Tsaqafah.id -Ibadah adalah salah satu konsekuensi logis dari keimanan seorang hamba terhadap Tuhannya. Dalam setiap ibadah yang dilakukan, ada saja perbedaan kualitas ibadah antara seseorang dengan orang lainnya.
Ada kalanya ia beribadah dengan kadar minimum sesuai dengan syarat dan rukun yang dijelaskan dalam buku-buku fikih, ada pula yang mendedikasikan dirinya untuk beribadah secara all out, semaksimal mungkin.
Banyak faktor yang bisa mempengaruhi kualitas ibadah seseorang, bisa jadi disebabkan oleh kadar pengetahuan, pengalaman spiritual, bahkan motivasi dalam melaksanakan suatu ibadah.
Hal yang demikian juga berlaku dalam puasa. Puasa adalah salah satu ibadah pokok dalam syariat Islam. Sehingga seluruh kaum muslimin diwajibkan untuk melakukannya, terkhusus di bulan Ramadan.
Lagi-lagi, meskipun sama-sama berpuasa, kualitas puasa satu sama lain bisa jadi sangat berbeda.
Imam al-Ghazali memberikan gambaran ringkas tentang tingkatan kualitas puasa dalam magnum opusnya, Ihya’ Ulum al-Din. Beliau mengklasifikasikan tiga tingkatan bagi orang yang berpuasa beserta ciri-cirinya. Tiga tingkatan itu adalah puasanya orang awam, puasanya orang khusus, dan puasanya orang yang lebih khusus.
Baca Juga: 6 Adab Berpuasa Menurut Imam Izzuddin bin Abdissalam
Pertama; Puasanya orang awam. Puasa di tingkatan ini adalah puasa dengan standar minimum sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku fikih. Imam al-Ghazali menggambarkan bahwa orang yang ada pada tingkatan ini berpuasa dengan menahan perut dan kemaluan dari menuruti syahwat.
Kedua; Puasanya orang khusus. Puasa di tingkatan ini lebih istimewa jika dibandingkan dengan tingkatan orang awam.
Imam al-Ghazali menyatakan bahwa selain menahan perut dan kemaluan dari menuruti syahwatnya, puasanya orang khusus juga dengan menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan lain dari melakukan perbuatan dosa. Puasa pada tingkatan ini adalah puasanya para Shalihin.
Ketiga; Puasanya orang yang lebih khusus. Puasanya orang pada tingkatan ini adalah puasa yang paling istimewa. Orang-orang pada tingkatan ini berpuasa dengan menahan perut dan seluruh anggota tubuh dari syahwat dan dosa. Selain itu, orang-orang ini juga puasa hati.
Imam al-Ghazali menyebut bahwa puasa hati adalah menahan hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga. Termasuk menahan hati dari selain Allah swt secara penuh. Sehingga puasa tingkat ini dianggap “batal” apabila terlintas pikiran selain Allah swt dan hari akhir.
Baca Juga: Pembukaan #NyantriKilat: Filosofi Santri sebagai Paku Masyarakat
Adapun memikirkan dunia yang dimaksudkan untuk urusan agama, maka tidak termasuk “membatalkan” puasa di tingkatan ini, karena hakikatnya dunia yang orientasinya untuk agama adalah bekal akhirat yang tidak lagi dikatakan sebagai dunia. Inilah tingkatan puasa yang ditempuh para Nabi, Rasul, Shiddiqin, dan Muqarrabin.
Untuk menggapai tingkatan-tingkatan ini, tentu saja seorang hamba membutuhkan pengetahuan dan hal (kondisi spiritual) yang mapan. Ketika kadar pengetahuan dan kondisi spiritual sudah dalam jalurnya, bukan mustahil seorang hamba biasa saja dapat memperbagus kualitas puasanya sehingga masuk dalam kategori puasanya para Shalihin. Namun semuanya tetap berkat taufiq dan inayah dari Allah swt. Wallahu a’lam.

