian dibandingkan dengan berjalan kaki. Kipas angin hadir untuk memudahkan seseorang yang kepanasan daripada menggunakan kipas kertas atau kipas sate yang melelahkan tangan. Bukan hanya itu berbagai hal tercipta dengan rasa malas menuju efisiensi dan mudah dilakukan.

Dalam kehidupan kita, malas biasanya digambarkan sebagai perilaku atau tindakan buruk yang terjadi pada seseorang, sehingga persepsi malas menjadi selalu negatif dan menjadi narasi-narasi yang disampaikan ke seseorang ketika kerjanya tidur-tiduran, duduk melamun, ataupun sedang makan.

Baca Juga: Menyikapi Bencana Alam Secara Bijak

Musuh Manusia

Sebenarnya malas pada seseorang itu bukan hal buruk ataupun negatif tetapi bagaimana malas itu dimanfaatkan sekaligus mengakalinya agar tidak menjadi penghalang dan justru menjadi pendorong untuk tetap produktif.

Malas bukanlah menjadi musuh utama kita, tetapi koruptor yang mengambil uang rakyat musuh utama kita. Lantas bagaimana memanfaatkan rasa malas ini menjadi peluang dan berdampak baik buat kita. Caranya adalah dengan menghilangkan ketidakefisienan dan keribetan yang seringkali kita ciptakan sendiri secara terus-menerus. 

Pada dasarnya, rajin dan malas adalah sebuah paradoks dimana sifat malas mencetuskan rajin. Sebab malas mendorong orang untuk rajin mencari inovasi atau terobosan baru. Namun tidak memungkiri rasa malas seseorang menjadi buruk ketika tidak diatasi atau sering menambah keribetan-keribetan yang diciptakan sendiri.

Orang malas akan selalu mencari jalan tercepat dan efisien karena tidak mau ribet. Lalu bagaimana efisiensi memiliki pengaruh?

Saya ingat pelajaran di kuliah, entah di semester berapa saya lupa, Peter F. Drucker, seorang penulis dan konsultan asal Austria yang dijuluki bapak manajemen modern ini menggambarkan bagaimana efisiensi menunjukkan tingkat keberhasilan pencapaian tujuan dengan cara melakukan pekerjaan dengan benar. 

Seperti ini misalnya, jika kamu berencana makan makananan yang sehat maka letakanlah makanan pada tempat yang mudah dijangkau. Jika kamu ingin rajin membaca buku tempatkan buku yang mudah dijangkau dan sering terlihat.

Malas bisa menjadi penghalau perilaku buruk dengan mempersulit dan memberi gangguan kepada perilaku buruk, sehingga keinginan buruk akan dihalau rasa malas. Contohnya jika ingin mengurangi nonton TV tempatkan TV jauh dari kamarmu kalau perlu lepas baterai remote TV dan simpan remote TV yang sulit dijangkau.

Baca Juga: Perempuan Dalam Balutan Negeri Padang Pasir 

Bagi perokok yang ingin mengurangi merokok maka membuang semua korek api yang ada bisa menjadi solusi. Karena ketika kamu ingin merokok akan kesulitan mencari api sehingga mencari api untuk merokok jadi malas dan muncul keribetan dan menunda merokok sementara. Seperti kata bercandaan teman-teman di sosial media “kalau ada yang mudah kenapa mesti ribet,” hal ini menjadi kata-kata cocok untuk mempersulit diri terhadap perilaku buruk.

Untuk pendorong perilaku malas sebagai penghalau kebiasaan buruk bisa dengan membolak balikkan keadaan dalam diri kita dan harus menghadirkan Nudge Theory, dalam buku Richard Thaler bersama koleganya Cass Sunstein berjudul Nudge. Buku ini sekaligus pemenang nobel prize in economics, menariknya Nudge Theory merupakan teknik perubahan perilaku yang memiliki prinsip libertarian paternalism yang mana berarti  intervensi dilakukan secara halus, tidak bersifat memaksa atau mengatur. Seperti halnya ketika seseorang sering membuang sampah sembarangan akan diberi sanksi berupa denda.

Namun justru memberikan rasa ketakutan berakibat pada mengabaikan dan justru yang terjadi adalah perilakunya membuang sampah sembarangan semakin menjadi. Adapun pemberian larangan membuang sampah justru dihiraukan.

Nudge theory menghadirkan perubahan perilaku dengan mempermudah aktivitas menjadi efisien, yaitu dengan memberikan tempat sampah yang mudah dijangkau, tersedia dimana-mana tanpa merepotkan, hal ini bisa mengatasi perilaku buruk secara halus.

Pada dasarnya membalikan rasa malas ke hal-hal buruk dan permudah hal-hal yang menjadi baik akan menjadi arah positif yang akan membentuk kesadaran diri yang terus menerus dilakukan tanpa kita sadari. Seperti tulisan ini juga berangkat dari keadaan laptop yang selalu di meja dan catatan-catatan planning yang selalu terpampang, yang mau tidak mau mengantarkan untuk memulai mengetik.

Sepertinya karena keadaan yang saya buat itu menjadi pendorong sebagai seorang pemalas yang produktif, mendobrak keadaan dan kebiasaan yang telah membelenggu pada diri kita.

Referensi:

Reysuna K. Putri 2021 Hubungan sikap malas dan prokrastinasi akademi pada mahasiswa 2021

Peter F. Drucker The Essential drucker, Routdge, 2020

Richard Thaler dan Cass Sunstein, Nudge: Improving Decisions About Health, Wealth, and Happiness 2018

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Begini Sahnya Wudhu bagi Muslimah Ber-Make Up

Next Article

Buku, Kuburan, dan Kisah Pemancing Gagal

Related Posts