Buku, Kuburan, dan Kisah Pemancing Gagal

“Kang, novel yang menceritakan kegagalan pemancing sampai seratus kali ini, kenapa sampai terkenal dan dapat penghargaan Nobel? Wong cuma menceritakan kegagalan kok. Padahal kan banyak kisah-kisah pemancing yang lebih cepat dan sukses mendapatkan hasil tangkapannya?”

Tsaqafah.id – Apa hubungannya toko buku dengan kuburan? Koreksi jika salah, tapi setiap bermain ke toko buku, rencana awal untuk membeli satu judul buku bakal goyah ketika berhadapan dengan seabrek judul dalam etalase buku. Hanya segaris nasib baik yang membawa kita tidak memborong berjudul-judul buku itu.

Kalau boleh dikatakan, nasib mujur dari kebiasaan pergi ke toko buku itu hanya pengetahuan ringan perihal mengenali buku-buku lama dan baru yang tersingkir dari ruangan kecil di ingatan kita.

Kuburan? Kuburan juga bikin goyah. Bedanya, krentek ati bakal terombang-ambing kala berdoa. Akan lebih kencang goncangannya jika kita hendak mengunduh permintaan. Mulai permintaan sepele, seperti rezeki sampai permintaan-permintaan antara hidup dan mati.

Seperti buku, kuburan juga bikin nyaman, kata Dewi Ayu dalam Cantik itu Luka karangan Eka Kurniawan “kalau tidak nyaman, mereka (orang yang meninggal) pasti akan bangkit dari kubur.”

Baca Juga: Jejak Kecil Rumah Tembakau, Representasi Agama dan Seni di Desa Tembakau

Di dua tempat itu, alih-alih mendapat satu harapan tertentu, kita justru kesulitan menjaga kecermatan antara kebutuhan dan keinginan. Keduanya sekilas terdengar mirip. Tapi apabila dipikir lebih jauh, kemiripan itu tetap mempunyai identitasnya masing-masing.

Pengambilan keputusan kemudian hanya bergantung pada bagaimana cara kita mengendalikan sikap terhadap dua tarikan tersebut. Bagaimana cara kita memantapkan keyakinan terhadap kebutuhan dan keinginan hidup. Maka tidak jarang banyak keputusan dirasa berhasil kala sanggup memisahkan kedua hal tersebut.

Di sini saya teringat novelnya Ernest Hemingway berjudul The . . . . . . Old Man and The Sea yang saya baca lima tahun silam—mohon koreksi kalau nanti agak gratulan dalam menjelaskan. Novel sejenis itu ada banyak sih sebenarnya, seperti roman bangsa Persia, Aladin dan Sinbad Si Pelaut. Atau karya Orhan Pamuk, novelis Turki, yang berjudul The Red Haired Women.

Pernah suatu kali saya merekomendasikan novel The Old Man and The Sea ini kepada salah satu teman. Dia mengijabahi rekomendasiku dan khusyuk merampungkannya.

Dari hasil bacaannya, seperti yang kuduga, dia mengeluh. “Kang, novel yang menceritakan kegagalan pemancing sampai seratus kali ini, kenapa sampai terkenal dan dapat penghargaan Nobel? Wong cuma menceritakan kegagalan kok. Padahal kan banyak kisah-kisah pemancing yang lebih cepat dan sukses mendapatkan hasil tangkapannya?”

Baca Juga: Menikmati Dunia Petualang dan Belajar Menjadi Perempuan Berdaya dari Film Enola Holmes 

Saya sedikit heran sekaligus geli mendengar “pertanyaan yang benar” itu. Haha  

Melalui judul novel itu, Hemingway sengaja membenturkan kerapuhan (orangtua) dan kegagahan (laut). Benar orangtua memiliki pengalaman, sedang laut sang Bandar yang memainkan kendali permainan. Pengalaman orangtua dalam menggagahi laut diuji ketika dia gagal berkali-kali dari tak terhitung percobaan yang dia lakukan.

Berhari-hari mengambang di laut bersama anak kecil. Orangtua itu sedih? Tentu. Dia meratapi “kenapa hidupku semalang dan semenderita ini”.  Tapi apakah dia menyerah? Tidak sampai dia mengambil keputusan untuk mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya hingga menuai Tuna impiannya usai berkali-kali gagal. Apakah karena itu kita perlu mengimani takdir dengan ikhtiar lahir-batin tak bertepi?

Total
322
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Apa Bisa Menjadi Pemalas Tapi Produktif ?

Next Article

Apabila Salah, Gubernur Juga Patut Dihukum

Related Posts