Tsaqafah.id – Selasa (13/4) kegiatan ngaji online #NyantriKilat resmi dibuka. Kegiatan ini akan dilakukan setiap hari selama sebulan penuh secara virtual dengan konsep ngaji ala pesantren. Sedikitnya 50 orang peserta akan diajak mengkaji ilmu-ilmu dasar keislaman dalam bidang Al-Quran, hadist, tauhid, dan fikih bersama dengan ustadz-ustadzah alumni pesantren yang kompeten di bidangnya. Dalam pembelajarannya, #NyantriKilat juga akan mengacu pada kitab-kitab dasar rujukan pesantren seperti Arba’in Nawawi, Aqidatul Awam, Safinatun Naja dan Risalatul Mahidl.
“Pesantren” dan “santri” memang menjadi kata kunci kegiatan ini. Sulma Safinatushofiyah dan Atika Gunardho selaku inisiator sengaja merancang kegiatan ini untuk kalangan muslim yang ingin mencicipi ngaji ala pesantren dan para alumni yang rindu suasana pengajian di pondok. Harapannya #NyantriKilat akan menjadi kelas yang intensif dan interaktif.
Konsep “pesantren” dan “santri” sengaja dipilih sebagai antitesis kajian-kajian online yang kini marak di internet. Di era matinya kepakaran, banyak bermunculan dai-dai di media sosial yang kompetensinya dipertanyakan. Selain itu, ceramah-ceramah yang mengedepankan packaging seringkali mengaburkan sumber-sumber keilmuan yang otoritatif dan banyak menciptakan distorsi.
#NyantriKilat berikhtiar menghadirkan ustadz-ustadzah dari sejumlah pesantren yang menguasai bidang-bidang ilmu keislaman dari sumber-sumber yang jelas. Alias, mata rantai keilmuan atau sanad-nya dapat dipertanggungjawabkan. Penggunaan kitab-kitab karangan ulama-ulama masyhur (kutubutturats) juga menjadi sebentuk upaya untuk tetap berpegang pada referensi.
Baca juga: Tercabutnya Ilmu Melalui Wafatnya Para Ulama
Nyai Muyassaroh Hafidhoh, ulama perempuan dan aktivis gender yang hadir dalam pembukaan mengapresiasi kegiatan ini sebagai bentuk pesantren digital. Di era pandemi, kemasan digital dari ngaji pesantren yang biasanya digelar tatap muka adalah kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Kalangan pesantren seyogyanya tidak alergi terhadap perkembangan teknologi sejalan dengan kaidah “Al muhafadzotu ‘ala qodimis sholih, wal akhdzu bil jadidil ashlah,” atau “Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.”
Dalam kesempatan itu Nyai Muyassaroh Hafidhoh juga mengingatkan mengenai filosofi santri. Bahwa orientasi seorang santri adalah tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi mengamalkan ilmu untuk masyarakat. Mengutip petuah almaghfurlah KH. Abdul Karim Lirboyo, posisi santri di masyarakat bagaikan paku. Meski tidak tampak, paku di bangunan berfungsi menguatkan. Kalau paku tersebut terlihat, harus dipalu lagi.
Filosofi tersebut dapat dimaknai bahwa seorang santri, dengan keilmuan yang dimilikinya, harus membawa manfaat bagi masyarakat yaitu dalam penguatan iman dan Islam. Dan hal itu harus dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah, pantang kendor.

