Tsaqafah.id – Dalam ilmu tajwid, kesalahan pengucapan huruf dalam membaca Al-Qur’an, dikenal sebagai “lahan” atau kesalahan fonetis. Kesalahan ini terjadi ketika pembaca tidak mengeluarkan huruf dari tempat keluarnya huruf yang benar atau mengabaikan sifat-sifat huruf, yang menyebabkan arti ayat berubah atau tidak sesuai dengan maksudnya. Dua jenis lahan adalah: pertama, lahan jali (kesalahan besar) yang mengubah makna dan haram dan kedua, lahan khafi (kesalahan kecil) tidak mengubah makna tetapi tetap harus dihindari.
Dalil penting terkait keharusan membaca Al-Qur’an dengan benar adalah firman Allah dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4:
“وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا”
Artinya: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil perlahan-lahan dan benar.”
Ayat ini menekankan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar. Selain itu, Imam Al-Qurthubi didalam kitab tafsirnya Tafsir al-Jami’ li ahkam Al-Qur’an, yang sering disebut dengan Tafsir al-Qurthubi. Menjelaskan firman Allah dalam surah Al-Muzzammil ayat 4 ini mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an harus dilakukan dengan tartil, yakni perlahan-lahan, tenang, dan jelas. Tidak boleh terburu-buru atau cepat-cepat dalam membaca, karena membaca dengan tartil memberi kesempatan bagi pembaca untuk memahami dan merenungi makna dari ayat-ayat yang dibaca. Lalu seorang mufasir menambahkan penjelasan diatas dengan perkataan:
وقال الضحاك : اقرأه حرفا حرفا
Bahwa pembacaan yang benar adalah “huruf demi huruf,” artinya, setiap huruf dalam Al-Qur’an harus diperhatikan dan diucapkan dengan benar tanpa ada yang terlewat atau disalahartikan. Hal ini menunjukkan pentingnya kesempurnaan pengucapan dalam rangka menjaga keaslian bacaan dan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Baca Juga Ilmu Qira’at (1): Kesalahan Makharijul Huruf dan Sifatnya dalam Membaca Al-Qur’an
قال الإمام حمزة الزيات: “إن الرجل يقرأ القرآن فما يلحن حرفا، أو قال : فما يخطئ حرفا، وما هو من القراءة في شيء”. فعلّق عليه الإمام الداني قائلا : “يريد أنه لا يقيم قراءته على حدّها، ولا يؤدي ألفاظه على حقها، ولا يؤتي الحروف صيغتها، ولا ينزّلها منازلها من التخليص والتبيين والتمكين. (التحديد في الإتقان والتجويد. أبو عمرالداني. مكتبة دارعمان، الأردن ص:85)
Dalam kutipan ini, ahli qira’at Imam Hamzah Az-Zayyat berbicara tentang fenomena di mana seseorang dapat membaca Al-Qur’an tanpa melakukan kesalahan pelafalan huruf yang jelas atau nyata, tetapi bacaannya tetap tidak memenuhi standar qira’at yang baik dan benar.
Imam Ad-Dani kemudian menjelaskan pernyataan Imam Hamzah. Dia menyatakan bahwa meskipun secara teknis mungkin bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an tanpa melakukan kesalahan besar, atau lahan jali, dia tidak memberikan hak yang tepat kepada seseorang untuk membacanya. Ini mencakup beberapa elemen qira’at yang penting. Secara keseluruhan, meskipun seseorang mungkin tidak membuat kesalahan besar dalam pelafalan huruf-huruf Al-Qur’an, tetap penting untuk memperhatikan semua aturan tajwid dan aspek bacaan yang benar. (At-Tahdid fi Al-Itqan wa At-Tajwid, Abu Amr Ad-Dani, Maktabah Dar ‘Uman, Yordania, hal. 85)
Karena Al-Qur’an harus dibaca sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah dan diwariskan melalui qira’at yang mutawatir, ilmu tajwid sangat memperhatikan kesalahan atau kesalahan bacaan. Para ulama tajwid telah merumuskan berbagai kesalahan ini dan membuat istilah khusus untuk menjelaskannya. Kesalahan-kesalahan ini dianggap serius karena dapat mengubah makna Al-Qur’an atau merusak bahasa Arab yang indah dan fasih saat dibaca. Berikut ini adalah istilah-istilah mengenai kesalahan pengucapan huruf dalam membaca al-Qur’an:
Baca Juga Kenapa Kebanyakan Ulama Gemuk?
