Tahun Baru dan Intropeksi: Menimbang Sebelum Ditimbang

Tahun Baru dan Intropeksi: Menimbang Sebelum Ditimbang

12 Agustus 2021
668 dilihat
3 menits, 21 detik

Tsaqafah.id – Terkadang kita sebagai manusia ‘bingung’ memikirkan segala keanugerahan yang Allah berikan kepada para makhluknya. Dia memberikan hal tersebut dengan tanpa perhitungan kepada para hamba-Nya, sepeser pun. Dengan tanpa mengurangi kekayaan yang dimiliki-Nya, sedikit pun. Entah berupa ilmu, harta kekayaan, derajat bahkan sampai pangkat sekalipun. Tak mampu diri ini menalar apa yang dikehendaki-Nya. Semua karena keterbatasan kita sebagai makhluk dalam menjangkau kesemuanya itu.

Bukan karena iri dengki yang tertanam dalam hati, melainkan hanya curahan diri terhadap apa yang terjadi. Sering kali diri yang lemah ini tidak mampu mengontrol apa yang terkandung dalam diri, hanya karena mengikuti hawa nafsu yang tak jarang mengajak kepada keburukan. Padahal, kita telah mendeklarasikan bahwa kita adalah orang yang beriman, yang menyatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah, Dzat yang Maha Baik. Namun, mengapa masih saja diri ini menghamba kepada hawa nafsu yang  selalu condong akan hal yang buruk?

Jangan menyalahkan Tuhan yang jelas-jelas mustahil adanya kesalahan pada-Nya. Salahkanlah kepada diri pribadi, yang memang pantas segala kesalahan dan kekeliruan disandang olehnya. Kita semua hanyalah nisbat kepada-Nya, tidak mungkin segala kebaikan yang diri ini perbuat itu bermuara dari seluruh kemampuan yang dimiliki, justru sebaliknya, segala keburukan yang ada, memang murni muncul dari esensi kita sebagai hamba. Al insan mahallul khatta wan nisyan. Manusia itu tempatnya lalai dan lupa.

مَا اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ … الآية {النساء : 79}

Allah ta’ala berfirman : “kebajikan apapun yang engkau peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri … (Q.S An-nisaa’ ayat 79)

Baca Juga: Bismillah, Mumet Hilang!

Intropeksi diri dengan cara ber-muhasabah mandiri sebelum hari pembalasan, kiamat, tiba merupakan satu cara untuk mengevaluasi kesalahan di dunia. Yang mana diri ini pasti akan dimintakan pertanggung jawaban semua amal. Setidaknya, dengan cara menimbang-nimbang, ber-akuntasi dengan amal, dan berfikir sebelum bertindak menjadikan perhitungan amal (baca: hisab) kita ringan, sehingga hal itu bukanlah beban di hari akhir kelak, khususnya untuk orang-orang beriman yang beramal soleh. Beruntunglah orang-orang yang tidak merasakan beratnya timbangan amal yang buruk di hari itu. Dan, berbahagialah yang kebaikannya berbobot di timbangan tersebut.

Persiapan yang demikian rupa bisa dimulai dari tingkah laku kita sendiri, mulai dari perbuatan dan ucapan sehari-hari. Mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari segala amal perbuatan yang kita lakukan merupakan formula khusus, supaya muhasabah yang kita lakukan itu sempurna efeknya. Namun, semua keuntungan itu tak mungkin bisa diperoleh kecuali dengan amal perbuatan. Ibarat tugas PR yang diamanahi seorang guru kepada muridnya. Mau dapat nilai dari mana jika sang murid tidak mengerjakannya? Dan apa yang mau dinilai guru bila tugasnya tidak ditunaikan? Demikianlah analogi sederhana yang mampu menggambarkan posisi amal dan ganjaran, yang kelak akan ditimbang pada yaumul hisab.

Kendati demikian, jangan pula kita terus-menerus mengharapkan balasan dari Allah sang Pemilik Kebaikan. Karena pada hakikatnya, kita sebagai makhluk itu diciptakan-Nya, di alam semesta raya ini, hanya untuk beribadah kepada-Nya, tidak ada yang lain dan tidak pula untuk yang lain. Itulah tugas utama bagi seorang hamba. Bercita-cita boleh setinggi mungkin untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan, namun ingatlah bahwa cita-cita paling utama dan mulia hanyalah satu, yakni meraih rida-Nya semata. Bersegeralah menuju maghfiroh-Nya untuk mendapatkan rahmat dan rida dari-Nya, supaya tergolong orang-orang yang bertakwa juga beruntung di kemudian hari, sebagaimana dalam surat Ali-Imran ayat 133.

Baca Juga: Cara Gus Mus Menghormati Perempuan

Setelah seharian penuh bergulat dengan kebaikan, jangan lupakan evaluasinya pula di penghujung hari dengan cara introspeksi terhadap segala amal perbuatan yang telah dilakukan. Bila lalai dalam muhasabah diri (introspeksi), maka cepat-cepatlah untuk mengqada’nya di hari lain, supaya dari hari satu menuju hari berikutnya terdapat peningkatan, sekaligus peringatan, yang membikin perkembangan baik di setiap harinya. Karena sungguh merugi orang yang amal perbuatannya sama seperti hari sebelumnya, dan sungguh celaka bila amalannya lebih buruk dari yang sebelumnya. Tetapi, orang yang beruntung hanyalah dia yang amal perbuatannya lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Hal ini bermakna, adanya keharusan di dalam peningkatan amal perbuatan seseorang dalam setiap harinya, agar tidak menjadi orang yang merugi.

“ حَاسِبُوْا قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَزِنُوْا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أنْ تُوْزَنُوْا ”

Ucapan di atas disabdakan Kanjeng Nabi Saw., yang menurut Imam Tirmidzi hadis ini mauquf kepada Sayyidina Umar RA. Yang memiliki arti : “Perhitungkanlah (amal perbuatan) kalian semua sebelum nantinya akan diperhitungkan, dan pertimbangkanlah amal perbuatan kalian sebelum ditimbang, di hari pertimbangan amal, kelak.”

Ala kuli hal, selamat menyemarakkan tahun baru Islam yang berusia 1443 tahun, sesuai kalender hijriah. Harapannya, semoga di tahun yang baru, hari-hari yang baru, mampu menampar, melempar dan membuang segala amal kita yang lalu yang kurang baik. Kemudian kita evaluasi kembali, bercermin atas apa yang terjadi, lalu diperbaiki sejeli mungkin. Semarakkan tahun baru dengan pembaruan niat, agar mampu beramal jauh lebih baik dari yang lalu, dengan tanpa mengesampingkan muhasabah diri sebagai faktor penunjangnya. Kiranya kita lebih mantap untuk menjalani masa yang baru ini, karena kita telah menimbang sebelum nantinya ditimbang. Wallahu A’lam.

Profil Penulis
Diandra Rizky Rosayanto
Diandra Rizky Rosayanto
Penulis Tsaqafah.id

6 Artikel

SELENGKAPNYA