Gus Ghofur: Doa Orang yang ditimpa Sakit itu Mustajab

Tsaqafah.id – Sakit merupakan sesuatu hal yang pasti pernah dirasakan oleh setiap orang. Masing-masing individu memiliki respon yang berbeda, ada yang memberi respon positif dengan bersabar, ada yang bersyukur karena setiap cobaan pasti akan ada hikmah tersendiri, seperti pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

Rasulullah Bersabda “Tiada yang menimpa Muslim, baik berupa sakit atau penyakit kroni, kebimbangan, kesedihan, penderitaan, hingga duri yang menusuk (tubuhnya), melainkan dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR al-Bukhori. 5209)

Ada juga orang yang merespon negatif dari setiap penyakit yang dideritanya, seperti sering berkeluh kesah, tidak adanya sabar ketika menghadapi penyakit yang dideritanya. Tetapi Rasulullah melarang orang-orang yang selalu berpikir negatif terhadap rasa sakit yang dideritanya, seperti riwayat pada hadis Muslim.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ أَوْ أُمِّ الْمُسَيَّبِ فَقَالَ مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ تُزَفْزِفِينَ قَالَتْ الْحُمَّى لَا بَارَكَ اللَّهُ فِيهَا فَقَالَ لَا تَسُبِّي الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah menemui Ummu As-Saa’ib, beliau bertanya : ”Kenapa engkau menggigil seperti ini wahai Ummu As-Saa’ib?” Kemudian Wanita itu menjawab : “Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada barakahnya sama sekali.” Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi.” (HR. Muslim)

Ketika seseorang ditimpa sakit, orang-orang akan memberikan doa agar Allah segera mengambil musibah dan sakit yang ditimpanya, tapi tak banyak orang mau meminta doa dari orang yang sedang ditimpa sakit tersebut.

Baca Juga: Tercabutnya Ilmu Melalui Wafatnya Para Ulama

Perlu diketahui bahwa doa orang yang sedang ditimpa musibah sakit itu mustajab, sebagaimana yang dijelaskan oleh KH Abdul Ghofur Maimoen atau Gus Ghofur yang merupakan putra dari Almarhum KH Maimoen Zubair pada acara doa bersama dalam rangka memperingati 3 hari wafatnya KH Attabik Ali.

Pada kesempatan tersebut beliau menceritakan, Kanjeng Nabi Saw sudah memberikan contoh bahwa pada saat itu ada salah satu sahabat yang bernama Abdullah bin Mas’ud sowan (istilah bahasa Jawa yang berarti berkunjung kepada orang yang lebih tinggi derajat atau lebih tua) kepada Kanjeng Nabi Saw yang pada saat itu beliau sedang ditimpa demam. 

Abdullah bin Mas’ud kemudian berbicara kepada Kanjeng Nabi “Ya Rasulullah, Engkau panas luar biasa” sambil dipegangnya badan Nabi Muhammad Saw. Lantas Kanjeng Nabi menjawab kepada sahabat tersebut “Ya memang benar, aku kalau panas itu dua kali lipat panasnya dari orang biasa”.

Gus Ghofur melanjutkan ceritanya, bahwa Kanjeng Nabi itu sakitnya dibuat dua kali lipat agar orang biasa tidak terlalu meratapi sakit yang dideritanya. Kemudian Abdullah bin Mas’ud juga bertanya kepada Kanjeng Nabi “Apa itu nanti pahalanya Kanjeng Nabi juga dua?”, Kanjeng Nabi menjawab “Iya, pahala yang saya dapat dua”.

Gus Ghofur menceritakan juga, bahwa Nabi Muhammad Saw pernah menjenguk pemuda yang sedang sakit, pada saat itu Kanjeng Nabi bertanya pada pemuda tersebut “ماذا تجد؟” (Apa yang kamu dapatkan?)

Kemudian pemuda tersebut menjawab “ ان ارجو رحمة الله, وان اخفو ذنبى” (Aku berharap rahmatnya Allah, tapi aku juga takut dosa-dosaku)

Kemudian Kanjeng Nabi menjelaskan bahwa ketika seseorang yang ditimpa sakit ini mempunyai dua sifat  رَجَاء (memohon) dan خوف  (takut), maka apapun yang diharapkan akan dikabulkan dan dosanya diampuni oleh Allah Swt.

Baca Juga: Sikap Wajar atas Menstruasi yang Diajarkan Rasulullah SAW 

Maka dari itu, ketika ada orang yang sedang ditimpa sakit, banyak orang yang mendoakannya, padahal orang-orang ini yang harusnya meminta juga untuk didoakan, karena doa orang yang ditimpa sakit itu mustajab.

Namun, Gus Ghofur menambahkan bahwa Kanjeng Nabi melarang orang-orang yang berharap untuk diberi sakit. Kanjeng Nabi juga setiap harinya melantunkan doa ‘Afiyah yang berbunyi :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى

Artinya: “Ya Allah, aku memohon keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut…” (Imam Nawawi, al-Adzkar, Semarang: Alawiyah, hal. 74).

Kanjeng Nabi mengajarkan kepada kita agar selalu berharap diberi keselamatan dunia dan akhirat. Semoga kita semua diberikan kesehatan serta keselamatan dan akhirat. Aamiin.

Total
4
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Pro-Kontra Puasa Bulan Rajab

Next Article

Begini Sahnya Wudhu bagi Muslimah Ber-Make Up

Related Posts
Read More

Gemuruh Headline Islam

Citra keliru yang tercermin dari kelancangan-kelancangan influencer/penyuluh agama di publik virtual ini mengerucutkan mafsadah; pasar bebas narasi keislaman publik.