Al-Ibtihar (الابتهار):
Berlebihan dalam pengucapan, terjadi pada huruf “هاء” karena kelemahannya dan sifat hembusannya (hamas). Pembaca berlebihan dalam mengeluarkan huruf “هاء” sehingga nafas ikut keluar bersamanya, mengalir dari tenggorokan ke mulut. Akibatnya, seolah-olah makhraj (tempat keluarnya huruf) “هاء” itu terhubung antara tenggorokan dan mulut. (Al-muwadhih fi at-Tajwid, Abdul wahab al-Qurthubi, hal. 122)
Az-Zahr (الزحر):
Kesalahan ini terjadi ketika pembaca memanjangkan pengucapan huruf melebihi batasnya. Hal ini tidak hanya menyebabkan pembacaan menjadi salah, tetapi juga dapat mempengaruhi ekspresi fisik pembaca, seperti kulit wajah yang menjadi tegang karena usaha yang keras untuk memperpanjang huruf tersebut. Ini bertentangan dengan prinsip tartil dalam membaca Al-Qur’an, yang menekankan ketenangan dan kejelasan dalam pengucapan. (Bayan al-‘Uyub allati yajibu an yajtani biha al-Qurra, Ibnu al-Banna, hal. 32)
At-Tashdiq (التشديق):
Kesalahan ini terletak pada sifatnya yang memperpanjang pada pengucapan huruf dengan memiringkan lebih banyak bagian kanan mulut daripada bagian kirinya, dan mengandalkan kedua sisi mulut saat mengucapkan huruf-huruf yang berharakat kasrah, atau saat berpindah dari kasrah ke fathah, seperti dalam firman Allah Ta’ala: “إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ” atau saat berpindah ke dhammah, seperti dalam firman Allah Ta’ala: “بِالغَدَوةِ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ” (Surat Al-Kahf: 28). Tashdiq terjadi ketika huruf dipanjangkan dengan menggunakan kedua sisi mulut dan memiringkannya, sehingga huruf seolah-olah berpindah dari satu sisi mulut ke sisi yang lain karena panjang dan berlebihannya dalam pengucapan.
Baca Juga Perspektif Pernikahan Dini dalam Kisah Sayyidah Aisyah
Al-Lakz (اللكز)
Kesalahan ini terletak pada penekanan huruf dengan nafas yang kuat saat mengeluarkannya dengan berlebihan. Ini adalah pengucapan huruf hamzah yang berlebihan melebihi haknya, sehingga memberi tekanan yang berlebihan pada hamzah. Bahkan, kadang-kadang hamzah yang seharusnya diucapkan dengan sakinah (tanpa gerakan) berubah menjadi bergerak. Maksud dari al-lakz adalah menekan makhraj huruf hamzah dan berlebihan dalam pengucapannya, karena letak makhrajnya yang jauh (dari tenggorokan) dan sulit diucapkan.
قول الإمام ابن الجزري : “والناس متفاضلون في النطق بالهمزة على مقدار غلط طباعهم ورقتها، فمنهم من يلفظ بها لفظا تستبشعه الأسماع، ويتنبو عنه القلوب، ويثقل على العلماء بالقراءة، وذلك مكروه معيب من أخذ به. (التمهيد في علم التجويد، ابن الجزري. مكتبة المعارف، الرياض. ط:1. ص: 112).
Imam Ibnu Al-Jazari berpendapat : “Manusia berbeda-beda dalam cara pengucapan hamzah sesuai dengan kesalahan sifat alami mereka dan kekasaran lidah mereka. Di antara mereka, ada yang melafalkan hamzah dengan cara yang membuat telinga merasa tidak nyaman, hati menjadi terganggu, dan memberatkan para ahli baca Al-Qur’an. Hal ini tidak disukai dan dianggap tercela bagi yang melakukannya.” (Al-Tamhid fi Ilmi At-Tajwid, Ibn Al-Jazari. Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh. Edisi 1. Hal. 112).
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga keaslian dan kefasihan bacaan Al-Qur’an, sangat penting untuk mengucapkan huruf-hurufnya dengan benar. Kesalahan seperti al-ibtihar, az-zahr, at-tashdiq, dan al-lakz menunjukkan bahwa, meskipun seseorang mungkin tidak melakukan kesalahan yang signifikan (seperti lahan jali), bacaannya tetap tidak memenuhi standar ilmu qira’at jika ia tidak memperhatikan aturan tajwid yang benar.
Menurut Imam Ibnu Al-Jazari, cara orang mengucapkan hamzah berbeda-beda tergantung pada seberapa kasar atau lembut lidah mereka. Pengucapan hamzah yang kasar atau berlebihan dapat mengganggu pendengaran, menyulitkan hati untuk menerima bacaan, dan bahkan memberatkan para ahli qira’at. Akibatnya, orang menganggap hal ini tercela dan tidak disukai saat membaca Al-Qur’an.

