Dalam psikologi, ada satu bidang penting bernama environmental psychology, cabang ilmu yang mempelajari bagaimana lingkungan memengaruhi kesehatan mental, perilaku, dan identitas manusia. Gagasan ini berkembang dari pemikiran yang melihat bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari ruang hidupnya. Alam hadir sebagai bagian dari sistem saraf emosional kita.
Pernahkah kamu berdiri di tepi sungai yang menghitam, atau melihat perbukitan yang perlahan gundul berganti beton, kerusakan alam akibat penambangan ilegal, ataupun berita bencana di belahan dunia manapun, lalu merasakan sebuah sesak yang tak terjelaskan di dada?
Itu bukan perasaan berlebihan. Itu adalah sinyal dari jiwa yang menyadari bahwa rumah besarnya sedang tidak baik-baik saja. Psikolog Harold Proshansky dari bukunya Place Identity menyebutkan bahwa tempat selain sebagai latar hidup manusia, dari tempatlah juga dapat membentuk ingatan, emosi, dan rasa tentang siapa diri kita. Itulah kenapa kerusakan alam=kelelahan batin.
Baca juga: Cinta Alam: Manifestasi Spiritual dan Ibadah Sosial
Dalam bahasa iman, keterputusan ini berakar dari hilangnya kesadaran akan amanah. Allah Swt. telah mengingatkan dalam kalam-Nya:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.”
(QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini terasa sangat dekat dengan realitas hari ini. Kerusakan di luar diri sering kali berjalan seiring dengan kegelisahan di dalam diri.
Krisis Makna dan Normalisasi Kerusakan
Ketika lingkungan rusak, pikiran manusia meresponsnya sebagai ancaman yang menetap. Ia hadir pelan, samar, namun terus bekerja di bawah sadar. Muncul pertanyaan tentang masa depan, tentang keamanan hidup, tentang dunia yang akan diwariskan. Pemikir lingkungan seperti Glenn Albrecht menyebut kegelisahan ini sebagai eco-anxiety—kecemasan eksistensial yang lahir karena dunia yang kita tinggali sedang terluka.
Masalahnya, kita hidup dalam sistem yang menuntut kita tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Kita sadar bumi rusak, tetapi tetap didorong untuk membeli lebih banyak, bergerak lebih cepat, dan mengejar lebih jauh. Ketegangan batin ini pernah dijelaskan oleh psikolog Leon Festinger sebagai konflik antara nilai dan tindakan yang dijalani. Lama-kelamaan, konflik ini menguras energi mental.
Baca juga: Problematika dan Solusi Krisis Lingkungan Perspektif AL-Qur’an
Di titik ini, jarak dengan Tuhan menjadi terasa sebagai krisis arah nilai. Ketika nilai transenden memudar, manusia kehilangan kompas moral. Banyak keputusan diambil atas nama efisiensi dan pertumbuhan, tanpa cukup ruang bagi keadilan dan keseimbangan. Psikolog Albert Bandura menyebut kondisi ini sebagai kemampuan manusia untuk menormalkan kerusakan dan memisahkan tindakan dari tanggung jawab etiknya. Hutan gundul menjadi data. Sungai tercemar menjadi biaya pembangunan.
Melawan Lupa dengan Kesadaran
Pernahkah kamu merasa bahwa semakin banyak yang kamu miliki, semakin hampa rasanya? Dalam tradisi Islam, keadaan ini disebut ghaflah—lupa terhadap asal-usul dan batas. Manusia modern mencoba menutup kehampaan dengan materi, padahal yang dirindukan jiwa adalah keterhubungan yang lebih dalam.
Seorang biolog, Edward O. Wilson, pernah menulis bahwa manusia memiliki keterikatan emosional alami dengan kehidupan lain di sekitarnya. Ketika hubungan ini terputus, muncul kehampaan yang sulit dijelaskan. Sebaliknya, menyentuh tanah, menanam, dan merawat kehidupan sering kali menghadirkan ketenangan yang sederhana namun nyata.
Dalam konteks ini, merawat bumi bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga praktik makna. Dalam Islam, ini sejalan dengan konsep ihsan—berbuat baik bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Psikiater Viktor Frankl pernah mengatakan bahwa manusia mampu bertahan dalam tekanan selama hidupnya bermakna. Dalam konteks ini, merawat bumi bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga praktik makna. Dalam Islam, ini sejalan dengan konsep ihsan—berbuat baik bahkan ketika tidak ada yang melihat. Rasulullah SAW bersabda:
“Jika kiamat terjadi dan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad)
Jalan Pulang
Ramadan dan momen ibadah kolektif lainnya hadir sebagai jeda yang disengaja. Ia memperlambat langkah, melatih pengendalian diri, dan mengingatkan kembali relasi manusia dengan Tuhan, tubuh, dan bumi.
Penyembuhan mental hari ini tidak hanya dimulai dari pertanyaan tentang apa yang salah dalam diri, tetapi juga keberanian untuk meninjau ulang cara hidup bersama. Bumi yang luka dan diri yang lelah berjalan beriringan. Keduanya saling mencerminkan.
Di tengah dunia yang kehilangan nilai universal seperti keadilan, keseimbangan, dan amanah, merawat satu potong tanah atau satu kebiasaan kecil menjadi bentuk kepedulian yang sunyi sekaligus manusiawi. Menjadi sehat secara psikologis berarti tetap cukup waras untuk peduli. Karena merawat alam, pada akhirnya, adalah cara kita menjaga kewarasan jiwa kita sendiri.
Baca juga: Merasa Cukup dalam Pandangan Agama untuk Menjaga Lingkungan

