Spiritualitas dalam Berguru di Dunia Digital, Adakah?

Spiritualitas dalam Berguru di Dunia Digital, Adakah?

01 April 2023
525 dilihat
3 menits, 13 detik

Tsaqafah.id – Itulah salah satu pertanyaan inti pada pertemuan Ngaji Pasanan #5 di Pondok Kaliopak yang dinarasumberi oleh Bapak Taufik Rahzen. Seperti yang kita ketahui, generasi kini, Gen Z misalnya, lahir dan tumbuh sebagai digital native. Sehingga seiring berkembangnya teknologi, generasi sekarang tidak lagi mengenal proses panjang dalam pencarian ilmu.

Seperti yang dialami Pak Taufik Rahzen misalnya,  yang harus berjalan kaki sepanjang 60 KM hanya untuk mendapatkan sebuah buku.

Sebaliknya, kini hanya butuh satu ketukan jari saja agar kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Dalam satu detik saja mesin pencarian modern sudah bisa memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.

Bahkan, tak hanya terhadap pertanyaan kita, teknologi modern memungkinkan menampilkan informasi yang disesuaikan dengan minat dan kesukaan kita.

Baca Juga

Namun, yang jadi pertanyaan, apakah itu semua adalah solusi? Apakah proses kecepatan teknologi yang memudahkan dan meringkas proses-proses yang panjang adalah sebuah utopia atau justru distopia? Lebih jauh, apakah dunia digital dapat memenuhi kebutuhan spiritualitas kita dalam proses pencarian ilmu?

Hari pertama saat ngaji pasanan di Pondok Kaliopak, saya bercerita bahwa saya yang lahir sebagai digital native, tentu saja pernah menanyakan persoalan agama di mesin pencarian modern. Saya juga punya semacam perjalanan berguru digital terhadap Ustadz Felix Siauw hingga Gus Baha.

Tentu dengan begitu, sedikit banyak saya sempat merasa bahwa saya mendapatkan pengalaman spiritualitas di dunia digital yang entah bagaimana dapat menghantarkan saya terhadap Gus Baha. Padahal, bisa saja algoritma digital menuntun saya untuk menjadi muhibbin Felix Siauw misalnya.

Tak munafik rasanya bahwa saya sempat merasakan adanya faktor lain seperti nasib, takdir bahkan rahmat Allah yang menuntun perjalanan berguru virtual saya. Meski, sebenarnya saya yang beruntung lahir dan tumbuh di lingkungan NU ini masih lebih banyak berguru dengan cara-cara tradisional terlebih pada pengajian Al-Qur’an dan kitab. Namun, saya tentu juga menyukai kecepatan teknologi yang menghantarkan saya pada guru-guru virtual dengan proses yang sangat ringkas.

Namun, pengajian bersama Pak Taufik Rahzen sedikit banyak telah mengubah pandangan saya terhadap spiritualitas digital.

Baca Juga Mengenali Mukjizat Al-Quran dari Susunan Bahasanya

Saya jadi teringat oleh sebuah tulisan oleh Khalimatu Nisa, mengenai kegelisahan orang tua terhadap keberadaan Smart Hafiz. Yaitu gawai yang membantu anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an dan bahkan menghafalkannya. Tentu ini mempunyai daya tarik yang kuat di tengah kegelisahan orang tua terhadap kecanduan gadget. Di mana setidaknya Smart Hafiz adalah gawai digital anak-anak yang bersifat “edukatif” dan fokus terhadap pengajaran agama.

Banyak juga yang sudah membuktikan bahwa dengan kecanggihan teknologi Smart Hafiz anak-anak dapat dengan mudahnya mempelajari bahkan menghafalkan Al-Qur’an. Memberikan output yang sama dengan cara yang lebih cepat dan ringkas dibanding pengajian-pengajian tradisional.

Terlebih bagi orang tua yang tidak memiliki waktu untuk mengajarkan anak-anaknya. Namun, apakah Smart Hafiz atau Artificial Intelligence atau smart-smart digital yang lain adalah sebuah solusi untuk tantangan di era kini?

Dengan adanya teknologi digital seperti Google, media sosial, Smart Hafiz atau AI akan menghilangkan proses-proses pembelajaran tradisional yang sebenarnya sarat akan nilai. Terlebih pada pembelajaran agama.

Baca Juga

Pada Al-Qur’an misalnya, murid tidak akan bisa melihat bagaimana gerak bibir guru terhadap makharijul huruf, tidak dapat merasakan bagaimana tata krama terhadap guru untuk memperoleh ilmu, tidak bisa merasakan proses validasi-validasi guru terhadap bacaan-bacaan Al-Qur’an atau keilmuan yang lain.

Hal itu berbanding terbalik di pengajian-pengajian tradisional ala NU yang mengedepankan asas Ta’lim Muta’alim seperti thuluz zaman, panjangnya waktu, atau adanya proses. Maka banyaknya proses yang hilang pada tahap pencarian ilmu di dunia digital ini adalah ancaman bagi kita.

Generasi kita terancam kehilangan spiritualitas dalam mencari ilmu jika kehilangan kesadaran atas diri sendiri. Seperti yang dikatakan Pak Taufik Rahzen, bahwa algoritma kini dapat mengenal diri kita lebih baik ketimbang diri kita sendiri. Manusia juga tidak pernah butuh mengenal dirinya sendiri sepenting sekarang. Juga dengan adanya polarisasi media yang apabila kita tidak memiliki kesadaran atas diri sendiri akan membuat kita tenggelam pada dunia yang dilakonkan oleh Artificial Intelligence. Yang alih-alih menjadi subjek pada dunia realitas kini kita justru menjadi objek dunia digital.

Oleh karena itu, saya jadi mengerti bagaimana Aswaja, seperti yang dikatakan Pak Taufik adalah yang paling siap menghadapi dunia yang telah bergeser seperti sekarang ini. Kekompakan visi dan misi juga kesadaran terhadap pentingnya berguru secara langsung dapat menjadi penyeimbang terhadap arus teknologi dan informasi yang hilir mudik begitu cepat.

Hanya saja, kita perlu mengenal diri kita lebih jauh agar tidak terlena pada kesenangan sesaat dalam proses pencarian ilmu yang begitu instan di dunia digital.

Profil Penulis
Yafi Alfita
Yafi Alfita
Penulis Tsaqafah.id
Kadang menulis, kadang jajan telor gulung, dan kadang-kadang jadi mahasiswa UNY Yogyakarta.

5 Artikel

SELENGKAPNYA