Pro-Kontra Puasa Bulan Rajab

Tsaqafah.id – Bulan Rajab merupakan momentum tersendiri bagi umat Islam. Tentu saja demikian, sebab Rajab termasuk salah satu bulan haram (mulia) di samping Muharram, Dzulqo’dah, dan Dzulhijjah. Di surau-surau masjid maupun musala terdengar lantunan doa yang mashur pada dua bulan sebelum bulan suci Ramadan ini.

Pada bulan ini seseorang dianjurkan melaksanakan amalan-amalan sunah. Seperti halnya memperbanyak istighfar, mengerjakan sholat sunah, dan puasa Rajab.

Yang terakhir disebutkan kerapkali memicu polemik di tengah masyarakat awam. Pasalnya, tidak saja ditemukan kubu yang membolehkan/menganjurkannya, bahkan ada juga yang mengklaimnya sebagai hal yang dilarang (manhiyyun ‘anhu).

Sebetulnya perbedaan tidaklah mengapa, toh sekali lagi pasti dilandasi dengan argumentasi dan pemahaman dalil yang berbeda pula. Yang perlu disayangkan adalah ketika secara personal, terkadang seseorang tanpa dalih dan dalil yang kuat mengecam saudaranya yang berselisih paham dengannya apalagi dilontarkan dengan vonis yang tak beradab.

Melihat situasi seperti ini, penulis tak sengaja menemukan sebuah tulisan sederhana yang secara utuh berbicara tentang perbedaan serta argumentasi antara mujizin (kelompok yang membolehkan puasa Rajab) dan mani’in (yang melarang).

Buku tipis itu berjudul “Shoumu Syahri Rajaba baina al-Mujizin wa al-Mani’in” (Puasa bulan Rajab antara pro dan kontra). Tanpa muluk-muluk, Syekh Abdul Fatah bin Sholih Qudais al-Yafi’I yang tak lain muallif kitab ini menyebutkan satu persatu mazhab empat lengkap dengan dalilnya secara elaboratif-struktural.

Baca Juga: Tercabutnya Ilmu Melalui Wafatnya Para Ulama

Bahwasanya secara umum mayoritas ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah sepakat akan kesunahan puasa bulan Rajab meski dilaksanakan selama sebulan penuh. Sementara ulama Hanabilah menyatakan makruh melakukannya secara sebulan penuh, namun kemakruhan itu hilang tatkala menyisakan satu atau dua hari untuk berbuka atau tidak puasa.

Secara lebih gamblang, pada halaman berikutnya mualif mulai menghimpun pelbagai referensi yang diduga melatarbelakangi tegaknya pendapat masing-masing mazhab. Antara lain sebagai berikut:

Pertama, Hanafiyah mengacu pada kitab Fatawa al-Hindiyah juz 1 halaman 202 mengatakan “Ada beberapa macam puasa yang dianjurkan antara lain puasa Muharram, puasa Rajab, puasa Sya’ban dan puasa Asyura”.

Selanjutnya Malikiyah, di antaranya kitab Syarah al-Kharasy ala Khalil, Hasyiyah ala Syarhi al-Kharasy, Muqaddimah ibn Abi Zaid, Syarah Fawaqih. Senada dengan Hanafiyah, anjuran puasa Rajab dengan berbagai varian redaksi turut ditemukan dalam kitab-kitab ini. Di samping itu penjelasan mengenai keutamaan puasa secara hierarkis menjadi pembeda dari sebelumnya. Bahwa puasa Muharram lebih utama, kemudian Rajab, Dzulqa’dah dan yang terakhir Dzulhijjah.

Secara leksikal, rajab berakar dari kata tarjib yang berarti ta’dzim (mengagungkan; agung). Sehingga pahala amalan sunah termasuk puasa pada bulan ini dilipatgandakan dari puasa lainnya. (Hayiyah ‘Adawiy).

Ketiga, Syafi’iyah. Imam Nawawi berkata di dalam Majmu’ juz 6 halaman 433 “Di antara puasa yang disunahkan adalah puasa pada bulan haram yakni Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Yang paling utama tak lain Muharram. Al-Rauyani dalam al-Bahr menyatakan bahwa buulan Rajab yang lebih utama. Hal ini tentu tidak benar sebab ada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda puasa yang lebih utama setelah Ramadan adalah puasa bulan Muharram.

Baca Juga: Membaca Redaksi Azan “Hayya alal Jihad” Melalui Kacamata Fikih

Di samping Majmu’ lin Nawawi, ada Asnal Mathalib li Abi Zakariya al-Anshari, Hasyiyah Ramli, Fatawi li Ibn Hajar, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, dsb. Yang seluruhnya bersepakat atas kesunahan puasa di bulan Rajab.

Terakhir, kelompok Hanabilah. Sebagaimana dituturkan di muka, kelompok ini cenderung mengatakan bahwa makruh berpuasa sebulan penuh kecuali menyisakan satu atau dua hari dimana seseorang tidak melaksanakan puasa pada hari tersebut (ifthar).

Pernyataan ini direkam dalam beberapa literatur antara lain al-Mughni li Ibn Qudamah, al-Furu’ li Ibn Muflih, al-Inshaf li Mardawi, Kasyaf al-Qana’. Bahkan dalam Fatawi al-Kubra, Ibn Taimiyah memvonis hadis yang berkaitan dengan puasa bulan Rajab sebagai hadis dha’if bahkan ada yang diduga maudlu’ (palsu). Sehingga berimplikasi pada sikap sebagian pengikutnya yang enggan dan melarang pelaksanaannya.

Selain berdasar hadis dan atsar sahabat, kelompok Hanabilah juga berpijak pada logika (nadhar). Menurut mereka puasa Rajab tergolong perilaku yang menyerupai orang jahiliah. Menurut keterangan dalam Kassaful Qana’. Melakukannya sama saja dengan turut menghidupkan syiar orang jahiliah yang senantiasa memuliakan bulan ini.

Pada segmen selanjutnya mualif mengajukan opininya demi merespons pendapat kelompok Hanabilah berdasarkan referensi yang dipeganginya. Bahwasannya hadis dhaif tidak serta merta dapat menjadi landasan apabila menyelisihi hadis lain yang statusnya lebih kuat, sementara dalam konteks ini tidak.

Adapun atsar sahabat tidak lantas sah sebagai hujah apabila berseberangan dengan hadis yang diyakini kredibilitasnya.

Apabila dikatakan menyerupai orang jahiliah, mualif mengutip pendapat dari Ibn Hajar yang diriwayatkan oleh Syekh Izzuddin bin Abd al-Salam sepanjang penghormatan itu tidak dilakukan mirip dengan cara orang jahiliah maka tidak dapat disebut mengikuti (muqtadi) perilakunya. Dan yang perlu digaris bawahi setiap hal yang dikerjakan oleh orang jahiliah tidak semuanya dilarang kecuali yang memang secara tegas dilarang syara’.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Gemuruh Headline Islam

Next Article

Gus Ghofur: Doa Orang yang ditimpa Sakit itu Mustajab

Related Posts