Kisah Mbah Hamid dan Pemuda yang Menjaga Air dalam Gelas

Siapa tidak mengenal K.H. Abdul Hamid? Kiai kharismatik tersebut lahir di Lasem, Rembang pada 1333 H. Ayahnya, Kiai Umar, adalah ulama dari Lasem dan ibunya merupakan putri dari Kiai Shiddiq.

Kiai Hamid sudah melalang buana belajar ke berbagai pesantren di nusantara. Di antaranya adalah Pesantren Talangsari, Jember, Pesantren Kasingan, Rembang, dan Pesantren Tremas, Pacitan.

Kiai Abdul Hamid dikenal karena kelembutannya. Banyak orang meyakini bahwa beliau tidak pernah marah, baik kepada santri maupun keluarganya. Banyak pula yang meyakini bahwa beliau merupakan salah satu dari wali Allah. Bahkan menurut Habib Umar Muthohhar hampir tidak ada pertentangan di kalangan ulama bahwa beliau adalah waliyullah.

Habib Umar Muthohhar menceritakan salah satu dari karomah beliau.  Mbah Hamid diceritakan mempunyai kebiasaan membaca wirid sehabis sholat subuh. Beliau baru turun dari masjid sehabis sholat dhuha.

Turun dari masjid, orang-orang sudah menunggu untuk mengecup tangan beliau. Sebagai manusia, mungkin saat itu beliau tengah merasa capek, sehingga para jamaah diminta untuk tidak bersalaman. “Sudah tidak perlu salaman tak doakan saja,” cerita Habib Umar Muthohar.

Di antara orang yang berkerumun tadi, ada anak muda yang mungkin belum mengerti kehidupan Mbah Hamid. Ia berbicara dalam hatinya,  “Jadi kiai enak ya, baru turun dari masjid aja banyak yang nunggu. Kalau satu orang satu amplop saja berapa amplop kalau sebanyak ini.”

Ternyata, Mbah Hamid yang kasyaf tersebut mengetahui apa yang ada dalam pikiran anak muda tersebut. Dipanggilah anak muda tersebut oleh Mbah Hamid. Sementara tamu yang lain yang sedari tadi ingin bersalaman tidak dipanggil. “Ayo rene kowe melok aku.” Keluarlah rasa bangga dari anak muda tersebut karena dipanggil oleh Mbah Hamid. Sementara jamaah yang lain tidak ada yang dipanggil.

Mbah . . . . . . hamid masuk kamar. Sementara anak muda tadi menunggu, kemudian keluarlah Mbah Hamid dan mengajak anak muda tadi untuk keliling Pasuruan dengan menaiki mobil.

Dalam masa itu, kondisi jalan belum sebagus sekarang. Masih banyak jalan yang berlubang. Pemuda tadi mendapat perintah khusus dari Mbah Hamid. Ia diperintah untuk membawa gelas yang berisi air penuh. Ia harus menjaga agar air ini tidak tumpah. Pemuda ini sebenarnya mengerti kalau perintah ini cukup sulit. Tapi, karena yang memerintah adalah Kiai Hamid, dia mengiyakan. Setiap ada jalan yang berlubang dia selalu menjaga agar air dalam gelas tersebut tidak tumpah.

Meskipun sudah menjaga dengan sekuat tenaga, air dalam gelas tetaplah tumpah. Pekerjaan menjaga air dalam gelas agar tidak tumpah sementara mobil melaju di atas jalan yang berlubang bukan lah pekerjaan gampang.

Setelah selesai berkeliling, Mbah Hamid memberikan penjelasan mengenai perintah tadi.

“Tadi ketika disuruh menjaga air dalam gelas agar tidak tumpah, kamu laksanakan?”

“Iya, Mbah.”

“Susah tidak?”

“Iya Mbah, susah.”

Mbah Hamid menjelaskan bahwa tugas kiai dan ulama dalam menjaga keimanan masyarakat jauh lebih susah dari menjaga air. Jangan hanya berpikir amplop amplop.

Tugas para kiai menjaga umat melalui pengajian, mejelis-majelis, berkeling dari satu tempat ke tempat lainnya lebih sulit. Hal tersebut merupakan bagian dari menjaga keimanan umat.

Mendengar penjelasan Mbah Hamid, sadarlah anak muda tadi. Ternyata ia dipanggil bukan karena ia dianggap setengah wali, tetapi hendak diingatkan dengan cara yang ramah dan lembut. Tidak dimarahi. Begitulah akhlak para kekasih Allah yang memiliki akhlak mulia, tidak marah terhadap orang yang menghinakannya. Wallahu’alamu bi showab.

Baca juga: Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al Buthi
Baca juga: Rihana, Wali Perempuan yang Menghabiskan Waktunya untuk Beribadah

Total
7
Shares
Previous Article

Refleksi Ihwal Beragama Sehari-hari dari film Tanda Tanya (?)

Next Article

Mengenali Ciri-ciri Rasulullah Saw dari Syair Lam Yahtalim

Related Posts