Begini Cara Menyikapi Toxic People menurut Al-Qur’an

Begini Cara Menyikapi Toxic People menurut Al-Qur’an

09 Juli 2023
937 dilihat
3 menits, 32 detik

Tsaqafah.id – Al-Qur’an sebagai sumber ajaran agama Islam memberikan panduan yang komprehensif dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam menyikapi perilaku toxic people.

Apa itu Toxic People?

Kata toxic berasal dari bahasa Inggris yang berarti beracun, sinonimnya berbisa, mematikan, berbahaya. Jadi, toxic people adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada sifat atau perilaku seseorang yang membawa pengaruh buruk terhadap orang lain, baik secara fisik maupun emosional.

Orang-orang yang dikategorikan sebagai toxic people memiliki beberapa karakteristik, di antaranya memiliki pandangan negatif terhadap kehidupan, suka memanipulasi situasi untuk kepentingan pribadi, selalu berkeinginan mengendalikan orang di sekitarnya, cenderung mengkritik dan meremehkan orang lain, senang dengan drama dan seringkali menciptakan atau ikut serta dalam konflik dan pertikaian.

Toxic People menurut Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an istilah toxic tidak digunakan secara khusus, melainkan terdapat beberapa petunjuk tentang karakteristik dari seseorang yang dikategorikan sebagai toxic people.

Seperti dalam surah al-Isra’ [17]: 37 tentang sifat sombong, “Janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”

Baca Juga

Surah al-Hujurat [49]:12 tentang sifat memfitnah, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain…”

Karakteristik toxic people juga terdapat dalam Al-Qur’an surah al-Maidah [5]:8 tentang sifat permusuhan, surah al-An’am [6]:159 tentang sifat memecah-belah, dan surah al-Hujurat [49]:11 tentang sifat suka mencela.

Bolehkah Membalas Perilaku Toxic People?

Al-Qur’an surah an-Nisa’ [4]:148,

۞ لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا

Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam tafsir Kemenag dijelaskan bahwa orang yang dizalimi boleh mengemukakan kepada hakim atau penguasa tentang keburukan-keburukan orang yang menzaliminya.

Dalam tafsir Al-Misbah pada surah an-Nisa [4]:137-147 dijelaskan bahwa orang-orang munafik dan sifat buruknya, mereka mengangkat orang-orang kafir sebagai teman dan pembela mereka. Hal ini menimbulkan kebencian umat Islam yang dapat mengundang caci maki dari kalangan kaum muslimin.

Nah, ayat ini menuntun kaum muslimin dengan mengingatkan bahwa Allah Yang Maha Suci tidak menyukai perbuatan buruk yang dilakukan secara terang-terangan menyangkut apapun. Namun, pengecualian terhadap orang-orang yang dizalimi oleh toxic people, mereka itu dibenarkan mengucapkannya dalam batas tertentu.

Baca Juga Quraish Shihab dan Kontroversi Larangan Penyebutan Kafir Bagi Non-Muslim di Eropa

Hal ini bertujuan untuk memperingatkan orang lain akan sikap buruk dan penganiayaan yang telah dilakukan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa pembalasan serta akibat penganiayaan dari yang bersangkutan tersebut harus setimpal. Dengan demikian, ucapan buruk yang diizinkan adalah untuk membela diri, menjelaskan kekeliruan dan penganiayaan yang terjadi, bukan untuk membongkar keburukan dari toxic people.

Kemudian dijelaskan juga pada surah an-Nisa [4]:149,

اِنْ تُبْدُوْا خَيْرًا اَوْ تُخْفُوْهُ اَوْ تَعْفُوْا عَنْ سُوْۤءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيْرًا

Jika kamu menampakkan atau menyembunyikan suatu kebaikan atau memaafkan suatu kesalahan, sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat ini menekankan bahwa ayat sebelumnya yakni ayat 148 bukanlah sebuah anjuran, melainkan hanya izin. Hal ini dikarenakan keinginan membalas merupakan salah satu sikap yang senantiasa menyertai setiap jiwa manusia, sehingga sangat sulit jika ia diwajibkan.

Allah SWT mengizinkan pelampiasan kehendak tersebut melalui ayat yang sebelumnya dan di sini Allah menganjurkan agar seseorang dapat meningkat pada tingkat terpuji dengan meneladani Allah dalam sifat-sifatnya yakni saling memaafkan.

Baca Juga Gen Z dan Paradoks Ustaz Didikan Google

Cara Menyikapi Toxic People dalam surah Ali Imran [3]:134

Sebagian besar orang mungkin pernah terlibat dalam hubungan yang toxic, entah itu terkait pertemanan, asmara maupun lingkungan kerja. Terlibat dalam hubungan toxic pasti menguras tenaga dan pikiran, yang lambat laun bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Lalu, bagaimana Al-Qur’an menyikapi toxic people ini? Mari kita lihat pada penafsiran surah Ali Imran [3]:134 dalam tafsir Al-Misbah,

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Dalam ayat tersebut dikemukakan tiga kelas manusia atau jenjang sikapnya:

Tingkat pertama, mampu menahan amarah yakni menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata buruk atau perbuatan negatif kepada orang yang menzaliminya. Diibaratkan seperti wadah yang penuh air lalu ditutup rapat agar tidak tumpah.

Baca Juga

Tingkat kedua, mudah memaafkan. Memaafkan orang lain sama dengan menghapus bekas luka hatinya akibat kesalahan yang dilakukan orang lain terhadapnya. Pada tingkatan pertama, yang bersangkutan baru sampai pada tahap menahan amarah meskipun bekas-bekas luka itu masih memenuhi hatinya. Maka pada tahapan ini, yang bersangkutan telah menghapus bekas-bekas luka itu, seakan-akan tidak pernah terjadi satu kesalahan, atau suatu apapun.

Tingkat ketiga, Allah mengingatkan bahwa yang disukai oleh-Nya adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, yakni bukan yang sekadar menahan amarah atau memaafkan, tetapi justru yang berbuat baik kepada yang pernah melakukan kesalahan.

Bahkan akan sangat terpuji apabila mereka dapat berbuat kebajikan terhadap seseorang yang telah berbuat kesalahan dan Allah menyukai hal tersebut, yakni dengan melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya tanpa henti untuk orang-orang yang berbuat kebajikan.

Profil Penulis
Yani Ayunigtyas
Yani Ayunigtyas
Penulis Tsaqafah.id

1 Artikel

SELENGKAPNYA