Mengenal Gagasan Nahwu Baru Syauqi Dhaif

Mengenal Gagasan Nahwu Baru Syauqi Dhaif

02 Januari 2021
1661 dilihat
4 menits, 25 detik

Tsaafah.id – Diskursus nahwu yang ada pada masa kini tak lepas dari upaya Abu al-Aswad al-Duali serta tokoh-tokoh setelahnya, seperti al-Khalil, Sibawaih, Ibnu Malik dan lainnya dalam menjaga keotentikan bahasa Arab. Seiring berjalannya zaman, nahwu selanjutnya mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Mulanya, nahwu diciptakan dengan tujuan menjaga masyarakat Arab dan non-Arab kala itu dari kekeliruan berbahasa Arab (lahn), terutama pada saat membaca al-Qur’an yang masih bersih dari tanda baca; titik dan harakat.

Besarnya gairah keilmuan waktu itu menggerakkan roda perkembangan dan dialektika nahwu dengan begitu pesat sehingga muncullah mazhab-mazhab nahwu seperti Bashrah dan Kufah.  Mazhab Bashrah dipunggawai oleh para linguis besar antara lain al-Khalil (w. 175 H), Sibawaih (w. 180 H), al-Akhfasy al-Ausath (w. 221 H), al-Mubarrid (w. 285 H). Sementara dalam mazhab Kufah ada al-Kisa’i (119 H), Hisyam al-Dharir (w. 209 H), al-Farra’ (144 H), Tsa’lab (w. 291) dan lainnya. Perkembangan tersebut akhirnya melahirkan berbagai macam teori yang masyhur dalam nahwu seperti ‘amil, sima’, ta’lil, qiyas, yang bersifat filosofis.

Namun, teori-teori yang sarat dengan analisis filosofis dan mendalam itu pada kemudian hari menjadi momok bagi pembelajar bahasa Arab. Sebab, nahwu yang dirumuskan oleh para linguis klasik itu telah tercerabut dari tujuan awalnya, yakni sebagai alat untuk mempelajari bahasa Arab, khususnya al-Quran. Lalu pada abad ke V Hijriah, muncul seorang linguis baru yang mendobrak pintu teori linguis klasik, ialah Ibnu Madha’ (w. 592 H) yang bernama asli Abu al-Abbas Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Madha’ melalui magnum opusnya al-Radd ‘ala al-Nuhat. Kelak, kitab inilah yang mengilhami tokoh-tokoh pembaharu modern, utamanya adalah Syauqi Dhaif dengan karyanya Tajdid al-Nahw, untuk mengembalikan tujuan awal lahirnya ilmu nahwu.

Biografi Syauqi Dhaif

Ahmad Syauqi bin Abdissalam Dhaif lahir di Dameitta, Mesir pada Kamis, 13 Januari 1910 atau 1 Muharram 1328 dan wafat pada 14  Maret 2005 pada usia 95 tahun. Khabibi M. Luthfi dalam Epistemologi Nahwu (Pedagosis) Modern (2020) sebagaimana Thaha Wadi dalam Syauqi Dhaif; Sirah wa Tahiyyah (2003) menceritakan ada dua tokoh besar dalam kajian bahasa dan sastra Arab yang bernama Ahmad Syauqi dan keduanya berasal dari Mesir. Pertama ialah Ahmad Syauqi bin Ali bin Ahmad, seorang amir syu’ara (rajanya para penyair) pada masanya (1868-1932). Kedua ialah Ahmad Syauqi Dhaif, seorang pakar linguis yang sedang kita singgung dalam tulisan ini.

Kendati, seperti yang dituturkan ayahnya, pemberian nama Ahmad Syauqi kepadanya bukanlah kebetulan, melainkan ber-tafa’ul kepada Ahmad Syauqi bin Ali, dengan harapan kelak Syauqi menjadi ilmuwan dan sastrawan besar dan Tuhan mengabulkan harapan itu.

Baca Juga: Korupsi dalam Al-Qur’an: Tipis Iman-Takwa dan Hukuman Seorang Pengkhianat

Upaya Syauqi dalam pembaharuan nahwu dimulai dengan men-tahqiq kembali magnum opus Ibnu Madha’, al-Radd ‘ala al-Nuhat. Kitab ini merupakan karya terpenting yang memberi warna baru bagi Syauqi dalam merekonstruksi kembali pemikiran nahwu yang berkembang selama ini. Ia meletakkan dasar pembaharuan nahwu dengan prinsip mudah, ringkas, sederhana, tidak bertele-tele dan mudah dipahami oleh pembelajar bahasa Arab, baik masyarakat Arab maupun non-Arab.

Gagasan-gagasan baru Syauqi tersebut ia tuangkan dalam karyanya yang berjudul Tajdid al-Nahw. Selain itu masih ada karyanya dalam bidang linguis sebagai lanjutan dari buku tersebut, yaitu Taisirat al-Lughawiyyah, dan Taisir al-Nahw al-Ta’limi Qadiman dan Haditsan ma’a Nahj Tajdidih. Namun, buku pertama lah yang mashur dikenal dalam belantika ilmu nahwu. Buku tersebut menyajikan konsep-konsep yang sederhana dalam pengajaran nahwu, sekaligus memberi warna baru bagi nahwu.

