Apabila Salah, Gubernur Juga Patut Dihukum

meskipun Anda seorang gubernur, Anda tidak bisa berbuat seenaknya. Apalagi dalam persoalan hutang atau membangkang kepada pengadilan.

Tsaqafah.id – Pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid, hiduplah seorang hakim bernama Ubeid. Ia dikenal sebagai hakim yang lemah lembut, tetapi adil, tegas dan bijaksana.

Suatu hari seorang datang sembari berkata bahwa gubernur Isa bin Jakfar memiliki hutang dengan jumlah yang banyak tetapi tidak mau membayarnya.  Mendengar hal tersebut, Ubeid menulis sepucuk surat untuk gubernur.

Dalam surat tersebut, Ubeid menjelaskan bahwa datang seorang warga yang melapor bahwa gubernur Isa bin Jakfar memiliki hutang sebesar setengah juta dirham kepadanya. Untuk mengklarifikasi kebenarannya, Ubeid memohon kepada gubernur untuk datang ke pengadilan.

Ubeid mengutus seseorang untuk mengantar surat tersebut. Sesampainya di depan gerbang rumah, ia dihadang oleh salah seorang petugas rumah.

“Ada keperluan apa datang ke sini?”

“Saya utusan Hakim Ubeid, datang untuk menyampaikan surat ini kepada gubernur.”

“Biar aku yang menyampaikan kepada gubernur.”

Petugas rumah masuk menuju ruangan gubernur, diberikannya surat tersebut. Gubernur membacanya, alih-alih datang ke pengadilan atau mengutus orang untuk mewakilinya, gubernur malah memerintakan petugas tadi untuk menyampaikan kepada utusan Hakim Ubeid, “Suruh utusan Hakim Ubeid untuk makan surat itu!”

Utusan Ubeid pulang dengan tangan hampa. Ia melaporkan hasil tersebut ke rumah. Mendengar cerita sang utusan, ia dengan tenang, menulis surat kembali kepada gubernur.

Pada surat kedua, Ubeid menulis permohonan kepada gubernur untuk meluangkan waktunya datang ke kantor pengadilan. Apabila gubernur tidak bisa, maka ia boleh mengutus seseorang sebagai perwakilannya.

Baca Juga: Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al-Buthi

Ubeid kembali mengutus pembantunya untuk mengantar surat keduanya kepada gubernur. Tetapi kali ini, surat diantar oleh dua orang pembantunya.

Sesampainya di rumah, petugas rumah kali ini memintanya untuk bertemu langsung dengan gubernur. Diberikannya surat tersebut kepada gubernur. Setelah membaca surat tersebut, merahlah muka sang gubernur. Dirobek surat tersebut dan dihamburkan ke atas bantal. Dua orang pembantu tadi diusir dari rumah.

Lagi-lagi utusan Ubeid pulang dengan tangan kosong. Keduanya menceritakan perlakuan gubernur kepada Ubeid. Ia kembali menulis surat untuk ketiga kalinya.

Dalam surat yang ketiga, Ubeid memberikan peringatan kepada gubernur Isa bin Jakfar untuk datang ke kantor pengadilan. Apabila gubernur tidak datang atau tidak mengirimkan wakil sama sekali, maka Ubeid akan melaporkannya kepada khalifah yang kebetulan sedang berada di kota tersebut.

Dua orang pembantunya kembali diutus untuk mengantarkan surat tersebut. Sesampainya di depan rumah, gubernur Isa bin Jakfar hendak keluar. Diberikannya surat tersebut kepada gubernur. Tetapi lagi-lagi gubernur marah besar, surat tidak dibaca sama sekali, tetapi dibuangnya ke atas tanah.

Ketiga kalinya, para utusan Ubeid tidak memperoleh hasil. Mereka melaporkan kejadian itu kepada Ubeid. Setelah mendengar laporan pembantunya, Ubeid bergegas menutup kantornya. Ia memilih pulang. Sejak hari itu, Ubeid tidak masuk kantor untuk bekerja dan mengunci diri di rumah.

