Seluas Apa Sih Rumah Kita?

Seluas Apa Sih Rumah Kita?

06 Maret 2025
467 dilihat
2 menits, 55 detik

Tsaqafah.id – Sepertinya peluang memiliki rumah bagi generasi baru tak sebesar pledoi yang terhampar di hampir setiap lirik lagu. Peluang itu kecil. Sekecil menaruh harapan agar pejabat fans emyu berhenti ber-memorabilia. 

Ada rumus begini,”kalau ga bisa beli gudang garam, gudang baru oke”.

Segala problema yang terdiri dari kemerosotan, tak ubahnya berebut perhatian untuk menelan baik-baik pil pahit birokrasi. Kadar sadar yang terpiuh oleh hilangnya kepercayaan jadi boomerang untuk mengatakan hidup akan baik-baik saja. Padahal bobrok.

Bahasa birokrasi untuk mengatakan agar anak-anak dijauhkan dari gadget dan media sosial misalnya, memperjelas luas petak dari bagaimana hidup harus berujung pada kata mapan. 

Siapa sih yang menolak mimpi hidup berkecukupan? 

Praktisnya begini. Untuk bisa menjauhkan pengalaman digital anak di usia belia, setidaknya dibangun dari rumah. Institusi keluarga. Lantas, seluas apa sih rumah kita? 

Baca Juga Mereka Masih Benci Kita

Lanskap rumah menyangkut lanskap penghuninya. Begitu halnya alam pikiran rumah menyangkut alam pikiran penghuninya. Di dalamnya ada anak-anak, remaja, manusia dewasa, orang tua, suami-istri, hingga menyangkut alam pikiran hewan piaraan. 

Seluruh alam pikiran itu tumbuh, beranak pinak dan menjadi semacam suluh. Tapi tetap saja, semua diatur oleh mereka yang punya kepemilikan dan dari situ norma terbentuk. 

Kita usahakan rumah itu. 

Dari depan tampak sederhana. 

Tapi kebunnya luas. 

Tanamannya mewah, megah. 

Nyanyi dulu ngga sih…

Saya lahir-besar di rumah bersama enam bersaudara. Kalau semua sedang kumpul apa-apa selalu berbagi. 

Semasa kecil banyak waktu habis di ruang tengah, dapur dan ruang depan. Semua peristiwa menumpuk di ruang tengah. Marah, perkelahian, ketawa, lapar, kenyang, tangis, semua terhampar di situ. Kami berbagi dari berkat sampai tontonan. 

Baca Juga Salah Parkir

Gadget tiba. Semua berbagi gadget. Pemakaian gadget masih di taraf biasa-biasa saja sampai lama-lama gadget yang melorotin waktu. Tontonan yang sedarinya di tv, sudah berganti ke gadget. Industri tarik ulur merebut valuasi. Rumah tak sehangat dulu ketika hujan semua berkumpul di ruang depan, ngemil singkong dan menyeduh teh, seperti dulu lagi. 

Judul itu muncul ketika tapping podcast GP Ansor, banyak hal dibahas. Perihal media sosial, #KaburAjaDulu, UU Pembatasan Media Sosial, parenting dan peristiwa lain yang beririsan dengan ketiga fenomena tersebut. 

Nahdlatul Ulama yang terbiasa merespon isu-isu teraktual itu, membawa UU pembatasan media sosial di helatan Munas Alim Ulama Februari 2025 silam, yang mana diputuskan bahwa batas usia anak bermedia sosial harus segera berbuah regulasi. 

Idris Masudi selaku Sekretaris Komisi Bahtsul Masail Qonuniyah menyampaikan urusan konten negatif yang tersebar di gadget tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab orang tua di rumah, melainkan negara juga mestinya terlibat dalam meminimalisir konten-konten negatif. 

Baca Juga Ekonomi Tabarruk

“Selain itu, pemerintah juga harus membuat aturan tegas untuk melindungi seluruh lapisan masyarakat dari bahaya medsos seperti konten kekerasan, pornografi, dan perundungan di ruang digital (child online protection),” kata Idris Masudi. 

Tapi lagi-lagi, berharap kepada pemerintah itu seperti makan padang kala puasa di siang menyengat. Enak sih, tapi ya gitu-gitu aja. Toh kamu harus mengganti puasa itu sendiri. Bukan pemerintah yang lunasin tu utang puasamu. 

Pengalaman menjaga anak dari jangkauan gadget dialami oleh kolega saya yang baru memiliki satu anak usia 5 tahun. Semoga nambah lagi. 

Dalam hal konsumsi digital, ia menerapkan prinsip reward and punishment. Misal ketika dia sudah mengkhatamkan satu Iqra’ dia boleh menonton youtube atau term hiburan lainnya. 

Baca Juga Hidup, Bangkit dengan Nasihat dan Wejangan

Menariknya, itu dilakukan dengan metode negosiasi terlebih dahulu. Misal pengin nonton youtube 20 menit, tapi bapaknya minta 10 menit saja, anaknya ngga mau maka diputuskan menonton selama 15 menit. Begitu seterusnya.  

Kata temanku, ibu sangat berpengaruh dalam mendidik anak. Seperti yang sudah kusebut di awal, alam pikiran anak menular dari orang tua dan sebaliknya. 

Jadi seluas apa sih rumah kita? Seluas hati ibu. Ibu, adalah simbol rumah yang paling relevan. Norma yang dibangun di rumah, pada dasarnya adalah norma ibu. Dapur, keuangan, ruang tengah, ruang depan, logistik, semua kebutuhan-kebutuhan itu berada di tampuk kepemimpinan tertinggi seorang ibu.  

Seperti kata Orkes Pensil Alis, mobilku berjalan jauh, tapi hidupku kembali ke ruang tengah. 

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
penulis lepas.

44 Artikel

SELENGKAPNYA