Obati Dahaga Ngaji Ramadan di Pesantren, Alumni Krapyak Buka Kelas “#NyantriKilat”

Rata-rata kebingungan itu berkutat pada pilihan antara; hendak mendahulukan ngaji yang mana, kiai siapa, kitab apa yang saya butuhkan saat ini, dan kebingungan tujuh turunan lainnya.

Tsaqafah.id – Pandemi masih menghalangi cara lama kita dalam berkomunikasi. Pola komunikasi dasar seperti bersalaman, berhalaqah maupun berjamaah mendadak jadi buah simalakama. Kalau tidak bersalaman dibilang kurang friendly, tapi toh kalau memaksa bersalaman, rasa takut tersebarnya Covid-19 semakin menjadi-jadi.  

Dalam kurun setahun terakhir ini, pembelajaran secara daring atau virtual kemudian menjadi primadona. Peserta didik cukup mengikuti proses pembelajaran dari rumah. Dengan begitu, peserta didik menjadi aman dan terjaga dari virus. Meski dalam praktiknya, beberapa kendala tak henti mengemuka. Hingga pola tambal-sulam jadi ramuan taktis untuk memperbaiki kendala pembelajaran daring.

Nah, salah satu instansi pendidikan Islam ‘tertua’ di negeri ini yakni pesantren juga mengadopsi teleconference sebagai alternatif pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Hasil akomodasi media baru tersebut, lambat laun, banyak konten produksi pesantren mengisi ruang digital.

Namun, tidak sedikit juga sobat yang masih kebingungan bin galau terhadap persebaran konten pengajian Islam tersebut. Terutama bagi sobat-sobat kita yang belum pernah nyantri atau  sudah pernah nyantri tapi masih pengin ngaji, tholabul ‘ilm.

Rata-rata kebingungan itu berkutat pada pilihan antara; hendak mendahulukan ngaji yang mana, kiai siapa, kitab apa yang saya butuhkan saat ini, dan kebingungan tujuh turunan lainnya. Apalagi di bulan Ramadan, dimana konten-konten Islam tak lagi terbendung.

Baca Juga: Setelah Heboh Nikahan ala Sultan Atta-Aurel, Apa Sih Sebenarnya Tujuan Menikah?

Mendekati Ramadan ini, sobat-sobat pasti merindukan nuansa ngaji Ramadan di pesantren atau yang mashur disebut dengan “ngaji kilat”. Tapi apa boleh buat, semesta belum mendukung sobat-sobat untuk sekedar memecah celengan rindu tersebut.

Meski begitu, jangan ciut nyali. Adalah Sulma Safinatushofiyah dan Atika Gunardho dua muslimah muda alumni Pesantren Krapyak itu merupakan inisiator dari lahirnya program “Nyantri Kilat”. Keduanya beranggapan jika masih banyak sobat-sobat kita yang muslim yang resah akan kualitas ilmu keislaman mereka. Mengikuti pengajian di Youtube saja bukan jaminan.

Program “Nyantri Kilat” ini merupakan program pengajian balagh Ramadan yang diselenggarakan secara daring untuk memfasilitasi muslim yang belum sempat mengenyam pendidikan di pesantren dan santri atau alumni . . . . . . pesantren yang merindukan nuansa ngaji kilat di pesantren.

Seperti tradisi ngaji kilat pesantren pada umumnya, metode yang dipakai “Nyantri Kilat” tidak juah berbeda dengan pengajian yang ada di pesantren, seperti: sorogan, bandongan dan nderes.

Demikian halnya soal kitab, “Nyantri Kilat” mendayagunakan kitab-kitab ringan. Meski identik dengan kitab tipis dan ringan, bukan berarti pembahasannya tidak penting, sebab cakupan isi dan konten dalam kitab-kitab tersebut menjadi landasan pokok kita dalam mengamalkan ajaran agama secara baik dan benar dan berhaluan ahlussunnah wal jama’ah.

Sementara itu, kurikulum yang dipakai  “Nyantri Kilat” juga setara atau mengacu pada kurikulum Diniyah tingkat Awwal. Adapun fan keislaman yang diajarkan meliputi: al-Qur’an yang akan diampu oleh Ustadzah Fidza Azimatul Aqilah, M.A, Ustadzah Rabiah al-Adawiyah S.Th.I dan  Ustadzah Lailila Muyasaroh, M.A. dan Ustadz Al Kaff, Hadis (Arba’in Nawawi) diampu Ustadz Ahmad Ishom Syahin, L.c, Tauhid (Aqidatul Awam) diampu Ustadz M. Talkhis Ulinnuha Alhafidz, Fikih (Safinatun Naja) diampu Ustadz Muhammad Faried Nabil, M.H dan Fikih Wanita diampu Ustadzah Nailil Maghifroh, S.Pd.

Baca Juga: Takwa Inovatif, Jalan Milenial Menggerus Radikalisme Agama

Nyantri Kilat sebagai bentuk modern dari ngaji kilat ini diampu oleh dewan Asatidz muda yang memang mengajar dan rata-rata alumni Pesantren Krapyak dengan bidang keilmuan khusus yang mereka kuasai. Harapan kecil dari adanya progam ini, Neng Sulma menjelaskan betapa pentingnya pengetahuan dasar kita tentang agama Islam yang kelak menjadi bekal kita dalam menghadapi musykilah sehari-hari dalam kehidupan kita sendiri dan serta bekal kelak kita di akhirat.

Sesuai dengan judulnya, Nyantri Kilat akan diselenggarakan pada 1-27 Ramadan 1442 H/13 April – 9 Mei 2021. Sementara itu, pendaftaran dibuka pada 6-13 April 2021 dengan mengisi form dan melengkapi data diri.

Kelas “Nyantri Kilat” bersifat intensif dan interaktif. Setiap kelas akan dimoderatori oleh dua sahabat karib yang energik, Sulma Safina dan Atika Gundardho. Dengan begitu, diharapkan para #sobatsantrikilat dan para Asatidz (yang sangat friendly) bisa berinteraksi dengan nyaman dan tenang.

Yuk. Buat Sobat Tsaqafriend yang tertarik daftar, silakan klik di sini.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Setelah Heboh Nikahan ala Sultan Atta-Aurel, Apa Sih Sebenarnya Tujuan Menikah?

Next Article

Makna “Ajining Rogo Soko Busono, Ajining Diri Soko Lathi” dalam Prinsip Kepemimpinan

Related Posts