Kita tidak akan pernah menjadi mulia hanya dengan gelar “Muslim” atau “Islam” jika kita tidak mencerminkan ajaran Al-Quran dalam kehidupan kita.
Surat Al-Anbiya ayat 10 menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an sebagai sumber pedoman bagi manusia, khususnya bagi kaum Muslimin.
“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah Kitab (Al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al-Anbiya’: 10)
Allah menegaskan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat dhikrukum, yakni kehormatan, kemuliaan, petunjuk, serta kedudukan yang tinggi. Namun, Allah juga menegur: Apakah kalian tidak memahaminya?
Ini adalah peringatan yang lembut namun dalam, ditujukan kepada kita semua yang mengaku sebagai umat Islam, hamba Allah, tetapi sering kali lalai terhadap isi dan ajaran al-Qur’an. Kita bangga sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ, namun apakah benar kita telah menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam hidup?
Kemuliaan di Mata Allah Tidak Datang Tanpa Usaha
Kemuliaan tidak diberikan secara cuma-cuma. Allah menjanjikan kemuliaan kepada mereka yang hidup sesuai dengan petunjuk-Nya. Salah satu bentuk kemuliaan adalah kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an—baik dari segi bacaan, pemahaman, maupun pengamalan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (al-Qur’an), dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim no. 817)
Hadis ini mengisyaratkan bahwa siapa yang memuliakan Al-Qur’an, maka Allah akan memuliakannya. Dan sebaliknya, siapa yang meremehkannya, maka ia akan terhina, bahkan jika ia memiliki status sosial atau ilmu duniawi yang tinggi.
Baca juga: Ilmu Qira’at (1): Kesalahan Makharijul Huruf dan Sifatnya dalam Membaca Al-Qur’an
Mengapa Banyak yang Tidak Memahami?
Salah satu sebab banyak orang tidak memahami Al-Qur’an adalah karena mereka tidak membiasakan diri untuk membacanya, apalagi mempelajarinya secara mendalam. Membaca tanpa memahami tentu saja lebih baik daripada tidak membaca sama sekali, namun tidak akan cukup untuk mengangkat kita menjadi hamba yang mulia di sisi Allah.
Allah Swt. berfirman:
“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah agar mereka menghayati ayat-ayat-Nya dan agar orang-orang yang berakal mendapatkan pelajaran.” (QS. Shad: 29)
Perhatikan kata li-yaddabbarū dalam ayat tersebut. kata ini memiliki arti agar mereka mentadabburi, merenungkan, memikirkan dengan sungguh-sungguh isi kandungan Al-Qur’an. Ini adalah ajakan untuk merenung dan mengaitkan isi Al-Qur’an dengan kehidupan nyata kita. Tanpa tadabbur, maka pesan-pesan Al-Qur’an akan terasa hambar dan sulit dimaknai.
Kewajiban Menyampaikan
Setelah memahami, maka kewajiban selanjutnya adalah menyampaikan. Ilmu yang hanya disimpan dan tidak diajarkan kepada orang lain akan menjadi beban di akhirat kelak. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang pada hari kiamat dengan kekangan dari api neraka.” (HR. Abu Dawud no. 3658)
Maka dari itu, setiap orang yang diberi pemahaman oleh Allah hendaknya tidak menyembunyikannya. Ia harus berbagi, menyampaikan, dan menjadi cahaya bagi sekelilingnya. Tidak harus menjadi ustaz atau penceramah. Cukup dengan menyampaikan kebenaran kepada keluarga, sahabat, atau orang-orang terdekat dengan bahasa yang baik dan penuh hikmah.
Kita Harus Segera Berubah
Hidup ini singkat. Setiap hari yang berlalu tidak akan pernah kembali. Maka bersegeralah untuk memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an. Jangan tunggu sampai tua, jangan tunggu sampai ada waktu, dan jangan pula menunggu datangnya bencana untuk sadar. Allah berfirman:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)
Jadikanlah hari ini sebagai awal baru untuk mencintai Al-Qur’an lebih dalam. Mulailah dengan hal-hal sederhana: membaca satu halaman sehari, mencoba memahami satu ayat, mendengarkan tafsir, atau menghafalkan sedikit demi sedikit. Lakukan secara terus-menerus, dengan penuh keikhlasan.
Penutup
Kemuliaan seorang hamba di sisi Allah sangat erat kaitannya dengan Al-Qur’an. Kita tidak akan pernah menjadi mulia hanya dengan gelar “Muslim” atau “Islam” jika kita tidak mencerminkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan kita. Maka marilah kita semua menjadi bagian dari hamba-hamba yang memuliakan kitab Allah, agar Allah pun memuliakan kita di dunia dan akhirat. Wallāhu a‘lamu biṣ-ṣawāb.

