Semacam Seni Membangunkan Orang Tidur yang Sia-Sia

Seperti pada umumnya di pesantren, begadang adalah hal lumrah. Hingga tidak sedikit dari mereka yang hobi begadang, yang meng-ahlul lail-kan diri tidak jarang disakralkan.

Tsaqafah.id – Upacara pemakaman kiai tinggal menghitung menit. Himbauan dari Pak Lurah kepada untuk ikut mengantarkan jenazah kiai, telah tersiar ke mana-mana. Pelataran pesantren sudah penuh sesak.

Pada waktu-waktu inilah, kita benar-benar merasakan keistimewaan para kiai dan pesantren kita. Pemandangan berjibun manusia membendung dan mengerumuni jenazah kiai.

Sementara itu, di komplek masih banyak santri yang sibuk menyiapkan diri. Ada yang baru datang kuliah—seperti Kang Adwa, yang masih perlu bebersih, ada yang masih mandi, menunaikan kewajiban Shalat Duhur, dan juga tidak sedikit yang masih tertidur pulas.

Seperti halnya di kamar, Kang Adwa yang meski sudah kebut-kebutan pulang dari ngampus untuk bisa menangi pelepasan kiai, ternyata di kamar masih menyisahkan tiga orang yang belum bergegas; dua masih mandi, sedang yang satu masih tertidur pulas. Kang Adwa mencoba membangunkan dengan menggerak-gerakkan bahunya, tapi yang dibangunin hanya mulet-mulet. Berulang-ulang, terus seperti itu.

Kang Adwa pun sampai geram dan hampir putus asa membangunkannya. Diiringi dengan makian, Kang Adwa menghantam, “Yaopo arek iki, kiaine mau dimakamkan malah enak-enakan turu. Hfft.” tapi makian itu tersendat. Hanya sampai di batang tenggorokan.  

Baca Juga: Pengajian Gus Baha: Tidurnya Orang Puasa Apa Termasuk Ibadah?

Yang tidur itu bernama Kang Dopir. Ia memang terkenal sering begadang, ahul lail. Ngelowo. Hidupnya terbalik. Tidur di siang hari, aktifitas di malam hari. Kehidupan itu tidak hanya berlaku di bulan puasa, tapi di sepanjang tahun. Ampuh tenan.

Seperti pada umumnya di pesantren, begadang adalah hal lazim. Hingga tidak sedikit dari mereka yang hobi begadang, yang meng-ahlul lail-kan diri sering disakralkan.

Tapi Dopir tidak, begadangnya malah mendesakralkan begadang itu sendiri. Lha, wong dibuat aktifitas yutupan, ludoan, dan ngepes. Beda dengan penilaian Gus Baha . . . . . . yang tidak pernah habis akal. Gus Baha bersikap lebih santai dalam menghadapi orang model begitu, “ya daripada dia maksiat”. Bahkan, kata Gus Baha “Tidurnya umatnya Rasulullah itu luar biasa. Utamanya tidurnya orang puasa dan ulama, tidurnya tasbih,” begitulah jurus jitu yang sering dikampanyekan di berbagai tempat.

Kembali ke kasus Dopir yang mulai menerima pemakluman. Jadi wajar-wajar saja kalau susah dibangunin. Sebab di satu sisi matanya lelah melihat sinar hengpon. Hingga butuh pepetengan yang cukup. Di sisi lain, dia tak terlalu pusing-pusing amat dengan aktifitas di luar ngajinya. Alias cah selo. Yang berumus hidup tidur nyenyak, madang jenak. 

Baca Juga: Memakan Kelan Sembilang Bagiku Adalah Ziarah

Kang Adwa pun abai lantas berganti pakaian, mengambil wudu dan bergegas sembahyang. Di sela-sela sembahyang, kedua teman tadi sudah tuntas mandi lalu berganti pakaian dan bergegas sembahyang pula . Yang tadi tidur, masih tidur juga.

Setelah Kang Adwa dan dua temannya tadi sudah siap berangkat, percobaan terakhir coba dilayangkan. Mereka bertiga masing-masing memandangi Dopir yang masih tidur. Pandangan mereka bersirobok melihat ‘separuh mayat’ yang terlentang.

“Piter, bangunin Dopir lah, dia mau ikut hormat pemakaman kiai atau nggak? Bisa-bisanya masih tidur.” Kang Adwa menyeka mengingatkan untuk segera membangunkan Dopir.

Kang Piter langsung tanggap, sambil menepuk-nepuk kaki Dopir, ia berujar “Pir….Dopir!… Bangun! Kamu ikut nggak?” Kang Piter coba membangunkan dengan berteriak dan sesekali menendang paha Dopir.

Dopir masih tidur, sampai kata dan gerakan itu diulang ketiga kalinya, ia baru mulet-mulet dan sadar. Dari mulutnya sekelebat dia berucap “Nggak. Aku mau tidur.”

“Beh. Lah awit mau koe ngopo, Dab! Pir…Dopir…!!! Sare?! Ngebluk?! Memejamkan mata?! Sare?! Menelentangkan badan!”

Yang diumpati tetap menjadi separuh mayat dan tidur dengan tenang di alamnya.

Total
12
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Pengajian Gus Baha: Tidurnya Orang Puasa Apa Termasuk Ibadah?

Next Article

Syaikh Prof. Dr. Muhammad Muhanna: Pentingnya Belajar Agama Secara Metodologis

Related Posts