6 Kiat Menggapai Kesempurnaan Puasa dari Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali memberikan gambaran tentang kiat-kiat menggapai kesempurnaan puasa yang ditempuh oleh para shalihin dalam Ihya’ Ulum al-Din

Tsaqafah.id – Dalam pembahasan sebelumnya tentang 3 Tingkatan Puasa Menurut Imam al-Ghazali, telah disinggung tentang puasanya orang khusus. Puasa ini adalah puasa yang dilakukan oleh para shalihin. Bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, namun orang-orang ini berpuasa dengan menahan seluruh anggota badan mereka dari menuruti syahwat dan perilaku menyimpang.

Imam al-Ghazali memberikan gambaran tentang kiat-kiat menggapai kesempurnaan puasa yang ditempuh oleh para shalihin dalam Ihya’ Ulum al-Din juz 1. Selain dua rukun utama puasa, yaitu niat dan imsak, setidaknya ada 6 tips yang diberikan oleh Imam al-Ghazali untuk sampai pada kesempurnaan ibadah puasa.

Pertama; Menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang segala sesuatu yang dicela dan dibenci. Serta menahan pandangan terhadap segala hal yang bisa menyibukkan hati dan melalaikannya dari mengingat Allah swt.

Kedua; Menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kata-kata keji, perkataan kasar, pertengkaran, dan perdebatan. Jika takut terjerumus dalam hal-hal itu, maka cara mengendalikannya adalah dengan diam.

Selain itu, hendaknya lisan juga disibukkan dengan dzikir kepada Allah swt dan membaca al-Qur’an. Nabi saw bersabda dalam sebuah hadis,

إنما الصوم جنة فإذا كان أحدكم صائما فلا يرفث ولا يجهل وإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل إني صائم إني صائم

“Sesungguhnya puasa itu tidak lain adalah perisai. Apabila seseorang diantara kalian puasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan pula bertindak bodoh. Dan jika ada seorang yang menyerangnya atau mencacinya, hendaknya ia (orang yang berpuasa) mengatakan, ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’, ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: 6 Adab Berpuasa Menurut Imam Izzuddin bin Abdissalam

Ketiga; Menahan pendengaran dari mendengarkan hal-hal yang dibenci, karena pada dasarnya setiap perkataan yang haram diucapkan, maka haram pula mendengarkannya.

Oleh karenanya, Allah swt menyamakan orang yang mendengarkan kedustaan dengan orang yang memakan barang haram. Allah swt berfirman, 

سَماَّعُون لِلْكَذِبِ . . . . . . أَكاَّلُوْنَ لِلسُحْتِ

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (QS. al-Maidah: 42)

Keempat; Menahan berbagai anggota badan lainnya dari bermacam dosa. Seperti menahan tangan dan kaki dari perbuatan yang dibenci, termasuk juga menahan perut dari syubhat-syubhat saat berbuka. Karena tidak ada artinya berpuasa menahan perut dari barang yang halal, namun berbuka dengan sesuatu yang haram.

Orang yang berpuasa seperti ini ibarat sedang membangun istana, tapi justru menghancurkan negerinya.

كم من صائم ليس له من صومه إلا الجوع والعطش

“Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan rasa lapar dan haus saja.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah)

Dikatakan bahwasanya orang yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga karena berbuka dengan sesuatu yang haram. Dikatakan juga bahwa orang yang berpuasa itu menahan perutnya dari makanan halal, namun justru berbuka dengan “memakan daging manusia”, yakni ghibah. Dikatakan juga, orang ini menahan lapar dan dahaga namun tidak menjaga anggota tubuhnya dari berbagai perbuatan dosa.

Baca Juga: Pengajian Gus Baha: Peran Nabi dan Ulama di Hari Kiamat

Kelima; Tidak berlebihan makan saat berbuka sampai penuh perutnya, meskipun dengan sesuatu yang halal. Karena tidak ada wadah yang paling dibenci oleh Allah swt selain perut yang penuh dengan makanan halal.

Maka bagaimana mungkin puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah swt dan mengalahkan syahwat jika orang yang berpuasa itu justru mengganti jatah makannya di siang hari saat berbuka.

Keenam; Hendaknya setelah berbuka hatinya merasa “gelisah” antara takut dan harap. Karena ia tidak tahu apakah puasanya diterima, sehingga termasuk golongan muqarrabin atau ditolak sehingga tergolong orang-orang yang dimurkai.

Sikap demikian hendaknya senantiasa hadir pada setiap akhir ibadah yang baru saja dilaksanakan. Nabi bersabda,

إن الصوم أمانة فاليحفظ أحدكم أمانته

“Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaklah seorang diantara kamu menjaga amanahnya.” (HR. al-Khara’ithy)

Wallahu a’lam.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Kisah Umar bin Khattab dan Perempuan Pedagang Susu

Next Article

Ekspresi Beragama di Masa Corona

Related Posts