Gemuruh Headline Islam

Citra keliru yang tercermin dari kelancangan-kelancangan influencer/penyuluh agama di publik virtual ini mengerucutkan mafsadah; pasar bebas narasi keislaman publik.

Tsaqafah.id – Air buat kopi yang sedianya kuhidangkan untuk mengusir kantuk tak kunjung mendidih, malah gemuruh sumpah-serapah tersiar lantang dari mulut teman yang berkali-kali menguap seakan ingin memuntahkan mimpi buruknya. Tapi tidak, justru yang keluar adalah selarik kalimat tanya emosional, “Abu Janda ini siapa? Kok berani menyebut Islam itu Arogan.”

Di kala Matahari baru menepis lapis kabut, pagiku kalut berkabut fakta kalimat tanya itu. Nahas.

Sedari muncul headline yang menyebut Abu Janda dengan cuitan Islam sebagai agama pendatang yang arogan, pikiran warasku dengan cukup fasih mengatakan; enggan berkomentar. Emoh. Tapi toh saya tetap tidak tega. Demi menyembuhkan teman yang kadung muntah tadi, kali ini—sembari tetap menyiapkan kopi—kuakui saya insaf.

Kupersilakan dia bersila, bersemuka berteman kopi. Gerujuk pertanyaan mulai bolak-balik dia sodorkan sedang bola matanya melirik gawai yang tergenggam. Tidak sebagaimana air yang kujerang, dengan kepala dingin kujawab; jangan melawan api dengan api.

Saya yang enggan-engganan itu tetap merasa harus hati-hati. Karena itu, saya selalu mengingat prinsip sederhana dalam sebuah hadis yang kurang lebih bunyinya demikian, “lihat apa yang dikatakan jangan lihat siapa yang mengatakannya”. Jawaban yang akan kutulis di bawah ini dengan tambahan dan pembaruan materi.

Elok dan Bombastis

Seperti didera kesemutan kala bangkit dari duduk panjang, tiba-tiba jamak berserak headline siaran episode baru cuitan Abu Janda di publik virtual, mulai dari yang pro-kontra, penyusup di NU, dan pelintiran kebencian (hate-spin). Belum seutuhnya pulih, kaki kesemutan itu alih-alih diistirahatkan sejenak, malah dipaksa memanjati tangga kelas dari “penyuluh” twitter ke “penyuluh” agama? Satu titik yang sedianya dipakai kaki bertumpu, seketika gontai menjalar ke cara bagaimana ia berjalan; pincang.

Ihwal kelahiran influencer agama ini pernah disinggung di dalam kolom Maria Fauzi berjudul “Lahirnya Influencer Dakwah” (detik,08/01/2021) yang menunjukkan kelahiran influencer sebagai rantai pertumbuhan dari Muslim kelas menengah (muslim middle class) di perkotaan—yang masih perlu belajar ngaji—yang lentur terhadap perubahan zaman dan penggunaan teknologi. Tapi Maria hanya menyorot influencer publik yang mengadopsi budaya populer, belum sampai jauh menyorot influencer agamis-politis, seperti Abu Janda dan Tengku Zul.

Citra keliru yang tercermin dari kelancangan-kelancangan influencer/penyuluh agama di publik virtual ini mengerucutkan mafsadah; pasar bebas narasi keislaman publik. Sehingga headline Islam kemudian disifati oleh wirausahawan politik sebagai barang yang elok dan bombastis yang sedap jika digoreng. Yaitu golongan New-Islamism, yang hanya menghasilkan drama berita utama (dramatic headlines) tapi sungsang dalam memberikan pengaruh kepada masyarakat.

Secara keseluruhan, tren terhadap moderasi sudah selesai—termasuk Islamis dalam proses politik. Dan seiring berjalannya waktu, ideologi dan taktik mereka akan moderat guna bisa diterima oleh iklim demokrasi

Alih-alih geram dengan pernyataan Abu Janda saya justru menyoroti kelucuan debat yang dilakukan oleh Abu Janda dengan tokoh 212 Tengku Zulkarnain yang jauh panggang dari api. Mereka seolah-olah melawan api dengan api.

Bolehlah sebentar kita duduk tenang dalam kondisi waras dan mendapati fakta bahwa berkali-kali kita membaca headline Islam yang emosional—selain permainan SEO—sedang mempertentangkan dua kubu Islam sendiri (the clash inside Islamic civilization). Permasalahan dipecahkan dengan musyawarah dalam Islam. Tapi di ruang publik virtual, musyawarah justru sering terperangkap pada jala pasal karet UU ITE.  

Baca Juga: Memekarkan Pendidikan Literasi Digital 

Dekorasi Publik

Ketersinggungan sejarah sosial itu dan kepakaran Islam yang timpang ini berdampak pada respon terhadap isu keagamaan yang jamak disikapi secara serba gumunan dan kagetan. Ketimpangan keterbalikan yang tidak kalah banyak adalah persoalan “balas-membalas”. Misal komentar dari seorang ahli dikomentari oleh yang tidak ahli, seorang yang tidak ahli berbalas komentar dengan yang tidak ahli pula, dan begitu seterusnya.

Secara sosiologis, dari pengaruh interaksi dialog multi-face di internet tersebut, muncul apa yang diistilahkan oleh Dale F Eickman dan Jon W Anderson (2003) sebagai ruang publik Muslim (muslim public sphere). Istilah ini menggambarkan bagaimana seorang Muslim, intelektual di negara-negara beragama Islam berusaha membangun pemahaman tentang Islam melintasi batas geografis dan kultural dengan pemanfaatan teknologi media baru (new media) dengan digitalisasi dan/atau visualisasi ajaran sebagai itikad dakwahnya.

Ala kullil hal, ruang publik muslim baru (new muslim public sphere) semestinya didekorasi oleh kemampuan inklusif inteligensia muslim modern yang canggih, terbarukan dengan asas keislaman Indonesia yang moderat. Tidak melulu dibutakan oleh oposisi biner, mana kawan dan mana lawan. Influencer yang belakangan membuat gaduh baiknya ditertibkan dengan ajakan untuk kembali mengaji dan mengkaji Islam.

Lebih nahas lagi, ada pola yang kini merekah dan tak terkendali,—dan ini yang tidak kami harapkan—bahwa budaya pergunjingan Islam vis a vis Islam itu berpotensi memecah, mencitrakan wajah garang dan bahkan menularkan artikulasi kebahasaan yang lemah, monoton, dan resmi sekali yang ditularkan lewat perbincangan dan perdebatan  tak berujung.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Tercabutnya Ilmu Melalui Wafatnya Para Ulama

Next Article

Pro-Kontra Puasa Bulan Rajab

Related Posts