Ojek Perempuan Di Pintu Keluar Stasiun

Ojek Perempuan Di Pintu Keluar Stasiun

12 Maret 2025
245 dilihat
1 menit, 58 detik

Jika Anda menaiki kereta api Commuter Line Dhoho, jangan harap Anda akan menjumpai bentuk kereta yang mirip dengan commuter line atau KRL yang ada di Jabodetabek atau Yogyakarta-Solo. Kereta ini lebih mirip kereta kelas ekonomi dengan tempat duduk dua dan tiga. Tiket baru bisa dipesan dari h-7 keberangkatan. Jadi jika Anda ingin pergi secara dadakan, tiket tidak selalu tersedia. Hal ini tentu berbeda dengan KRL Jabodetabek dan Yogyakarta-Solo yang tiket tidak perlu dibeli jauh-jauh hari. 

Tepat pukul 05.10 WIB, KA Dhoho melaju dari Mojokerto. Hari ini aku akan bertolak ke Tulungagung. Kereta akan berhenti di stasiun lokal, Sumbergempol. Kurang dari 3 km dari Kampus UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung.

Hal menarik dari perjalanan menggunakan kereta ini adalah melintasi stasiun-stasiun lokal yang berada di Jawa Timur. Beberapa stasiun terletak di pedesaan. Tak ada pagar atau palang pintu parkir. Bahkan anak-anak kecil bisa dengan bebas menyaksikan kereta lewat dekat rumah mereka.

Sebelum sampai di Stasiun Sumbergempol, Adikku sudah mengirim pesan agar menggunakan ojek untuk menuju ke tempat kosnya. Tak lupa ia sampaikan informasi penting, jika ingin menaiki ojek konvensional cukup dengan menunggu di stasiun. Tapi jika ingin menggunakan ojek online, jalan dulu agak jauh dari stasiun.

Baca juga: Perjalanan dengan Kereta Sri Tanjung

Sebagai orang yang pertama kali datang ke tempat ini, tentu aku akan memilih menggunakan ojek online. Selain karena merasa lebih aman karena ada aplikasi, tentu ojek online dilengkapi dengan map alamat tujuan, sehingga kita tidak bingung untuk menunjukkan tempat tujuan. 

Sesampainya di Sumbergempol, aku segera menuju tempat keluar dan memesan ojek online. Di pintu keluar, beberapa perempuan terlihat sedang berdiri. Pikirku, orang-orang ini mungkin sedang menjemput anak-anak mereka pasca bepergian.

Tetapi asumsiku salah. Ini adalah perempuan-perempuan ojek yang sedang mencari penumpang. Berdiri di pintu keluar, sambil menawarkan jasanya. 

Seberapa sekian detik, tubuhku ngefreeze. Hingga seorang perempuan tiba-tiba mengajakku berbicara, 

“Mbaknya ojek? Sini Mbak!”

“Eh iya buk ojek”

Dengan cepat aku mengiyakan ajakan perempuan paruh baya itu. Seketika aku batalkan rencanaku untuk memesan ojek online. Aku mengiyakan ajakan ojek perempuan ini, justru karena dia seorang pengemudi perempuan. Profesi yang, di banyak tempat, masih sering mendapat diskriminasi dan dipandang sebelah mata.

Pengemudi ojek online perempuan sering menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dalam pekerjaannya. Beberapa di antaranya adalah pelecehan dari penumpang. Selain itu, diskriminasi juga terjadi dalam bentuk pembatalan pesanan secara sepihak oleh pelanggan hanya karena pengemudinya adalah perempuan, bukan muhrim atau merasa tidak nyaman dibawa oleh perempuan. 

Tanpa ragu, aku langsung mengiyakan ajakan ojek perempuan ini. Bagiku, mereka juga sama-sama bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga, sama seperti pengemudi laki-laki. Tidak ada alasan untuk meragukan kemampuan mereka, karena mereka juga bisa mengantar penumpang dengan baik dan profesional. Lagipula, yang terpenting dalam sebuah perjalanan bukanlah siapa yang mengemudi, tapi bagaimana perjalanannya berjalan aman dan nyaman.

Profil Penulis
Hafidhoh
Hafidhoh
Penulis Tsaqafah.id

23 Artikel

SELENGKAPNYA