Menilik Mushaf Al-Qur’an Salinan KH Ibrahim Ghozali Ponorogo

Tsaqafah.id – Berbahagialah, modern ini mushaf al-Qur’an mudah dijumpai di masjid, mushola, di rumah bahkan di gawai sendiri. Membeli al-Qur’an bukan perkara mustahil, toko-toko buku terdekat menyediakan mushaf al-Qur’an dengan beragam varian bentuk, varian fitur dan varian harga, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah.

Tentu dengan varian-varian tersebut, mushaf al-Qur’an yang dijual belikan berstandar Usmani Indonesia. Tidak kalah mudahnya, dengan gawai, aplikasi al-Qur’an bisa diunduh dengan praktis.

Kembali pada abad 18-an, mushaf al-Qur’an merupakan hal langka bak berlian. Mushaf al-Qur’an hanya dimiliki oleh pesantren, kerajaan dan konglomerat. Masyarakat awam mungkin hanya dapat melihat dan menyentuhnya, itupun bila punya akses VIP, santri misalnya.

Ya, begitulah zaman baheula, semua serba susah dan berat. Boro-boro membeli sebundel mushaf al-Qur’an, bisa memenuhi kebutuhan keluarga untuk kehidupan sehari-sehari sudah syukur tidak karuan.

Percaya atau tidak mushaf al-Qur’an pada abad 18-an dihargai puluhan juta rupiah bahkan ratusan juta rupiah?

Dinukil dari sejarahnya Mbah Brohim salah satu ulama salaf kota Reog, pernah menyalin mushaf al-Qur’an kemudian sebagai gantinya diberikan dua ekor sapi. Tidak berhenti di situ, ada juga yang memberikan ganti sebesar Rp. 50 untuk satu bundel mushaf al-Qur’an. Pada waktu itu harga seekor sapi adalah Rp. 10, bila dikruskan harga sapi pada saat ini berkisar 15 – 25 jutaan, totalnya hitung aja sendiri.

Tidak heran bila satu mushaf al-Qur’an diganti dua ekor sapi atau lebih pada zaman itu. Penyalinan mushaf al-Qur’an terbilang kompleks, rumit, butuh waktu lama, ketekunan, apalagi mushaf bukan dicetak melainkan ditulis ulang.

Perlu diketahui produk handmade era ini pun masih diminati, meskipun terkadang harga tidak masuk akal. Karena apalagi? Jelas, handmade adalah produk limited yang membuatnya perlu memperhatikan banyak perhitungan, kualitas, ketersedian barang, filosofi, idealisme dll.

Lantas siapa itu Mbah Brohim? Beliau bernama lengkap KH Ibrohim Ghozali (lahir 1812 M) adalah putra dari KH Ghozali (makamnya dibelakang masjid Cokromenggalan Ponorogo). KH Ghozali merupakan putra Nawawi Majasem, putra Kiai Nuruddin, putra Kiai Khotib Anom Karangbret Tulungagung, putra Kiai Anom Besari Caruban Madiun, putra Prabu Sasmito (Panembahan Giri ke VI Gresik). Mbah Brohim juga termasuk alumni Pondok Tegalsari yang diasuh oleh Kiai Kanjeng Bagus Hasan Besari yang diantara muridnya adalah Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Mbah Brohim terkenal mempunyai ghirah keislaman yang tinggi. Kecerdasan dan keuletannya berhasil merilis salah satu karya salinan al-Qur’an. Mushaf al-Qur’an salinannya tidak tanggung-tanggung, yakni berfitur qira’ah sab’ah di bagian luar frame/bingkai tulisan ayat al-Qur’an.

