Tsaqafah.id – Air mata memiliki kedudukan penting dalam Islam maupun dalam kajian sains modern. Ia merupakan bagian penting dari sistem biologis manusia, terutama dalam menjaga kesehatan dan kejernihan mata. Mengeluarkan air mata bukan hanya pertanda manusia sedang bersedih.
Dalam Islam, ia merupakan simbol kelembutan hati, keimanan dan kedekatan seorang hamba dengan tuhanya. Hal tersebut biasa dinamai dengan sikap menangis. Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat al-Qur’an seperti QS. Al-Mā’idah (5):83, QS. Al-Isrā’ (17):109, dan QS. Maryam (19):58.
Sementara dalam sains, air mata memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan, sehingga kedua perspektif tersebut sama-sama melihat air mata sebagai anugerah yang memiliki fungsi mendalam bagi manusia. Apa sebenarnya air mata itu?
Secara ilmiah air mata diproduksi oleh kelenjar lakrimal yang berada diatas mata. Cairan tersebut memiliki fungsi untuk melembabkan kornea, membersihkan kotoran, mengandung zat anti bakteri, dan membantu proses penglihatan agar tetap jernih.
Menariknya manusia memiliki tiga jenis air mata, yaitu;
– Air mata basal: yaitu diproduksi secara terus menerus untuk menjaga kelembapan mata serta memberikan nutrisi pada kornea
– Air mata refleks: biasa terjadi saat iritasi, seperti terkena asap, debu, atau bawang. Air mata ini mengandung anti bodi yang lebih tinggi untuk melawan bakteri.
– Air mata emosial: ia muncul sebagai respons terhadap emosi seperti sedih, emosi, marah, atau bahagia. Jenis air mata ini memilki sifat yang unik karena ia mengandung hormon stress dan zat kimia yang dapat membantu menenangkan sistem saraf
Baca juga Air dan Manusia: Perspektif Tafsir As-Sya’rawi dan Tinjauan Sains
Adapun dalam Al-Qur’an tidak secara teknis membahasa mengenai komposisi air mata, tetapi ia banyak menggambarkan fenomena menangis sebagai tanda iman dan ketundukan kepada Allah. Seperti orang-orang shaleh, nabi, dan ahli ilmu yang menangis saat mendengar ayat-ayat Allah.
Beberapa diantaranya seperti: Dalam QS. Al-Mā’idah (5):83, Allah berfirman:
وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri).“
Ayat ini menggambarkan orang-orang Habsyah yang menagis ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an karena mereka mengetahui kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Dalam penafsiran Ibnu Katsir, tangisan yang disebutkan mencerminkan keimanan yang murni dan hati yang terbuka terhadap kebenaran dan menekankan bahwa tangisan ini bukan sekadar reaksi emosional, melainkan bukti hidayah dan bentuk ibadah hati yang menunjukkan kesungguhan iman serta keikhlasan dalam menerima Islam.
Dalam surat lain, Allah juga berfirman
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isrā’ (17):109)
Baca juga Menemukan Rasa Cukup: Belajar Qanaah dan Zuhud di Era FOMO
Ayat ini menegaskan bahwa orang beriman akan bersujud sambil menangis, dan hal tersebut akan menambah kekhusyukan mereka. Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibn Katsir menyatakan bahwa mereka yang menyungkur sambil menangis adalah orang-orang yang merendahkan diri di hadapan Allah SWT dengan keimanan yang sempurna.
Semakin khusyu’ seseorang maka ia akan ditambahkan hidayah dan ketakwaan oleh Allah SWT. Sedangkan air mata yang keluar saat sujud adalah ekspresi keimanan dan ketulusan yang semakin meningkatkan kekhusyukan dan ketakwaan seseorang. Allah juga menyinggung tentang fenomena menangis dalam QS. Maryam (19):58
إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
Ayat ini menggambarkan para nabi dan orang-orang saleh yang bersujud dan menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Seperti Dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, dalam ayat ini menegaskan bahwa saat ayat-ayat Allah dibacakan, orang-orang yang beriman bukan hanya tunduk secara fisik dengan menyungkur (sujud) tetapi juga menangis karena merasakan keagungan dan kekuasaan Allah.
Keselarasan Perspektif Al-Qur’an dan Sains Modern
Menangis ternyata bukan hanya bentuk ekspresi emosional atau bentuk kekhusyukan dalam ibadah, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi kesehatan, terutama mata dan tubuh. Al-Qur’an dan As-Sunnah menganjurkan menangis dalam beribadah, dan ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa hal ini memberikan dampak positif bagi tubuh. Seperti mengeluarkan racun dari tubuh, mengurangi stress, menenangkan pikiran, dan menjaga kesehatan mata.
Menangis dalam Islam pun dianggap mulia apabila dilakukan karena atas rasa takutnya kepada Allah, penyesalan atas dosa, syukur yang mendalam, hingga kekhusyukan ketika membaca Al-Qur’an.
Tinjauan air mata manusia dari sudut pandang Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa air mata adalah anugerah yang diberikan oleh pencipta, yang memiliki peran penting secara spiritual, biologis, dan psikologis. Dalam pandangan Al-Qur’an, menangis dipandang sebagai bentuk ketundukan, keimanan, dan kelembutan hati.
Sementara itu, sains modern membuktikan bahwa air mata memiliki fungsi penting dalam melindungi mata, membunuh bakteri, mengeluarkan hormon stres, dan memberikan ketenangan mental.
Dengan demikian, air mata tidak hanya berfungsi menjaga kesehatan tubuh tetapi juga menjadi sarana penyucian rohani. Keselarasan antara Al-Qur’an dan sains menunjukkan bahwa menangis adalah bagian alami dan penting dari keseimbangan kehidupan manusia.

