Menurut Ibn Ḥazm Al-andalusi rasa khawatir merupakan fenomena universal yang dialami oleh setiap manusia, baik dalam bentuk ketakutan terhadap masa depan, kekurangan, maupun kehilangan makna hidup.
Tsaqafah.id – Setiap usaha yang dilakukan manusia pada hakikatnya berakar pada dorongan batin untuk mencapai ketenangan hidup. Manusia tidak bertindak secara acak, melainkan digerakkan oleh kebutuhan psikologis dan eksistensial yang mendalam.
Salah satu dorongan paling mendasar tersebut adalah keinginan untuk menghilangkan rasa khawatir yang senantiasa menyertai kehidupan manusia. Rasa khawatir inilah yang kemudian menjadi motor penggerak berbagai aktivitas dan pilihan hidup manusia.
Menurut Ibnu Ḥazm Al-andalusi dalam kitab Al-Akhlaq wa al-Siyar fi Mudawat al-Nufus, rasa khawatir merupakan fenomena universal yang dialami oleh setiap manusia, baik dalam bentuk ketakutan terhadap masa depan, kekurangan, maupun kehilangan makna hidup.
Kekhawatiran tersebut muncul akibat keterbatasan manusia dalam mengendalikan realitas serta ketidaktahuannya terhadap hakikat kehidupan. Oleh karena itu, berbagai usaha yang dilakukan manusia pada dasarnya dapat dipahami sebagai respons terhadap kecemasan eksistensial yang membelenggu jiwa dan pikiran manusia.
Baca Juga Skeptisisme dalam Filsafat Bahasa: antara Pernyataan Analitik dan Sintetik
Upaya manusia dalam mencari kekayaan, misalnya, pada dasarnya bukan semata-mata dorongan materialistik. Tapi, kekayaan ini dipandang sebagai sarana untuk menolak rasa khawatir terhadap kemiskinan, ketergantungan, dan ketidakamanan hidup. Dengan memiliki harta, manusia berharap memperoleh jaminan stabilitas dan rasa aman dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Demikian pula pencarian kemasyhuran dan kedudukan sosial. Seseorang yang mengejar popularitas sejatinya ingin menolak rasa khawatir akan keterasingan, ketertindasan, dan ketidakberdayaan dalam tatanan sosial. Pengakuan sosial memberikan perasaan dihargai dan diakui keberadaannya, sehingga mampu meredam kecemasan yang muncul akibat posisi sosial yang lemah.
Pencarian ilmu pengetahuan juga tidak terlepas dari upaya manusia untuk membebaskan diri dari kekhawatiran. Kebodohan sering kali melahirkan ketakutan, keraguan, dan kesalahan dalam bertindak. Oleh sebab itu, ilmu menjadi sarana utama bagi manusia untuk memahami realitas, menentukan sikap, serta menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan keyakinan.
Begitu pula kebutuhan manusia terhadap pertemanan dan hubungan sosial. Menurut Al-Farabi bahwa manusia secara fitrah merupakan makhluk sosial yang tidak mampu hidup sendiri tanpa bantuan dan interaksi dengan orang lain. Oleh karena itu, pencarian teman dan kawan sejatinya merupakan usaha untuk menolak rasa khawatir terhadap kesepian dan keterasingan dari dunia.
Baca Juga Mengungkap Paradigma Gender Melalui Kacamata Filsafat Islam
Relasi sosial yang sehat tidak hanya memenuhi kebutuhan eksistensial manusia, tetapi juga memberikan dukungan emosional serta memperkuat ketahanan psikologis individu dalam menghadapi dinamika kehidupan (Al-Farabi, Ara’ Ahl al-Madinah al-Faḍilah).
Secara lebih luas, aktivitas sehari-hari manusia seperti makan, minum, berpakaian, bermain, hingga melakukan hubungan suami-istri, merupakan bentuk usaha untuk meniadakan kondisi sebaliknya yang menimbulkan penderitaan. Bahkan praktik ketakwaan dan ibadah pun dapat dipahami sebagai ikhtiar spiritual manusia untuk menghindari kegelisahan batin dan memperoleh ketenangan jiwa.
Dalam konteks inilah Ibn Ḥazm memberikan penekanan khusus pada keutamaan ilmu. Ia menyatakan bahwa seandainya ilmu hanya mampu menjadikan seseorang dihargai, dihormati, dan dicari pendapatnya oleh orang lain, maka hal itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk menuntut ilmu. Pandangan ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki nilai sosial dan moral yang signifikan.
Namun demikian, keutamaan ilmu jauh melampaui manfaat sosial semata. Ilmu membawa dampak yang luas, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Dengan ilmu, manusia mampu memahami tujuan penciptaannya, mengenal Tuhannya, serta mengarahkan amal perbuatannya secara benar dan bertanggung jawab.
Baca Juga Apakah Agama atau Moral, Mana lebih Dulu?
Ibn Ḥazm juga menegaskan bahwa ilmu memiliki peran penting dalam membebaskan manusia dari kecemasan dan was-was yang membelenggu pikiran. Ketidaktahuan terhadap kebenaran sering kali melahirkan kegelisahan dan kebimbangan. Sebaliknya, ilmu memberikan ketenangan karena menghadirkan kejelasan dan kepastian dalam berpikir dan bersikap.
ولو لم يكن من فضل العلم إلا أن الجاهل يهابك، ويجلك، ويعظمك، ويطلب ودّك، لكان ذلك كافيًا في الحضّ عليه، فكيف بسائر فضائله في الدنيا والآخرة؟
Ibarah ini secara makna menegaskan bahwa ilmu mengusir kegelisahan, menghilangkan keraguan, dan memberi ketenangan jiwa. Al-Akhlaq wa al-Siyar fi Mudawat al-Nufus (Dar al-Ma‘arif, Kairo), 31.
Dengan ilmu yang dimilikinya, seseorang akan terlindungi dari kehinaan dan rasa cemas terhadap kebenaran yang tidak diketahuinya. Ilmu juga melahirkan kebahagiaan batin ketika seseorang mampu menyelesaikan persoalan yang menyulitkan orang lain. Kebahagiaan ini bersifat mendalam karena bersumber dari kebermanfaatan dan kontribusi sosial.
Pada akhirnya, ilmu akan menumbuhkan rasa syukur yang semakin kuat kepada Allah Ta’allah. Semakin seseorang memahami hakikat kehidupan melalui ilmu, semakin besar pula kecintaannya terhadap ilmu dan semakin kokoh motivasinya untuk terus mencarinya. Dengan demikian, ilmu bukan hanya sarana pembebasan dari kecemasan, tetapi juga jalan menuju ketenangan jiwa, kedewasaan moral, dan kesempurnaan ibadah.

