Ada pengalaman-pengalaman yang tidak pernah sampai menjadi percakapan. Ia berhenti sebagai rasa, tersimpan di ruang batin, atau terhapus sebelum sempat dipahami. Dalam kehidupan banyak perempuan, peristiwa semacam ini bukan hal yang asing. Pesan yang diketik lalu dihapus mungkin terlihat sepele. Namun di baliknya, sering kali ada pergulatan yang tidak sederhana: bagaimana perempuan memahami perasaannya sendiri, menilai apakah itu pantas disampaikan, lalu memutuskan apakah ia berhak untuk didengar.
Dalam diskusi menulis pengalaman perempuan bersama Kalis Mardiasih, disampaikan bahwa pengalaman perempuan hampir selalu berlapis. Ia dipengaruhi oleh cara kita dibesarkan, norma kesopanan, relasi dalam keluarga, hingga anggapan bahwa perempuan terlalu sensitif atau terlalu emosional. Artinya, apa yang terasa pribadi sebenarnya tidak pernah benar-benar lepas dari pengaruh sosial.
Baca juga : Di Antara Bumi yang Retak dan Jiwa yang Lelah
Di sinilah proses yang sering tidak disadari terjadi. Penilaian yang berulang dari luar perlahan berubah menjadi suara dari dalam. Label seperti “terlalu baper” atau “berlebihan” tidak lagi hanya datang dari orang lain, tetapi menjadi pertimbangan internal sebelum perempuan berani berbicara. Muncul pertanyaan-pertanyaan kecil namun melelahkan: apakah ini layak disampaikan? Apakah ini akan merepotkan orang lain?
Pergulatan semacam ini sering berlangsung di ranah domestik—di kamar, dalam percakapan personal, atau di ruang relasi yang dianggap terlalu intim untuk dibicarakan di depan umum. Karena berada di wilayah yang disebut “pribadi”, pengalaman tersebut kerap dianggap remeh. Padahal justru di ruang-ruang sunyi itulah standar sosial dan ekspektasi bekerja dengan halus.
Jika pengalaman hanya berhenti sebagai rasa dan tidak pernah dibagikan atau dituliskan, ia mudah dianggap sebagai masalah pribadi semata. Karena itu, menulis pengalaman perempuan bukan hanya soal meluapkan emosi. Ia bisa menjadi cara untuk memahami pola yang lebih besar, cara untuk menyadari bahwa apa yang dirasakan mungkin juga dirasakan oleh banyak orang lain.
Baca juga : Memulihkan Martabat: Aisyiyah dan Manifesto Perempuan Berkemajuan
Selanjutnya Kalis Mardiasih pun menegaskan bahwa menulis pengalaman perempuan juga membutuhkan kehati-hatian. Pertama, pengalaman perlu ditempatkan dalam konteks. Bukan hanya “saya sedih”, tetapi juga mencoba bertanya: mengapa kesedihan ini terasa memalukan? Mengapa kebutuhan untuk didengar terasa seperti beban? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita melihat bahwa emosi tidak muncul di ruang kosong.
Kedua, pengalaman tidak perlu dibesar-besarkan agar dianggap penting. Detail yang jujur, ruang kamar yang sunyi, pesan yang dihapus, jeda sebelum menekan tombol kirim sering kali justru lebih kuat. Detail semacam itu membuat tulisan terasa nyata dan tidak menghakimi siapa pun. Ketiga, keberanian menulis tidak harus berarti membuka semua luka sekaligus. Ada proses yang bertahap. Menulis bisa menjadi ruang belajar untuk mengenali diri, memahami pola relasi, dan mengetahui batas.
Dalam konteks kesehatan perempuan, praktik ini memiliki makna yang lebih luas. Ketika pengalaman tentang kelelahan emosional, kecemasan dalam relasi, atau tekanan di ruang domestik mulai didokumentasikan, perempuan lain bisa merasa tidak sendirian. Ia mungkin menemukan bahwa apa yang selama ini ia anggap sebagai kelemahan pribadi ternyata bagian dari dinamika yang lebih besar. Maka berbicara tentang kesehatan perempuan tidak cukup hanya membahas tubuh. Emosi juga bagian dari kesehatan. Perasaan yang terus ditekan atau diabaikan dapat menggerus daya hidup, meski secara fisik seseorang terlihat baik-baik saja.
Menulis, dalam konteks ini, adalah cara untuk memberi makna pada pengalaman. Ia mengingatkan bahwa apa yang terjadi di ruang domestik tidak selalu kecil. Bahwa rasa tidak selalu harus disembunyikan. Bahwa pengalaman perempuan layak dipahami, bukan hanya dipendam. Tidak semua pesan memang harus dikirimkan. Namun pengalaman yang terus-menerus dihapus tanpa pernah dimaknai berisiko menjadi luka yang tidak pernah selesai. Dan mungkin, dengan menuliskannya secara jujur dan bertanggung jawab, seseorang bukan hanya sedang bercerita melainkan ia sedang merawat dirinya, sekaligus membuka ruang agar orang lain merasa lebih dipahami.
Baca juga : Dari Sanikem ke Nyai Ontosoroh: Pergulatan Perempuan di Negeri-negeri Koloni

