Di atas rel kereta antara Lempuyangan-Mojokerto, kereta Sri Tanjung melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sebagai kereta ekonomi, suara gemuruh roda besi berpadu dengan obrolan penumpang, canda tawa, dan tangis bayi yang bersahutan, menjadi pelengkap suasana perjalanan mudik kala itu.
Hari itu bulan Ramadan. Sebagian besar penumpang tengah dalam perjalanan mudik, menuju kampung halaman dengan harapan bisa berlebaran bersama keluarga.
Tak jauh dari tempat dudukku, aku melihat pemandangan dua penumpang laki-laki sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dua orang ini sepertinya bukan kawan, apalagi saudara. Hanya dua orang stranger yang kebetulan tempat duduknya bersebelahan.
Satu laki-laki mengenakan peci. Sebuah buku dalam genggamannya rapat-rapat. Ia tampak khusyuk merapal huruf-hurufnya. Dalam keramaian kereta, ia tetap asyik membaca Qur’an.
Satu laki-laki lagi, tampak mengenakan kaos biasa. Tak berpeci. Dari kalung yang ia kenakan, sepertinya ia bukan muslim. Sedari tadi ia tampak tidak menikmati perjalanan. Sesekali ia pegang kalung yang ia kenakan.
Aku berasumsi, mungkin ia tak tak cukup nyaman dengan laki-laki sampingnya yang membaca Qur’an. Suaranya memang cukup keras. Dari tempat dudukku yang berjarak kurang lebih 2 bangku, aku masih bisa mendengar suaranya mengaji.
Baca juga: Lebaran dan Panggung Teater
Hari semakin siang. Si laki-laki pembaca Qur’an masih asyik dengan bacaannya, sementara si laki-laki sebelahnya masih tampak belum menikmati perjalanannya.
Si laki-laki yang mengenakan kaos ini tampak sedang memesan makanan. Tapi ia terlihat bingung. Tidak mungkin ia memakan makanan itu dalam gerbong kereta, yang sebagian besar penumpang sedang berpuasa. Lebih-lebih ketika bungkus makanan itu dibuka, baunya aduhai, lezat sekali. Tentu ini bisa mengganggu orang yang sedang puasa.
Tanpa banyak bicara, akhirnya ia memutuskan makan di antara gerbong kereta. Ya, ia makan di dekat toilet kereta. Entah, apa iya tak tahu jika kereta punya fasilitas restorasi. Tentu akan lebih nyaman jika ia makan di sana. Ia bisa makan dengan tenang, dan orang yang puasa tak akan terganggu.
Dari kaca pintu gerbong kereta, aku masih bisa melihatnya asyik makan. Beberapa saat kemudian, ia kembali ke tempat duduknya. Lagi-lagi, sesekali ia pegangi kalung yang ia kenakan. Tapi wajahnya sudah sedikit terlihat lebih nyaman dan tenang.
Baca juga: Banyak Bertanya: Basa-Basi atau Kepo?
Bertahun-tahun sejak perjalanan ini, isu antara orang yang puasa dan tidak puasa, seperti menjadi isu tahunan. Hampir setiap Ramadan muncul berita penggusuran tempat makan yang tetap buka siang hari di bulan Ramadan. Semua dilakukan atas dasar ibadah atau menghargai orang puasa, katanya.
Selalu muncul dalam pikiranku, kenapa kita beribadah selalu bergantung kepada perilaku orang lain? Bukan kah, saling menghormati itu dua arah?

