Dalam sejarah peradaban Islam, kita dikenalkan dengan sosok bernama Ja’far bin Abi Thalib, seorang pembela rakyat sipil, kaum proletar, dermawan, peduli dengan orang miskin. Beliau merupakan kakak dari Sayyidina Ali
Tsaqafah.id — Sekitar pekan terakhir bulan Agustus 2025, laman media sosial Indonesia dihiasi oleh berita naiknya beberapa jenis tunjangan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) yakni tunjangan bensin, tunjangan beras, hingga tunjangan rumah yang disampaikan wakil DPR RI Adies Kadir.
Hal ini menimbulkan respons masyarakat yang resah lantaran kinerja para wakil rakyat tersebut dengan tunjangannya dinilai tidak sepadan. Di sisi lain kondisi ekonomi masyarakat sedang tercekik, banyak yang kesulitan mencari pekerjaan, daya beli masyarakat menurun, hingga harga bahan pokok naik.
Tanggal 25 Agustus 2025 mulai terjadi demonstrasi dengan tuntutan pembatalan tunjangan DPR RI di depan Gedung parlemen Jakarta. Sayangnya pada aksi massa tersebut belum satupun perwakilan DPR RI berkenan menghampiri, alih-alih, massa aksi mendapat tindakan represif aparat keamanan yang dinilai publik amat berlebihan.
Demonstrasi di hari-hari berikutnya masih sama, belum ada iktikad wakil rakyat di Gedung parlemen yang berkenan berdialog, menemui massa aksi, menerima tuntutan. Keadaan justru makin runyam tatkala kabar wafatnya saudara kita Affan Kurniawan ramai di media setelah ditabrak kendaraan taktis aparat keamanan.
Masyarakat seperti tak punya tempat di mata pejabat, tak disediakan perhatian penuh untuk didengar segala keluh. Bahkan beberapa wakil rakyat sendiri bertingkah mencerminkan ketidakdewasaan, dengan pernyataan-pernyataan sensitif, dan jogetannya di media sosial.
Secara sadar kita tahu hal ini bukan respons yang tepat, yang harus diterima masyarakat. Belum lagi mencuat kabar massa aksi disusupi kelompok tak dikenal yang bertindak destruktif. Syukurlah, keresahan Masyarakat turut dirasakan, dikawal, dan makin disuarakan oleh para Influencer di media sosial.
Baca juga Pesan Kebangsaan GNB: Hentikan Kekerasan, Pulihkan Kepercayaan Rakyat
Para Influencer ini turut menemani massa aksi melalui akun media sosial yang mereka punya maupun hadir secara langsung di depan Gedung parlemen. Para Influencer tersebut seperti Ferry Irwandi, Habib Husain Ja’far, Andovi da Lopez, Kadam Sidik, Cania Citta, Abigail Limuria, Jerome Polin, dll. Peran mereka amat berarti dalam menyerukan tuntutan, mengarahkan aksi dengan baik, serta edukasi publik.
Pada 1 September 2025, setelah huru-hara kerusakan fasilitas umum, penjarahan, hingga timbul korban yang makin banyak, kini aksi massa di daerah lain termasuk di Jakarta sendiri mengalami perubahan, kondusifitas cenderung meningkat meski belum seluruhnya, sebagian pejabat juga berkenan menemui massa aksi, tuntutan rakyat yang terangkum sebanyak 17+8 perlahan didengar.
Pembela Rakyat Sipil di Zaman Nabi
Dalam sejarah peradaban Islam, kita dikenalkan dengan sosok bernama Ja’far bin Abi Thalib, seorang pembela kaum proletar, dermawan, peduli dengan orang miskin. Beliau merupakan kakak dari Sayyidina Ali, yang menurut sejarah perawakannya mirip dengan Nabi Muhammad Saw.
Dikisahkan, pernah terjadi kelesuan ekonomi di Makkah. Nabi Muhammad Saw dan Abbas berkehendak untuk membantu perekonomian saudara beliau yakni keluarga Abu Thalib. Setelah bermusyawarah dan sepakat, Nabi Muhammad Saw membawa Sayyidina Ali, sedangkan Abbas membawa Ja’far. Dan keduanya hidup bersama masing-masing pengasuh.
