Tsaqafah.id – Rabu (18/2), kegiatan ngaji online #NyantriKilat 6.0 resmi dibuka. Memasuki tahun keenam penyelenggaraannya, program intensif Ramadan ini kembali hadir secara virtual melalui platform Zoom dengan mengusung tema besar “Basic Needs: Menemukan Cukup di Tengah Godaan Lebih“. Acara pembukaan ini menandai dimulainya serangkaian kajian yang akan menemani para peserta selama bulan suci dengan konsep ngaji ala pesantren digital.
Tema “Basic Needs” sengaja dipilih sebagai antitesis terhadap gaya hidup berlebihan dan godaan konsumerisme yang kian masif di era digital. Sulma Safina dan Atika selaku inisiator, merancang kegiatan ini untuk mengajak kalangan muslim modern menemukan kembali rasa “cukup” melalui pendekatan ilmu keislaman yang otoritatif. Harapannya, #NyantriKilat 6.0 tidak hanya menjadi kelas yang intensif, tetapi juga ruang inklusif bagi siapa saja yang ingin mencicipi sanad keilmuan pesantren tanpa terhalang jarak.
Baca juga Merasa Cukup dalam Pandangan Agama untuk Menjaga Lingkungan
Sejalan dengan semangat menjaga tradisi, #NyantriKilat tetap konsisten menghadirkan kajian kitab kuning (kutubutturats) untuk menjaga kejernihan transmisi ilmu. Di tengah maraknya fenomena ”matinya kepakaran” dan da’i media sosial yang seringkali mengedepankan kemasan ketimbang substansi, program ini berikhtiar menyambungkan kembali mata rantai keilmuan atau sanad yang dapat dipertanggungjawabkan kepada para peserta.
Baca juga Gen Z dan Paradoks Ustaz Didikan Google
Dr. KH. Hilmy Muhammad (Gus Hilmy), selaku pembina yang membuka acara secara resmi, memberikan pesan mendalam mengenai filosofi belajar di bulan Ramadan. Beliau menegaskan bahwa Ramadan adalah Syahrul Ilmi (bulan ilmu), di mana peningkatan kualitas pribadi harus berlandaskan pada pemahaman agama yang benar.
Bulan ini hebat bukan karena faktor puasanya, tapi karena di bulan ini Al-Qur’an diturunkan. Apapun kalau ”ketempelan” Al-Qur’an, maka ia akan menjadi sesuatu yang terhormat dan hebat,” dawuh Gus Hilmy.
Lebih lanjut, Gus Hilmy mengapresiasi para peserta yang memilih jalan ilmu di bulan suci ini. “Siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka dia akan digerakkan untuk mau belajar agama. Keberadaan saudara-saudara di sini memastikan bahwa kalian berada di jalur yang benar. Kita harus tahu dasar dari apa yang kita lakukan, tidak sekadar ngelakoni (menjalankan) saja,” tegasnya.
Selain dimensi spiritual, #NyantriKilat 6.0 juga memperkuat dimensi sosial melalui program CSR (Corporate Social Responsibility). Sebagian dana pendaftaran peserta akan disalurkan untuk bantuan kemanusiaan di Palestina, korban bencana alam di Demak dan Pati, serta wakaf Al-Qur’an di Makkah dan Madinah. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa semangat ngaji di bulan Ramadan harus berbanding lurus dengan kepedulian sosial.
Pembukaan yang diakhiri dengan technical meeting ini menjadi langkah awal bagi puluhan peserta untuk menyelami ilmu keislaman yang sejuk, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Baca juga Puasa Ramadhan Mengajarkan Arti Tolong Menolong terhadap Sesama