Sebelum masuk mendalam pada bahasan nahwu, Syauqi lebih dahulu menekuni bidang sastra.  Terbukti dengan banyaknya karya yang ia tulis mengenai disiplin ilmu sastra dan bahasa, di antaranya adalah Shadr al-Islam; al-Wudhuh wa al-Ghumud fi al-Syi’r, Tarikh al-Adab al-‘Arabiy yang berjumlah 7 dengan beragam wilayah dan masanya, dan lain sebagainya.

Gagasan Baru Nahwu Syauqi

Menurut Syauqi, dalam Tajdid al-Nahw, perkembangan negatif terhadap bahasa Arab saat ini dikarenakan materi nahwu yang disajikan dan dipelajari tidak efisien, teoritis, filosofis serta tidak mendukung para pembelajar bahasa Arab untuk mengaplikasikannya dalam komunikasi sosial mereka sehari-hari. Bersamaan dengan itu, ‘ketakutan’ terhadap gramatikal bahasa Arab semakin luas. Tak sedikit yang menganggap, nahwu adalah bagian bahasa Arab yang sulit dipelajari, membingungkan dan berbelit-belit, bahkan tak banyak membantu mereka dalam berkomunikasi.

Fakta di atas mendorong Syauqi untuk merekonstruksi nahwu menjadi mudah dan sederhana untuk dipelajari oleh kalangan pemula. Kendati, pemikirannya itu diilhami oleh pemikiran Ibnu Madha’ dalam al-Radd ‘ala al-Nuhat. Berikut gagasan yang ditawarkan Syauqi tentang nahwu bagi pemula;

Baca Juga: Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al-Buthi

Pertama, reformulasi bab-bab pembahasan materi nahwu. H. Sahkholid Nasution (2015) menjelaskan pemikiran Syauqi ini paling tidak didasarkan kepada pertimbangan psikologis, bahwa selama ini hampir setiap peserta didik pemula dikejutkan dengan bermacam topik yang demikian padat, bahkan di antaranya dinilai tumpang tindih serta tidak gradatif. Misalnya adalah bab kana wa akhwatuha ( كان و أخواتهاى). Hampir semua kitab nahwu menempatkan bab tersebut sebagai bab tersendiri dalam fi’il madhi naqish yang tidak butuh fail tapi butuh kepada isim dan khabar sekaligus me-nashab-kannya.

Menurut Syauqi, penempatan materi ini dapat membingungkan pemula, karena ia dapat merusak kaidah dasar yang telah atau akan terbangun dalam benaknya. Bab kaana wa akhwatuha lazimnya dipahami sebagai fi’il-fi’il yang mengubah susunan mubtada-khabar yang ber-i’rab rafa’ menjadi susunan isim-marfu’+khabar-manshub dari fiil tersebut.

Pandangan ini selanjutnya diubah oleh Syauqi bahwa kaana wa akhwatuha adalah fiil tam yang memiliki fail (sebelumnya isim kana). Adapun khabar kaana, menurut Syauqi berfungsi sebagai hal. Selain bab kaana wa akhwatuha, topik-topik yang masuk dalam reformulasi ini antara lain kaada wa akhwatuha, huruf al-nafy, zhanna wa akhwatuha, a’lama wa akhwatuha, tanazu’, isytighal dan tamyiz.

Kedua, menghapus analisis i’rab yang filosofis, baik taqdiri mupun mahalli. Seperti contoh, jaa-a al-fataa ( جاء الفتى). Lafal al-fataa dibaca rafa’ tanpa harus menyebutkan rafa’ maqaddar yang aslinya dhammah. Ketiga, redefinisi sebagian bab/topik pembahasan nahwu. Contohnya, mayoritas linguis klasik mendefinisikan maf’ul muthlaq sebagai isim yang menguatkan ‘amil-nya, atau menjelaskan jenis atau jumlahnya. Sedangkan definisi menurut Syauqi, maf’ul muthlaq adalah isim yang di-nashab-kan, berfungsi untuk memperkuat, mendeskripsikan dan menjelaskan ‘amil. Definisi yang diberikan Syauqi ini bisa dibilang lebih spesifik daripada definisi lama.

Selain ketiga gagasan di atas, masih ada beberapa gagasan lagi yang ditawarkan Syauqi dalam bukunya Tajdid al-Nahw, seperti membuang topik-topik tambahan (far’iyyah), dan menambah topik pembahasan yang dianggap signifikan.

Wal akhir, upaya yang dilakukan Syauqi ini berhasil menemukan kelemahan dan dapat diidentifikasi dengan baik, sehingga muncullah tawaran-tawaran solutif untuk mereformulasikan nahwu baru (pedagogis) yang lebih praktis dan memudahkan para pembelajar bahasa Arab.

Profil Penulis
Khoirul Athyabil Anwari
Khoirul Athyabil Anwari
Penulis Tsaqafah.id
Santri Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Sekarang tinggal di Kartasura.

1 Artikel

SELENGKAPNYA