Sekilas tentang Zakat Fitrah

Sekilas tentang Zakat Fitrah

29 April 2022
31 dilihat
3 menits, 9 detik

Tsaqafah.id – Secara bahasa zakat bermakna bertambah, bertumbuh atau berkembang. Zakat juga bisa berarti membersihkan atau mensucikan. Sama halnya shalat untuk membersihkan dan mensucikan diri, zakat untuk membersihkan dan mensucikan harta. Sedangkan secara istilah syariat zakat bermakna sebuah nama untuk harta tertentu (yang dikeluarkan) yang diambil dari harta tertentu (sumber harta) dengan cara tertentu (syarat dan tata caranya) untuk golongan tertentu (yang berhak memperolehnya). 

Zakat merupakan salah satu hal penting yang diwajibkan dalam Islam. Tidak main-main, Zakat ikut menjadi rukun Islam selain Syahadat, Shalat, puasa Ramadan dan Haji. Dulu ketika Rasulullah Saw wafat dan digantikan oleh Sahabat Abu Bakar Ra sebagai khalifah, banyak masyarakat yang tidak mau membayar Zakat. Hal ini menyebabkan beliau akhirnya memerangi mereka.

Di antara macam-macam zakat, salah satu yang wajib adalah zakat fitrah yang (biasanya) dibayarkan di akhir bulan Ramadan atau awal Syawal. Zakat mulai disyariatkan tahun kedua Hijriyah dua hari sebelum hari raya Idul Fitri. Puasa Ramadan tidak akan sempurna diterima kecuali setelah membayar Zakt Fitrah. Bahkan dikatakan kalau puasa Ramadan digantungkan di antara langit dan bumi dan tidak akan naik sebelum Zakat Fitrah ditunaikan. Maka dari itu, salah satu fungsi zakat adalah untuk menambal kekurangan dalam ibadah selama Ramadan, seperti halnya sujud sahwi yang dilaksanakan dengan tujuan menambal kekurangan dalam shalat.

Ada tiga hal yang mewajibkan Zakat Fitrah, yaitu: beragama Islam, menemui akhir bulan Ramadan dan awal Syawal dan adanya harta yang melebihi kebutuhannya dan orang-orang yang wajib dinafkahinya pada hari raya Idul Fitri.

Beragama Islam

Zakat hanya wajib bagi orang yang beragama Islam dan tidak ada kewajiban membayar Zakat bagi non muslim asli untuk dirinya sendiri, kecuali ada orang-orang yang beragama Islam yang wajib ia nafkahi, entah itu orang tuanya atau anak-anaknya. Maka ia wajib membayarkan Zakat untuk orang-orang tersebut.

Kewajiban Zakat bagi orang yang murtad ditangguhkan sampai ia kembali memeluk Islam. Apabila ia membayar zakat dalam keadaan murtad maka kewajibannya gugur ketika ia kembali lagi ke agama Islam.

Menemui Waktu Akhir Ramadan dan Awal Syawal

Pergantian waktu dari akhir Ramadan ke awal Syawal ditandai dengan tenggelamnya matahari atau waktu magrib. Jadi ketika ada anak yang lahir sebelum magrib di hari terakhir bulan Ramadan (meskipun jaraknya sangat sebentar) dan ia masih hidup sampai waktu magrib, maka ia wajib dizakati fitrah. Begitu juga ketika ada seseorang yang meninggal setelah magrib di malam hari raya Idul Fitri. Beda kasusnya ketika ada orang yang meninggal sebelum magrib malam hari raya Idul Fitri atau anak yang lahir setelah magrib Idul Fitri. Kedua orang ini tidak wajib dizakati.

Adanya Harta Lebih

Kewajiban Zakat Fitrah ini jatuh ketika seseorang memiliki harta yang lebih untuk kebutuhannya sendiri dan orang-orang yang wajib dinafkahinya pada hari Raya Idul Fitri. Orang-orang yang wajib dinafkahi seperti istrinya, orang tuanya, anak-anaknya, bahkan pula pembantu-pembantunya (jika punya).

Dalam Zakat Fitrah diwajibkan mengeluarkan makanan pokok daerah muzakki (orang yang menunaikan zakat). Jika daerah itu makanan pokoknya adalah padi maka wajib berzakat beras padi, jika makanan pokoknya adalah jagung maka wajib berzakat jagung, dst. Lalu jika di daerah itu ada dua makanan pokok, maka zakat dibayarkan dengan makanan pokok yang lebih umum atau kaprah. Jika dua makanan pokok itu berimbang dalam hal dikonsumsi di daerah tersebut maka ia boleh memilih salah satunya.

Jumlah yang harus dibayarkan dalam zakat fitrah adalah satu shaa’. Ada perbedaan pendapat para ulama dalam mengkonversikannya ke dalam timbangan.

Zakat Fitrah boleh dibayarkan mulai awal Ramadan dan tidak diperbolehkan sebelum masuk Ramadan. Kemudian kewajiban pembayaran Zakat Fitrah jatuh ketika menemui akhir Ramadan dan awal Syawal. Sunahnya Zakat Fitrah ditunaikan sebelum melakukan shalat Idul Fitri dan makruh ketika setelah shalat Idul Fitri. Haram hukumnya membayar Zakat Fitrah setelah hari raya Idul Fitri dan Zakat Fitrah dihitung qadla’.

Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri

ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَﻥْ أُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْسيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Niat Zakat Fitrah untuk Istri

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Niat Zakat Fitrah untuk Anak Laki-laki

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku…. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ.

Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku…. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ.

Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.

Niat Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk… (sebutkan namae spesifik), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

Profil Penulis
Fas Rori
Fas Rori
Penulis Tsaqafah.id
Santri dan Lulusan Ma'had Aly Lirboyo 2021, menulis banyak puisi. Kumpulan puisinya bisa dikunjungi di "Sendiri Menyanyikanmu" (Ladang Kata, 2019).

6 Artikel

SELENGKAPNYA