Pengajian Gus Baha: Peran Nabi dan Ulama di Hari Kiamat

Besok ulama kalau akan masuk surga, dicegah dulu. “Kamu itu ulama, tidak boleh langsung masuk surga, kamu harus menyafa’ati orang yang mencintaimu.”

Tsaqafah.id – Nabi dulu, maka ini cerita maulid di kitab-kitab maulid yang saya baca keterangannya banyak sekali. Ketika kiamat, kanjeng nabi itu dekat dengan Tuhan, dekat dengan malaikat Jibril. Semua nabi dipanggil masuk surga. Diberi kursi kehormatan. 

Setelah di surga di atas kursi kehormatan yang tidak ada justru Nabi Muhammad. Panitia penyambutan berlari. “Lho masalah ini. Kekasih Tuhan paling disayang malah tidak ada. Bagaimana ini?”

Nabi tidak bersedia. Tuhan bertanya, “Kenapa Muhammad belum masuk. Coba cari!”

Malaikat mencari. “ Yaa Rasulullah, kenapa Anda tidak masuk?”

“Saya khawatir ketika sudah masuk nanti tidak akan bersama umatku di surga. Jadi aku tidak akan masuk surga sebelum umatku juga masuk.”

Baca Juga: Gus Baha: Keistimewaan Bahasa dan Sanad al-Qur’an

Akhirnya dicari, maka kamu besok jangan jauh-jauh. Paham ya? Kalau kejauhan tidak akan ketemu nanti.

Jadi nabi-nabi ya ada yang sesukanya. Disuruh masuk ya masuk. Nabi Muhammad tidak begitu. 

Sebetulnya ada riwayat, nanti orang yang mati syahid, orang saleh, ketika disuruh masuk surga akan masuk kecuali ulama. 

Besok ulama kalau . . . . . . akan masuk surga, dicegah dulu. “Kamu itu ulama, tidak boleh langsung masuk surga, kamu harus menyafa’ati orang yang mencintaimu.” 

Tapi kalau saya langsung masuk, khawatir jika mencari Rukhin tak bisa kembali. Jadi jangan berharap, “Gus kulo digolei (Gus saya dicari!).“

Baca Juga: Pandangan Gus Baha terkait Seruan Jihad dalam Azan

Saya pun juga khawatir kehilangan jalan. Iya kalau kamu dekat surga, gampang dicarinya, nah kalau jauh? Saya cari tidak ketemu dan saya tidak tahu arah kembali, kan jadi masalah.

Anda lihat di kitab-kitab Fadhoilul Ulama, orang saleh lain masuk surga, tapi begitu ulama, “Berhentilah! kalian itu ulama jadi panutan banyak orang. Kalian masuk surga harus bersama pengikut kalian. Jangan masuk sendiri!” 

Sebab ulama itu warosatul anbiya. Memang dugaan saya begitu, karena yang meramaikan dunia ini ulama, karena mereka itu mengajar. Orang ibadah itu bisa sesuka sendiri, di kamar sendiri urus sendiri-sendiri, kadang do’a terus untuk kepentingan pribadi. Sementara ulama tidak begitu, mengajar agar orang cinta kepada Tuhan.

Total
2
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

3 Tingkatan Puasa Menurut Imam al-Ghazali

Next Article

Kisah Umar bin Khattab dan Perempuan Pedagang Susu

Related Posts