pixabay.com

Berkeinginan Menghafal Al-Qur’an, Bagaimana Sebaiknya ?

Innamal a’malu bin niyat, wa innama likulli imriin maa nawaa, segala sesuatu itu bergantung dengan niat.

Tsaqafah.id – Saya adalah salah satu lulusan pesantren yang kini bergelut sebagai pengajar al-Qur’an di sebuah sekolah swasta yang berada di Provinsi Banten. Melalui tulisan ini saya hendak bercerita sedikit tentang pengalaman saya yang sehari-harinya bergelut sebagai pengajar al-Qur’an baik tahsin Qur’an atau tahfidz Qur’an.

Dewasa ini para orang tua senang dengan istilah ‘hafidz Qur’an.’ Mereka pun banyak yang mengantarkan putra-putrinya ke lembaga, pesantren, atau instansi lain yang mengusung program hafalan al-Qur’an. Para orang tua amat merasa bangga ketika anaknya mengikuti program hafalan al-Qur’an, sehingga kerap kali para orang tua mempertanyakan, “sudah sampai mana hafalan anak saya ya pak ustadz?,” tak jarang sebagai pengajar saya juga bingung menjawabnya, takut jika hafalan sang anak tak kunjung bertambah ia akan mendapat ‘hadiah’ dari orang tuanya.

Situasi tersebut amat sering saya temui sehari-hari. Terkadang saya berpikir bahwa beberapa lembaga tahfidz al-Qur’an di Indonesia dan pondok pesantren justru memiliki kriteria khusus dan ketat dalam menyaring dan menerima calon santri yang ingin menghafal al-Qur’an. Contohnya saja di lembaga  tahfidz al-Qur’an Yanbu’a Kudus, untuk mendaftar sebagai santri tahfidz harus melalui ujian yang bertahap-tahap, begitu juga tempat pesantren saya di Yogyakarta.

Tepat di PP Almunawwir Krapyak, untuk mengikuti program tahfidz Qur’an setiap santri akan dilihat benar-benar motivasi dan niatannya menghafal al-Qur’an. Para Kiai dan Ustadz kerap kali memberi wejangan agar al-Qur’an selalu dinomor satukan dalam kehidupan kita ketika memilih jalan menjadi penghafal al-Qur’an. Tak jarang  beberapa santri juga terkadang dianjurkan berhenti dulu untuk kembali menata niat ketika al-Qur’an tidak lagi menjadi prioritas utamanya, biasanya para guru bisa mengetahui hal ini pada setiap diri santri.

Baca juga: Mengenal Mushaf Pojok: Sejarah, Perkembangan dan Karakteristik

Namun, dewasa ini ada beberapa lembaga yang hanya membawa embel-embel ‘program tahfidz’ tanpa tahu tujuan dan tanggung jawab dalam menjalankan program tahfidz yang sebenarnya. Alih-alih menjadi sarana dalam syiar agama Islam, justru program ‘tahfidz al-Qur’an’ hanya dijadikan alat marketing sebuah yayasan atau lembaga.

Tujuan Menghafal Al-Qur’an

Maka dari itu, sebelum memutuskan menjadi seorang penghafal al-Qur’an alangkah baiknya kita mengetahui esensi dari menghafal al-Qur’an. Menghafal al-Qur’an adalah bentuk ibadah yang disukai Allah SWT. Allah SWT memuliakan para penghafal al-Qur’an dimanapun berada, dalam sebuah hadist Imam Tirmidzi meriwayatkan,

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ 

Kata ‘Abdullah ibn Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).

Begitu mulianya orang yang membaca al-Qur’an, terlebih juga menghafalkannya karena dengan menghafal pasti akan banyak membaca. Namun menghafal al-Qur’an harus diawali dengan niatan yang baik yaitu hanya untuk mengharap ridho Allah SWT. 

Niat adalah hal yang sangat penting. Hendaknya niat dan tujuan dalam menghafal al-Qur’an harus diperbaharui dan selalu diperbaiki dari waktu ke waktu karena niat akan membedakan suatu amal dan perbuatan di hadapan Allah SWT.

Saya pun selalu menanyakan kepada santri tentang alasannya menghafal al-Qur’an. Amat sering saya dapati bahwa keinginan mereka menghafal yakni ingin menghadiahkan kedua orang tua mahkota surga, menjadi keluarga Nabi dan Rasul, bahkan ada yang menghafal agar bisa mendapatkan beasiswa Timur Tengah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua niat yang disebutkan tadi, namun demikian mengkultuskan sebuah niat demi tujuan yang bukan karena Allah semata amatlah tidak dianjurkan.

Menghafal al-Qur’an seharusnya didasari dari hati dan murni karena mengharap ridha Allah SWT, ikhlas tanpa meminta apapun. Pengasuh di pesantren saya di Yogyakarta selalu mengatakan bahwa menghafal al-Qur’an adalah hal yang cukup berat karena mengandung pertanggungjawaban-pertanggungjawaban dengan Allah. 

“Ngapalke Qur’an kui abot, perniagaan paling besar karo gusti Allah,”  menghafal Qur’an itu berat karena ia merupakan perdagangan dengan Allah SWT langsung, begitulah selalu diucapkan oleh salah satu pengasuh pesantren al-Qur’an pertama di Indonesia itu.

Oleh karenanya ketika hendak memutuskan menjadi seorang penghafal al-Qur’an sebaiknya dibarengi dengan niat yang baik murni untuk mengharap ridho Allah ta’ala. Ketika niatan sudah kuat tertanam insya Allah berbagai cobaan yang datang akan dapat dilalui. Sehingga menghafal al-Qur’an akan mengantarkannya pada pribadi baik yang memiliki akhlak al-Qur’an. (UN)

Wallahu’alam

*Siti Shofiatul Marwah, Alumni UIN Sunan Kalijaga, kini aktif sebagai pengajar Al-Qur’an

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Baik Belum Tentu Bermanfaat

Next Article

Memekarkan Pendidikan Literasi Digital

Related Posts