Salah Parkir

Salah Parkir

04 Maret 2025
339 dilihat
2 menits, 16 detik

Tsaqafah.id – Salah parkir di bilangan mal Jakarta Selatan berujung dikira nyelonong menguntit motor petugas yang sedang patroli.

Sejujurnya tak ada niatan nyelonong, karena sejak awal memang nggak tahu belaka. Kuterobos dengan kesengajaan. Toh kalau pun salah, akan ada petugas yang membenarkan. Batinku saat sebelum nyelonong. 

Eh beneran. Motor saya dicegat. Berhenti. Pak Satpam ngasih tahu dengan prasangka-prasangka yang bahkan menyudutkan, “kalau di sana parkir liar”. Saya ngangguk-ngangguk, mengiyakan sampai mampus. Sampai ia berhenti, dan memaafkan. Tak lupa saya minta maaf dan terima kasih sambil lalu. Supra bapak itu kugas lagi.

Perkara sepele seperti salah parkir ini bukanlah bagian terpenting. Jatuhnya menyebalkan. Tapi di tahap berani untuk salah, itu kecurigaan yang fardu kita pelihara dalam upaya bertahan hidup.

Habiskan waktu gagalmu kala muda karena kegagalan mengajarkanmu untuk bagaimana agar tidak gagal lagi. Kegagalan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan. Gagal dan coba lagi, gagal dan coba lagi, jadi jangan takut gagal. Takut gagal hanya berlaku bagi orang yang lemah. Di samping, gagal itu keberhasilan yang tertunda. 

Baca Juga Melamban Bukanlah Hal yang Tabu

Itu adalah contoh nasihat baik dari cerita-cerita kegagalan yang terserak di dunia.

Dalam folklor kegagalan ada The Old Man and The Sea. Masterpiece Hemingway yang muncul dalam film The Equalizer itu berisi kisah-kisah kegagalan kala sudah mencoba, berjerih-payah berkali-kali.  

Pernah suatu kali saya merekomendasikan novel The Old Man and The Sea ini kepada salah satu teman. Dia mengijabahi rekomendasiku dan khusyuk mengkhatamkannya.

Dari hasil bacaannya, seperti yang kuduga, dia mengeluh. “Kang, novel yang menceritakan kegagalan pemancing sampai seratus kali ini, kenapa sampai terkenal dan dapat penghargaan Nobel? Wong cuma menceritakan kegagalan kok. Padahal kan banyak kisah-kisah pemancing yang lebih cepat dan sukses mendapatkan hasil tangkapannya?”

Baca Juga Hidup, Bangkit dengan Nasihat dan Wejangan

Saya sedikit heran sekaligus geli mendengar “pertanyaan yang benar” itu. Haha  

Melalui judul novel itu, Hemingway sengaja membenturkan kerapuhan (orangtua) dan kegagahan (laut). Benar orangtua memiliki pengalaman, sedang laut sang Bandar yang

memainkan kendali permainan. Pengalaman orangtua dalam menggagahi laut diuji ketika dia gagal berkali-kali dari tak terhitung percobaan yang dia lakukan.

Berhari-hari mengambang di laut bersama anak kecil. Orangtua itu sedih? Tentu. Dia meratapi “kenapa hidupku semalang dan semenderita ini”.  Tapi apakah dia menyerah? Tidak sampai dia mengambil keputusan untuk mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya hingga menuai Tuna impiannya usai berkali-kali gagal. Apakah karena itu kita perlu mengimani takdir dengan ikhtiar lahir-batin tak bertepi?

Baca Juga Ekonomi Tabarruk

Dus, salah parkir ini persoalan sepele. Tapi kalau sudah menyangkut salah tafsir, bakal rumit. Seperti yang dialami oleh petani baduwi di masa Nabi Saw. 

Alkisah, ada seorang petani baduwi kedapatan ‘krembyah-krembyah’ makan buah-buahan pada siang bolong di bulan Ramadhan. Ia pun ditegur. 

“Kenapa kamu tidak puasa?”

“Aku usai membaca al-Qur’an dan mendapati perintah: كلوا من ثمره إذاأثمر (makanlah buahnya ketika berbuah– Al An’aam: 141). Aku tidak berani menunggu sampai Maghrib karena ajalku belum tentu tidak tiba sebelumnya. Jangan sampai aku mati dalam keadaan maksiat karena belum menjalankan perintah Qur’an itu!”

Membaca al-Qur’an sembari merenungkan maknanya adalah salah satu ‘tombo ati’. Tapi toh, menetapkan hukum serta-merta dari lafadl al-Qur’an juga tidaklah dibenarkan. Dibutuhkan perbendaharaan ilmu yang kompleks. 

Jadi, jangan salah parkir, eh tafsir. 

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
penulis lepas.

44 Artikel

SELENGKAPNYA