Tidak ada hari sial dalam kalender. Begitu kata sebagian orang. Apalagi dalam benak anak berusia kurang lebih 6 tahun. Tentu tidak terpikirkan blassss.
Tepat saat bulan Ramadan, saya bersama teman-teman hendak ke masjid yang tak jauh dari rumah kami. Seperti anak kecil pada umumnya, tentu anak kecil ke masjid bukan fokus ibadah, tapi bermain dan bercanda bersama teman-teman. Berlari, makan, dan bersenda gurau dengan suara yang nyaring. Lebih-lebih ketika imam pasca menyelesaikan bacaan Al Fatihahnya, dengan kompak dan nyaring kami bilang, “aamiiiinnnnnnnnnn”. Tentu suara-suara ini membuat geram sebagian orang tua.
Hari itu, sepertinya kami cukup tidak beruntung. Kami mendapat barisan salat tarawih di dalam masjid. Biasanya kami mencari tempat yang tidak dekat dengan guru ngaji, orang tua, dan orang-orang yang sudah kami tandai berwatak ‘galak’ terhadap anak kecil. Tapi hari itu, sepertinya kami tidak menyadari, siapa yang salat di dekat kami. Bah hari-hari biasanya, kami tetap bersenda gurau, saling mengganggu, dan sudah pasti, suaranya nyaring sekali.
Dua rakaat tarawih terlewati, tepat sekali setelah salam. Sosok ibu-ibu depan kami segera membalikkan badannya dan berkata: “Kon mari keleleken kran a Rek? Rame ae neng masjid (kamu habis ketelan kran (air) apa? Berisik saja di masjid)”.
Bagai di sambar petir, kami langsung terdiam. Tidak berani berisik, apalagi sampai tingkah. Salat tarawih terasa tegang hingga akhir. Untungnya, itu tidak membuat kita kapok ke masjid, hanya menghindari ibuk itu di kesempatan berikutnya.
Baca juga:
- Muhammad Al-Fayyadl: Seluruh Dunia sebagai Darul Dakwah bagi Umat Islam (3)
- Keistimewaan Masjid Al Aqsa
Di Ramadan-Ramadan berikutnya, saya salat di masjid yang lain. Tenang, di masjid ini saya tidak akan membuat kerusuhan, karena salat sebelah ibu haha. Sebelum ke masjid, tebakan saya seperti masjid yang lain, anak-anak dengan bebasnya bersenang-senang di masjid. Tapi dugaan saya salah. Masjid sepi sekali dari anak kecil. Mayoritas isinya orang dewasa hingga lansia. Setelah beberapa kali menghabiskan Ramadan di situ, saya baru mengetahui jika orang-orang tua di masjid itu cukup galak terhadap anak kecil. Oleh sebab itu tak banyak anak kecil yang pergi ke masjid. Semua kegiatan masjid dari azan, pujian atau selawatan hingga yang bertindak menjadi imam, diisi oleh orang dewasa.
Hal yang berbeda, ketika saya salat di masjid yang lain lagi. Anak-anak banyak yang pergi ke masjid. Setiap mereka berisik, hampir saya tidak melihat ada yang menegur. Bahkan ketika ada acara, mereka dilibatkan, dari mengaji, azan, dan sholawat. Setiap ada momen, mereka juga sama diprioritaskan layaknya orang dewasa. Diberi konsumsi sendiri ketika pengajian. Di tempat lain saya mendengar dari teman, bahwa anak kecil bukan prioritas konsumsi pengajian. Mereka mendapat konsumsi setelah semua orang dewasa mendapatkannya.
Suatu ketika, hujan disertai angin kencang melanda tempat tinggal saya. Beberapa genteng rumah warga turun, plafon jebol, rumah roboh dan air hujan masuk ke rumah-rumah warga. Dalam keadaan yang cukup membuat takut, saya yakin anak-anak juga merasakan ketakutan. Hujan dan angin berhenti tepat sebelum magrib. Dalam keadaan yang juga mati lampu, anak-anak tetap berangkat ke langgar. Pasca azan, mereka tetap seling berebut mikrofon untuk melantunkan pujian-pujian.
Baca juga Semangkuk Bakso Sebelum Ramadan
Hal ini mengingatkan pada video almarhum K.H. R. Muhammad Najib Abdul Qodir Krapyak yang melayani anak kecil untuk bersalaman dengan beliau dan video Habib Luthfi Pekalongan yang sedang mengusili anak kecil dalam suatu majelis. Dua ulama ini tampak begitu ramah dengan anak kecil. Guru saya pernah berkata, “jangan remehkan doa-doa anak kecil, mereka yang polos itu lebih sedikit dosanya, dan doanya lebih mustajab”.
Rasulullah dan Anak-Anak
Ngomong-ngomong tentang masjid dan anak, sebenarnya Nabi Muhammad Saw juga pencinta anak kecil. Dalam suatu riwayat, diceritakan bahwa Rasulullah Saw sering bermain, memeluk, dan mencium anak-anak. Nabi pernah menggendong Husein, Hasan, dan Umamah di masjid.
Pada riwayat yang lain,
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ, وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا, فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ, ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى, فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا. قَالَ أَبِي فَرَفَعْتُ رَأْسِي, وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ, فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي, فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا, حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ, أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ. قَالَ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ, وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي, فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ [رواه النسائي و أحمد
“Dari Abdullah bin Syaddad dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah SAW keluar kepada kami pada salah satu shalat Isya, dan beliau sedang menggendong Hasan atau Husain. Rasulullah SAW maju dan meletakkannya, kemudian bertakbir untuk shalat dan shalat. Beliau sujud di antara dua rakaat shalatnya dengan sujud yang lama. Ayahku berkata: “Aku mengangkat kepalaku, dan ternyata anak itu berada di punggung Rasulullah SAW saat beliau sujud, maka aku kembali ke sujudku.” (H.R. Nasai dan Ahmad).
Selain itu, diceritakan pada suatu hadis, Rasulullah pernah mempercepat salatnya karena mendengar tangisan bayi.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ
Artinya; “Ali bin Abdullah berkata, Yazid bin Zurai’ berkata, Sa’id berkata, Qatadah berkata, Anas bin Malik berkata, Nabi SAW bersabda, “Saya pernah masuk ke dalam salat dan saya ingin memperpanjangnya, tetapi saya mendengar tangisan bayi, maka saya memendekkan salat saya karena saya tahu betapa sedihnya ibunya karena tangisannya.”
Cerita-cerita di atas semoga bisa menjadi refleksi orang dewasa di masjid. Baik yang berdalih karena khusyuk ibadah atau syiar Islam dengan mengeraskan volume mikrofon masjid. Agar anak kecil tidak takut pergi ke masjid, mungkin ada beberapa hal nih yang bisa kita perhatikan sebagai orang dewasa. 1. Buat masjid senyaman mungkin untuk anak-anak, 2. Bagi orang tua, jangan lupa untuk selalu mendampingi anak ketika di masjid, 3. Libatkan anak kecil dalam berbagai kegiatan masjid, baik yang harian maupun multievent seperti peringatan hari besar Islam. Tips-tips lainnya coba tanyakan AI, karena saya belum menemukan solusi untuk ibuk-ibuk yang memarahi saya, agar lebih sabar terhadap anak kecil. Haha.