Baca Juga: Mengenal Mushaf Pojok: Sejarah, Perkembangan dan Karakteristik

Fitur qira’ah sab’ah dibekali rujukan huruf hijaiyah yang menyimbolkan periwayat qiraah-nya. bilamana diperhatikan . . . . . . lebih jeli, terdapat riwayat bacaan selain dari imam tujuh. Terdapat salah satu imam yang masuk pada kategori imam sepuluh (qiraat ‘asyarah) yakni Abu Ja’far dan kategori imam empat belas (qiraat arba’ah ‘asyarah) yakni Ibnu Mahish, namun hanya satu riwayat bacaan.

Manuskrip Mushaf Salinan KH Ibrahim Ghozali

Setelah kebiasaan-kebiasaan melihat dan menggunakan mushaf al-Qur’an edaran era modern ini, mushaf salinan karya Mbah Brohim mungkin akan tampak biasa. Namun ada hal menarik yang perlu diulas juga, ya! Jenis tulisan yang diaplikasikan oleh Mbah Brohim dalam salinan mushafnya.

Jika pernah berkecimpung dalam dunia per-khattat-an, maka akan tampak tulisan bentuk ayat mengadopsi jenis khat nasakh/naskhi. Mungkin secara kaidah khat naskhi ada sedikit kekurangan dalam proporsi panjang dan tebal hurufnya, namun overall pencapaian ini adalah luar biasa.

Ghirah Belajar KH Ibrahim Ghozali

Sebagai pembaca, pemahaman terhadap tulisan dapat dicerna dengan mudah, sehingga memudahkan pelafalan lafadnya. Dari sini, mungkin beliau juga bisa disebut calligrapher atau bisa juga seniman, sosok tersebut tercermin dari tulisan khat-nya yang juga dipadukan ornamen-ornamen floral, dimana menurut Annabel Gallop ornamen floral adalah salah satu karakter mushaf-mushaf (manuskrip) al-Qur’an di Jawa bahkan Nusantara.

Mencapai entitas keindahan tulisan dalam mushaf, membutuhkan waktu lebih dan tingkat kerja keras yang tinggi. Menurut almarhum Kiai Agus Damanhuri menyalin satu mushaf al-Qur’an adalah hal sulit, karena  Mbah Brohim seorang kiai dan pengajar di pondok, beliau harus meluangkan waktu di malam hari, berbekal pen tutul dari sodo aren (batang lidi pohon aren). Kira-kira menyelesaiakan satu mushaf al-Qur’an membutuhkan estimasi waktu enam bulan lamanya.

Terbentuknya kepribadian Mbah Brohim yang alim dan berjiwa seniman tidak terlepas dari perjuangan heroiknya. Bukan anime One Piece, beliau harus rela meninggalkan kampung halaman demi menyempurnakan rukun Islam yang ke-lima menuju kota Mekkah, bukan Alabasta. Melalui Tanjung Perak, menggunakan media perahu tongkang yang dioperasikan oleh orang-orang Madura. Butuh waktu tujuh bulan untuk samapai di Jeddah, melewati medan laut yang terkadang tidak bersahabat, badai, perahu bocor, rute berkelok-kelok dll. Setelah sesampainya di Mekkah kemudian melakukan ibadah haji, Mbah Brohim tidak serta-merta langsung pulang ke Nusantara. Memanfaatkan momen langka, Mbah Brohim ngangsu kaweruh kepada ulama-ulama Mekkah selama kurang lebih tujuh tahun lamanya.  

Kealimannya tidak menjadikannya jumawa, tetap andhap ashor sebagai seorang kiai dan anak dari KH Ghozali sendiri. Bisyarah dari hasil menyalin satu mushaf al-Qur’an tidak digunakan untuk kepentingan pribadi apalagi berfoya-foya, namun untuk dijariyahkan pembangunan dan memakmurkan pondok yang diampu pada saat itu. Wallahua’lam

Bagaimana? Sudah baca al-Qur’an hari ini? Semoga sudah.

Total
0
Shares
1 comment

Comments are closed.

Previous Article

Ulama Mengajak Kita untuk Tertawa dengan Serius

Next Article

Rihana, Wali Perempuan yang Menghabiskan Waktunya untuk Beribadah

Related Posts