Hari Santri Nasional bukanlah seremoni belaka. Ia adalah refleksi sejarah — ketika resolusi jihad berkumandang dan pesantren menjadi mercusuar kebangsaan. Kami, santri zaman now, bukan ingin diagungkan. Kami hanya ingin dipahami. Kami ingin dunia tahu bahwa di balik sarung dan sorban, ada intelektualitas yang jernih
“Santri itu hari-harinya tidak sepi dari ngaji,” kata Kiai saya suatu sore. Tapi sekarang, sepertinya juga tidak bisa hidup tanpa dikomentari.
Ya, begitulah hidup kami — para santri. Kami bangun bukan untuk menjadi viral, kami bangun pagi untuk shalat subuh berjamaah, mengaji Fathul Qarib, kemudian sarapan lalu berangkat ke madrasah.
Lalu tiba-tiba siang hari mendapati wajah pesantren kami nongol di layar kaca — bukan karena prestasi yang sudah diperoleh pesantren kami, melainkan karena satu-dua insan media sedang rajin menafsirkan pesantren seperti mereka menafsirkan rating.
Saya tidak tahu, apakah redaktur PH Shandika atau Trans7 itu punya wudhu atau tidak saat membuat konten tentang pesantren. Tapi yang jelas, efeknya bikin gaduh seantero jagat maya.
Mereka bilang ingin mengenalkan dunia santri. Tapi yang kami lihat di televisi justru potret yang lebih mirip karikatur: santri ditampilkan sebagai bahan hiburan, bukan kebanggaan. roninya, semua itu terjadi hanya beberapa hari sebelum Hari Santri Nasional — hari ketika kami seharusnya dikenang, bukan digunjing.
Baca juga Ketika Pesantren Disudutkan di Mata Media yang Tak Paham Adab
Hari-hari sebagai santri sebenarnya sederhana pada umunya. Pagi ngaji, siang ngantuk, malam ngaji lagi hingga larut malam — dengan pola tidur yang oleh WHO mungkin sudah dikategorikan “darurat”. Tapi justru di sela-sela kantuk itulah kami menemukan makna kehidupan.
Kami belajar sabar bukan dari teori, tapi dari antrian mandi dan antrian lainnya di pesantren. Kami belajar manajemen waktu bukan dari kuliah manajemen, tapi dari waktu sempit yang dimanfaatkan, seperti 10 menit sebelum iqamah Isya untuk menyelesaikan hafalan nadham, kitab, dan bahkan al-Quran.
Namun, di tengah kesederhanaan itu, kami kini hidup di zaman yang sulit: zaman ketika pesantren dituntut transparan tapi media justru sering transparan tanpa etika, tanpa adab.
Santri belajar ta’dzim dan mencintai ilmu dan guru, sedangkan sebagian media tampaknya lebih sibuk belajar clickbait.
Sejak dulu pesantren menjadi saka guru bangsa dan benteng moral bangsa. Dari lumbung-lumbung ngaji kitab kuning: tafsir munir, fathul mu’in, alfiyah, akhlaq lil banin, dan lainnya lahir pahlawan yang menulis sejarah dengan tinta perjuangan — bukan dengan lighting studio.
Lalu datang era digital, di mana “santri berdebu” lebih sulit viral dibanding “konten debat tanpa ilmu.” Tapi tenang saja, kami masih punya satu jurus yang tak dimiliki dunia luar: doa para guru dan kiai. Itu semacam firewall spiritual yang lebih kuat dari algoritma mana pun.
Hari Santri tahun ini terasa agak getir. Di satu sisi kami bersyukur: negara mengakui eksistensi kami. Di sisi lain, kami harus menanggung beban citra yang terus digerus oleh miskomunikasi, miskonsepsi, dan miskonten.
Baca juga Meluruskan Garis Pembeda antara Adab dan Feodalisme
Saya terkadang berpikir, mungkin santri perlu kuliah di jurusan Public Relations, agar bisa menjelaskan ke dunia bahwa pesantren bukan lembaga feodal, bukan tempat penindasan, dan bukan pula lokasi syuting untuk “eksperimen sosial”.
Kita paham: kritik itu perlu. Tapi ketika kritik dikemas tanpa akal sehat dan tanpa adab, ia berubah menjadi fitnah modern. Seolah-olah pesantren hanyalah ruang tertutup yang perlu dibuka paksa agar publik bisa melihat “apa yang sebenarnya terjadi.”
Padahal, pesantren sejak dulu sudah terbuka — hanya saja pintunya tidak dibuka dengan kamera, tapi dengan hati. Kini, menjadi santri berarti siap hidup di dua dunia: dunia ngaji kitab dan dunia ngaji algoritma.
Kami tidak bisa lagi hanya belajar nahwu-sharaf; kami juga harus belajar narrative framing. Kami harus pandai menjawab komentar netizen yang menilai pesantren dari potongan video berdurasi 30 detik, padahal santri memahami kehidupan dalam kesabaran bertahun-tahun.
Tapi kami tidak akan marah berlebihan. Karena kami tahu, marah pun harus beradab.
Kami tahu bagaimana para kiai dahulu menanggapi penjajah: dengan perjuangan, bukan dengan caci maki. Maka kepada media yang tergelincir dalam kesalahan, kami tidak menuntut permintaan maaf di prime time, cukup kesadaran di waktu sahur.
Hari Santri Nasional bukanlah seremoni belaka. Ia adalah refleksi sejarah — ketika resolusi jihad berkumandang dan pesantren menjadi mercusuar kebangsaan. Kami, santri zaman now, bukan ingin diagungkan. Kami hanya ingin dipahami. Kami ingin dunia tahu bahwa di balik sarung dan sorban, ada intelektualitas yang jernih; di balik kopiah dan sandal jepit, ada cita-cita yang luhur.
Maka biarlah kami terus menjalani hari-hari kami sebagai santri — mengaji, berkhidmat, mencintai negeri — meski kadang harus menonton televisi dengan sebelah mata, sambil berbisik lirih: “Ya Allah, beri hidayah kepada mereka yang lebih pandai menyorot daripada memahami.”
Dan setelah itu, kami kembali ke kitab kuning. Karena dalam setiap lembarannya, ada cahaya yang tak bisa dipadamkan oleh siaran mana pun. “Ya Allah, lindungi para kiai kami dan keluarganya, lindungi pesantren kami. Ya Allah, beri kami pertolonganMu, untuk menjalani hari-hari kami sebagai santri-apapun profesi kami. Amin.
Baca juga Perjalanan yang tak Melulu Kita Pahami