Kita ketahui, di masa-masa awal dakwah Islam, kaum Muslimin mengalami penyiksaan oleh kaum Quraisy. Ja’far meminta izin kepada Nabi Saw untuk melakukan hijrah bersama para sahabat, Nabi Saw mengizinkan untuk berhijrah. Pada saat itu Nabi Muhammad Saw masih belum mempunyai power politik guna melawan kaum Quraisy.
Hijrah menjadi jalan keluar menghadapi masalah kekejaman yang dilakukan kaum Quraisy yang terus bereskalasi seiring waktu. Tujuan hijrah rombongan para sahabat yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib yakni ke Habasyah (sekarang wilayah Etiopia).
Dalam kitab Hilyah Al-Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani diterangkan kisah perjalanan para sahabat ke Habasyah bertemu Raja Najasyi, seorang Kristen yang taat dan Raja yang adil. Diriwayatkan dari Sulaiman bin Ahmad bahwa, “Rasulullah memerintahkan kami (para sahabat), bersama Ja’far, untuk pergi ke negeri Najasyi.
Baca juga Rabiul Awal, Momentum Menagih Janji: Belajar dari Kepemimpinan Rasulullah SAW
Berita itu sampai ke orang-orang Quraisy, yang kemudian mengutus Amr bin Al-Ash dan Umarah bin Walid membawa hadiah untuk Raja Najasyi. Kami tiba pertama, diikuti kedatangan keduanya. Hadiah diserahkan, Raja Najasyi menerimanya, lalu keduanya sujud kepada sang raja. Amr bin Al-Ash lalu menyampaikan keluhan: “Orang-orang di negeri kami tak menyukai agama kami, dan kini mereka berada di negerimu.”
Raja Najasyi menanggapi dengan memanggil kami rombongan Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far memberi perintah: “Jangan ada yang berbicara, aku akan menjadi khatib kalian hari ini.”
Di ruang pertemuan Raja Najasyi, Amr duduk di sebelah kanan, Umarah di sebelah kiri, sementara para pendeta dan rahib berbaris dalam dua baris. Amr dan Umarah menegur para pendeta, “Mereka tidak mau sujud kepadamu.”
Pendeta-pendeta malah membentak, “Sujudlah kepada Raja!”
Ja’far menjawab tegas, “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah.”
Raja Najasyi bertanya apa maksudnya. Ja’far menjelaskan bahwa Allah telah mengutus seorang Rasul di antara mereka—Rasul yang sebelumnya disebut Isa dan yang akan datang bernama Ahmad. Rasul itu memerintahkan penyembahan kepada Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, serta menegakkan kebaikan dan memerangi kejahatan.
Mendengar itu, Raja takjub. Amr bin Al-Ash menambahkan, “Semoga Allah melindungi Raja! Mereka menyalahi tentang putra Maryam.” Raja pun menanyakan apa yang dikatakan tentang putra Maryam.
Ja’far menjawab, “Allah berfirman bahwa putra Maryam adalah Ruh-Allah, kalimat-Nya, yang lahir tanpa campur tangan manusia.”
Raja Najasyi kemudian mengangkat tongkat, menyerukan kepada pendeta dan rahib, “Kata-kata kalian tidak melampaui apa yang kalian katakan tentang putra Maryam. Aku bersaksi bahwa Dia Utusan Allah yang dibicarakan Isa. Seandainya aku bukan raja, aku ingin menemuinya dan mencium sepatunya.”
Ia memberi izin kepada kami untuk tinggal di negerinya sesukanya, memerintahkan pengawalnya menyediakan makanan dan pakaian, serta memulangkan hadiah yang dibawa Amr dan Umarah.”
Kelak pada akhirnya Ja’far bin Abi Thalib beserta para sahabat yang hijrah ke Habasyah kembali ke tanah Arab, bertempat tinggal bersama Rasulullah Saw dan kaum Muslimin yang lain di Madinah.
Setiap kronik sejarah dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi mampu dipungkirkan, dan setiap perubahan dimulai dari refleksi pribadi yang menolak berdiam. Maka bersuaralah semampu kita ketika melihat ketidakadilan.
Baca juga Serakahnomic: Ambisi Ekonomi yang Menggerogoti lebih dari Kapitalisme

