Bagaimanapun, Tetap di Jalan-Nya 8 Maret 2025 di Jakarta merupakan konser dari band yang kugrafis sebagai band kehilangan yang pertama kali kunikmati.
Tsaqafah.id – Peristiwa heroik tak akan tercapai tanpa tekad bulat. Pada dasarnya, tak harus heroik, membuat arti hidup kian berkesan saja sudah lebih dari cukup. Niatan heroik hanya akan membuatmu beranggapan kalau berlebih-lebihan itu baik.
Peran heroik dibutuhkan hanya pada saat tertentu, saat-saat yang memang perlu. Butuh momentum. Sementara generasi kita tercipta untuk menciptakan momentum. Dan kalaupun dipaksa, moment itu ada tapi tak berdengung.
Toh menikmati hidup hanya perlu semangat yang disiram dengan kaidah serumpun sepenanggungan. Artinya, menikmati kehendak hidup dengan niatan untuk menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Baca Juga Default Afiliasi
Seperti halnya gairah untuk menikmati lantunan ayat-ayat langsung dari perawinya:
“Sebutlah nama-Nya, tetap di jalan-Nya. Kau akan mengingat. Kau terus teringat.”
Riwayat Perunggu.
Gairah menikmati butiran riwayat itu lahir dari keresahan tak terperi dari merawat mimpi yang tak kunjung tercapai. Ada sesal yang tersisa dari melewatkan hidup tanpa mimpi, meski toh, mimpi tak harus berujung pada materi. Seperti menikmati sentuhan artsy dan juga rabbani dari band pulang ngantor tersebut.
Sentuhan yang Perunggu torehkan pernah kugrafis sebagai sentuhan-sentuhan dari hidup yang menghadapi lara kehilangan. Bagi Perunggu, kehilangan justru membawa kita untuk senantiasa mengingat saripati hidup yang telah dipancangkan olehNya sejak sebelum kita ada.
Baca Juga Seluas Apa Sih Rumah Kita?
Pahit-getir pengalaman hidup hanyalah setitik nila di luasnya belanga, tak bikin rusak, mengubah jenis airnya menjadi air mustakmal misalnya, apalagi.
Bagaimanapun, Tetap di Jalan-Nya 8 Maret 2025 di Jakarta merupakan konser dari band yang kugrafis sebagai band kehilangan yang pertama kali kunikmati. Jauh sebelum itu, cara menikmati hanya berhenti pada taraf mendengar dan menghafalkan. Tak lebih.
Sementara hampir empat tahun hidupku habis dari panggung ke panggung, namun bayangan untuk melihat konser, baru terbentuk di hampir dua tahun terakhir. Saat lara kehilangan itu mulai nyata dan membekas.
Baca Juga Mereka Masih Benci Kita
Kehilangan apa saja. Dalam riwayat yang lain, Perunggu berujar;
“Kurasa batinku takkan pernah siap terima salam pamitmu”
Jadi semacam pengingat kalau kehilangan itu tak harus menghendaki sebuah kata pamit. Bisa jadi ia hilang tanpa pamit, dengan pamit, dan sungguh-sungguh pamit.
Rasio hidup yang lebih hidup kemudian ditandai dengan seberasa ikhlas menghadapi kehilangan-kehilangan berikutnya dengan melapangkan dada, berbesar hati atas segala peristiwa yang menerpah.
Toh hidup yang diperjuangkan adalah hidup yang dimenangkan tak selalu berarti kemenangan secara harfiah, melainkan kemenangan secara maknawiah. Karena ganjaran akan melekat pada mereka yang punya niatan untuk berjuang.

