Senjakala Televisi: Mati Segan Hidup Memalukan

Senjakala Televisi: Mati Segan Hidup Memalukan

15 Oktober 2025
265 dilihat
2 menits, 39 detik

Meminta tanggung jawab pada lembaga media itu satu hal. Tapi saya ingin berefleksi lebih jauh. Televisi dan media digital hari ini tak bisa dipisahkan. Setiap media, menurut McLuhan, punya logicnya. Logic dari media digital adalah algoritma.

Pada saat kelahirannya, televisi meresahkan banyak pemerhati di Barat. Bourdieu bahkan menyebut televisi melakukan penjajahan bahasa sebagai upaya dominasi simbolik. Televisi melanggengkan hegemoni dan mematikan akal kritis.

Ketika media digital berkembang, masyarakat beralih. Televisi menjadi usang, tetapi dia mewariskan spektakularisme yang tak terbendung dan kedangkalan yang meluas pada internet.

Program seperti On The Spot dan Xpose Uncensored yang mencuplik video-video dari internet lalu menarasikan ulang untuk ditayangkan di televisi adalah serendah-rendahnya kerja media. Mantan raksasa gagah ditekuk oleh internet. Produk program ini bukan produk jurnalisme. Jika dulu kita bisa menuntut tanggung jawab televisi karena menggunakan frekuensi publik, di zaman digital itu tidak lagi relevan. Televisi kehilangan dasar, penonton, dan reputasinya.

Baca juga: Ketika Pesantren Disudutkan di Mata Media yang Tak Paham Adab

Kemarin Xpose Uncensored melakukan kesalahan besar dari praktiknya yang sudah rendah dalam memproduksi program. Mencomot video dengan wajah sejumlah kiai dan bu nyai yang dinarasikan bahwa orang pesantren ini materialis dan feodal. Parahnya mereka bahkan tidak sadar wajah siapa yang mereka comot. Hal ini memantik kemarahan kaum santri yang membuat kantor Trans7 digruduk.

Sebagai orang yang belajar media, saya bahkan malas untuk menuntut ‘seharusnya media memegang teguh kode etik jurnalistik’. Saya sudah lama kehilangan harapan pada media televisi. Sudah 10 tahun keluarga saya tidak memiliki televisi di rumah. Telah lama media membuat program berkualitas rendah. Tapi tak pernah membayangkan bisa serendah ini.

Meminta tanggung jawab pada lembaga media itu satu hal. Tapi saya ingin berefleksi lebih jauh. Televisi dan media digital hari ini tak bisa dipisahkan. Setiap media, menurut McLuhan, punya logicnya. Logic dari media digital adalah algoritma. Ironinya, algoritma yang dibangun berdasar logika matematika itu didesain untuk mengikuti afeksi pengguna. Apa yang disukai pengguna, algoritma akan merekomendasikan kita secara otomatis ke sana. Afeksi ini yang mengubah cara kita bermedia dan mencerna informasi. Tidak lagi mengedepankan nalar dan akal budi, media menyuguhi kita dengan tontonan yang menghidupkan emosi kita. Saat emosi kita terpantik apakah itu suka, sedih, marah, menjijikkan, dan sebagainya, kita akan berhenti scroll, menontonnya, dan mesin aplikasi akan mengukurnya sebagai perilaku digital kita. Rekomendasi video serupa akan memenuhi feed sosial media kita.

Baca juga: Aktualisasi Makna Ta’dzim di Pesantren

Itu mengapa kita hari ini hidup tunduk pada engagement. Informasi penting maupun sampah, semuanya dicocokkan dengan cara algoritma afeksi bekerja. Semua harus tampil menarik demi atensi. Konten kreator mendapatkan cuan, tapi perusahaan media Big Tech seperti Meta dan Google mendapatkan guyuran pundi-pundi yang luar biasa besar dari seluruh dunia. Kita hidup dalam masa Digital Capitalism. Kapitalisme konglomerat seperti Chairul Tanjung bahkan tak ada apa-apanya dibanding para konglomerat Silicon Valley. Tapi mereka terasa jauh bahkan tidak tampak dalam aktivitas bermedia kita.

Keriuhan di media sosial atas tayangan Trans7 seperti yang sekarang terjadi, ribuan penggunaan hashtag #BoikotTrans7, seperti memberikan kita demokratisasi media. Viralitas silih berganti. Kemenangan wacana bersifat sementara, tapi yang selamanya adalah kemenangan kapitalisme digital.

Neil Postman menulis televisi membuat masyarakat terutama anak muda ‘amusing ourselves to death’. Bersenang-senang sampai mati, lupa cita-cita dan jati diri. Gejala ini mengglobal sebagai konsekuensi dari perubahan lingkungan yang diciptakan oleh media. Jadi apa yang terjadi pada pendangkalan wacana di masyarakat itu, mau kita atur dengan etika jurnalisme pun kalau memang kodrat televisi dan media digital tunduk pada selera awam, kita akan berputar terus di lingkaran yang sama hingga lelah. Media kita apakah bisa lebih baik lagi? Mereka sudah kehilangan motivasi dan alasan untuk membuat program yang bagus.

Boikot Trans7 bisa kita perluas untuk memboikot segala bentuk kedangkalan media. Apakah kita bisa melawan kedangkalan diri kita sendiri?

Profil Penulis
Nabilah Munsyarihah
Nabilah Munsyarihah
Penulis Tsaqafah.id
Direktur Penerbit Buku Anak Alalakids

2 Artikel

SELENGKAPNYA