Kabar tidak masuknya Ubeid ke kantor terdengar oleh khalifah, tetapi khalifah tidak mengetahui apa sebabnya. Menganggapi hal itu, tanpa berpikir panjang, khalifah segera memanggil Ubeid untuk datang menemuinya. Ubeid pun memenuhi panggilan tersebut.

Baca Juga: Rihana, Wali Perempuan yang Menghabiskan Waktunya untuk Beribadah

“Mengapa Hakim tidak masuk kerja untuk beberapa hari terakhir?” Tanya khalifah. “Tidakkah engkau menghindari pentingnya rakyat yang membutuhkan bantuan pengadilan?” Tanya khalifah kembali.

“Khalifah yang saya hormati, saya sangat memohon, sudi kiranya khalifah menunjuk orang lain untuk menggantikan posisi saya yang sudah tidak mampu lagi menjadi hakim.” Jawab Ubeid.

“Mengapa demikian wahai hakim?”

“Khalifah yang saya hormati, bagi seorang hakim, yang tidak dapat melaksanakan tugasnya, lebih baik ia di rumah saja.”

“Siapa yang menghalangimu untuk melaksanakan tugasmu itu?”

“Gubernur Isa bin Jakfar.” Ubeid menjelaskan kronologi pengiriman 3 surat kepada gubernur yang tidak diindahkan sama sekali.

Mendengar laporan Ubeid, marah lah sang khalifah. Dipanggil lah para petugas kepolisian. Khalifah memerintahkan para polisi untuk menutup pintu rumah gubernur dari luar. Tidak boleh seorang pun yang masuk maupun keluar dari rumah tersebut.

Para petugas dari kepolisian segera melaksanakan perintah khalifah. Melihat kedatangan para polisi, gubernur mengira bahwa khalifah telah memberi perintah untuk membunuhnya. Anak dan isterinya menangis ketakutan.

Baca Juga: Kisah Pertemuan Dua Wali Allah

Alhasil, gubernur Isa bin Jakfar menanyakan apa yang dilakukan para petugas ini kepada kepala kepolisian. “Mengapa pintu-pintu di rumahku dikunci. Apa yang kalian inginkan? Apa salahku?” Tanya gubernur.

“Khalifah telah memerintahkan kami untuk mengunci dan menjaga rumah ini.” Jawab kepala kepolisian tersebut. “Anda juga tidak diperbolehkan meninggalkan rumah ini sampai Anda membayar lunas hutang-hutang atau memenuhi panggilan pengadilan.” Lanjut kepada kepolisian tersebut.

Setelah mendengar jawaban dari kepada kepolisian, gubernur segera menggerakkan langkahnya untuk memasuki sebuah ruangan. Diambillah uang setengah juta dirham. Jumlah yang sesuai dengan hutang sang gubernur kepada seseorang yang mengadu kepada Ubeid.

“Bawalah uang ini dan berikan kepada orang yang telah meminjamkannya kepadaku!” Perintah gubernur.

Kepala kepolisian segera membuka kembali pintu-pintu rumah gubernur.

“Sekarang Anda sudah bebas kembali. Tetapi khalifah berpesan untuk selanjutnya, meskipun Anda seorang gubernur, Anda tidak bisa berbuat seenaknya. Apalagi dalam persoalan hutang atau membangkang kepada pengadilan. Sebagai seorang gubernur, hal itu tidak menjamin akan kekebalan hukum. Kali ini, khalifah masih berkenan untuk tidak memberikan hukuman yang lebih berat.” Jelas kepala kepolisian tersebut.

Setelah kasus hutang gubernur selesai, Ubeid kembali masuk kantor untuk melanjutkan tugasnya sebagai hakim di pengadilan.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Buku, Kuburan, dan Kisah Pemancing Gagal

Next Article

Pesantren Online, Kenapa Tidak?

Related Posts